Kamis, 14 April 2016

Yami no Ai: AFTER WOLRD [Chapter 9]

CHAPTER 9: NIGHT OF CLASS FEST

Keheningan memenuhi ruang kelas yang telah disulap menjadi rumah hantu. Setiap detik sama sekali tak terlewatkan bagi Haru Natsume untuk memeluk miliknya lebih erat.
Cukup lama. Hingga—“Haru-kun?”
Panggilan sebuah nama yang seharusnya bukan namanya, membuat dirinya tersadar dari rasa mabuk atas rindunya pada pelukan istrinya.
Sementara pelukanya meregang, Hana mengambil kesempatan itu untuk mengangkat wajahnya yang tadi sudah sempurna terbenam di dalam dada bidang Haru Natsume, menatap pria itu kebingungan. “Kenapa memelukku?”
Seketika itu sadarlah Haru Natsume atas tindakan bodohnya. Bagaimana mungkin dia bisa lepas kontol dan memeluk Hana!? Saat itu juga dilepaskannya rengkuhannya.
“Maaf. Maafkan atas kelancangan saya!” Haru Natsume menundukan kepalanya dalam.
“Eh? Ah… T-tidak. A-Aku tidak apa. Angkat kepalamu Haru-kun!” Hana semakin kebingan saat melihat pelayannya ini menundukan kepala dalam di area sekolah yang rawan. Bagaimana jika ada yang melihat?
Mendengar itu, Haru Natsume segera mengangkat kepalanya.

[Yami no Ai]

Lorong kelas sudah cukup gelap. Jarum panjang jam yang berada di tiap-tiap kelas telah menunjuk pada angka tujuh.
Tapi berbeda dengan keadaan di luar. Lebih tepatnya di lapangan utama Mirai no Gakoo. Temaran cahaya yang dihasilkan oleh api unggun raksasa yang diletakan di tengah lapangan cukup untuk memberi penerangan pada acara puncak festival kelas. Yaitu menari di tengah api unggun. Acara di mana pasangan-pasangan menari mengelilingi api unggun.
Derap langkah kaki menggema memenuhi lorong yang sudah hampir tak berpenghuni, tentu saja, kebanyakan siswa sudah banyak yang berkumpul di lapangan. Haru Natsume setelah menaiki tangga menuju lantai dua, segera bergegas menuju ruang kelasnya. Di dalam kepalanya hanya berisi sebuah subjek. Kuroto Hana, istrinya. Mengingat kejadian tadi siang, sepertinya mental istrinya itu agak menurun. Ia harus segera menemui istrinya saat ini. Sialan dengan tugas dadakan yang diminta oleh ketua komite untuk membuang sampah tadi. Berperan sebagai manusia normal benar-benar bisa membuat emosinya meningkat.
Akhirnya, kakinya berbelok memasuki kelasnya yang anehnya dalam keadaan gelap, “My Lad—“
Tidak ada. Kuroto Hana tidak ada. Tidak ada sosok istrinya yang sedang duduk menjaga stan kelasnya.
Kemana perginya Hana? Apa kondisinya semakin memburuk mengingat sekarang sudah waktunya acara utama? Berbagai spekulasi buruk bergema di kepala Haru Natsume.
“Haru-kun!”
Mendengar namanya terpanggil, kepala putihnya secepat mungkin menoleh ke arah suara.
Seorang perempuan berambut hitam panjang berdiri tepat di depan pintu kelas.
Seharusnya ia tahu. Itu bukanlah suara Hana. Tapi dalam keadaan sebingung ini, ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Sekarang seorang perempuan dengan seragam yang menandakan ia adik kelasnya dua tingkat di bawahnya berdiri di depan pintu. Dengan suatu kemauan yang sudah Haru ketahui dengan mudah.
“Haru-kun… namaku Takane Sakura,” perempuan itu menundukan kepalanya hormat, “mungkin Haru-kun tidak mengenalku. Tapi aku selalu memperhatikan Haru-kun.”
Dengan perlahan perempuan itu mendongkakkan kepalanya menatap Haru walau posisi badannya tetap membungkuk. “Haru-kun… aku menyukaimu.”
Dan perlahan Takane Sakura menegakkan posisinya. Berjalan mendekat ke arah Haru Natsume. Selama itu kedua tangannya sibuk menarik dasi yang mengikat lehernya. Melepas kancing blazernya. Melepas beberapa kancing teratas seragamnya. Memperlihatkan kedua payudaranya yang memang terbilang berukuran di atas rata-rata remaja seumurannya.
“K-kita tidak perlu menari untuk m-membuktikan jika kita sepasang kekasih… Haru-kun… ayo ke ruang peristirahatan…,” dengan wajahnya yang memerah ia mendekatki Haru Natsume.
“….” Haru Natsume hanya mendukkan kepalanya. Ia sudah muak dengan semua ini. Ia harus segera menemukan istrinya sekarang!
Takene Sakura mulai menggenggam tangan Haru. Mengarahkannya pada salah satu payudaranya. “… lakukan apa yang Haru-kun…”
PLAK
Tanpa peduli, Haru mengibatkan tangannya dengan kasar dari sentuhan pada payudara Takane.
“Pergilah.” Setelah mengatakan hal sedingin itu, Haru Natsume berjalan meninggalkan kelas. Berniat mencari Hana di tempat lain. Tanpa memperdulikan Takane Sakura yang sudah menjatuhkan dirinya karena baru saja ditolak dengan taruhan harga diri perempuannya.
Sudah beberapa tempat di kelas yang sekiranya berbahaya telah ia datangi. Tidak ditemukan tanda-tanda Hana sama sekali. Haru Natsume sangat khwatair. Khawatir jika Hana melakukan hal-hal gila untuk mengatasi rasa putus asanya seperti tempo hari, menabrakan kepalanya pada tembok.
Hanya satu tempat yang belum di datanginya. Lapangan tenpat diselenggarakannya acara utama. Kemungkinan hanya di situ hanya berada.
Ketiga sahabat Hana, Yui pasti bersama Ida, Shiro akan bersama Hide, Maki sendiri mungkin akan bersama kakaknya bergandengan tangan menatap kobaran api unggun.
Acara Utama pada festival kelas selain berdansa juga bisa dilakukan dengan bergandengan tangan menatap api unggun. Hal itu merupakan symbol adanya sebuah ikatan namun bukanlah sepasang kekasih. Sebuah ikatan saling menyayangi. Bisa dilakukan oleh sebuah keluarga, dan sebuah persahabatan (namun hanya bisa dilakukan dengan jenis kelamin sama). Apabila dua orang berbeda gender bergandengan tangan menatap api unggun, itu menggambarkan sebuah rencana di masa depan untuk menjalin sebuah ikatan.
Haru Natsume melangkah keluar dari lorong kelas. Mata azure-nya segera menjelajah seluruh ruang di lapangan. Mengamati setiap wajah yang ada. Mencari sosok istrinya.
Saat itu juga. Kedua matanya terbelalak lebar. Dibarengi dengan denyutan pada dadanya.
Kuroto Hana, istrinya, tengah berada dalam jarak beberapa meter darinya. Menghadap api unggun dengan senyum di bibirnya. Tangannya berandengan dengan tangan Guren Ishikawa.
“My… Lady…” bibirnya berguman kosong.
“Ha ha ha…” dilanjutkan sebuah tawa kosong.
Bagaimana dirinya bisa berpikir terlalu jauh yang sekarang terlihat sebagai suatu kebodohan? Mengkhawatirkan Hana akan sangat terpuruk karena dirinya. Nyatanya, Hana sekarang tengah tersenyum bahagia bergadengan tangan dengan pria lain.
Kepalanya tertunduk dalam. Sementara tangannya meremat erat bagian dadanya yang terus berdenyut sakit.
Tidak kuat dengan apa yang ia lihat, Haru memutuskan untuk kembali memasuki lorong kelas.
Nafasnya seolah memendek, dadanya terus terasa sesak, padahal seharusnya ia sama sekali tak membutuhkan nafas untuk hidup. Seluruh tubuhnya bergetar kecil. Hingga membuat dirinya tak kuasa menyangga tubuhnya sendiri, mengharuskannya untuk bersandar pada tembok.
“Haru-kun…”
Untuk sekali lagi. Takane Sakura muncul di hadapan Haru.Seluruh seragamnya telah tertata rapi. Kali ini raut wajahnya menandakan kekhawatiran pada perilaku Haru.
“Haru-kun… baik-baik saja?” Sedikit takut akan sikap Haru sebelumnya, Takane Sakura perlahan-lahan mendekati Haru.
Benar-benar sialan. Sementara di depannya tersaji sebuah daging yang siap ua santap kapan saja, ia harus menahan diri jika ia milik seseorang. Namun seseorang itu malah bergandengan tangan dengan pria lain yang seharusnya tak ia lakukan.
Rasa kesal, marah, cemburu, benci, kecewa, penyesalan, iri, dan kegilaan mengguncahnya.
Ingin sekali ia bertindak sesuatu yang bisa menghentikan kegiatan Hana dan Guren sekarang. Tapi siapa dirinya sekarang? Dia hanya Haru Natsume yang tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu. Lain lagi jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Benar juga… jika dirinya Kuroto Yoshiki, hal ini tidak akan terjadi. Hana tidak akan bergandengan tangan dengan Guren. Hana akan menari dengannya mengelilingi api unggun. Namun sekali lagi… itu jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Bukan Haru Natsume.
“Aku sudah menyuruhmu pergi. Jangan buat aku mengulangi lagi,” begitu bibirnya menggumankan kalimat dingin lagi, Haru Natsume berjalan meninggalkan Takane Sakura. Entah ke mana.

[Yami no Ai]

“Kuroto Hana!”
“Ah? Ya?” Hana yang baru saja meminjam beberapa peralatan seperti selotip dan cutter dari kelas sebelah tengah berjalan di lorong kelas saat namanya terpanggil.
Saat kepalanya berbalik retinanya menangkap bayangan Guren Ishikawa. “Guren Ishikawa-san!” Hana tersenyum cerah.
“Kenapa tidak menyapaku tadi?” Guren berdiri tepan di depan Hana.
“Ah! Maafkan aku!” Hana menundukkan kepalanya.
“Hei hei tidak masalah,” Guren menjadi salah tingkah melihat sikap Hana.
“Apa hanya perasaanku? Sikapmu menjadi berbeda… tidak se’heboh’ dulu… kamu menjadi agak kalem dan sopan…” Guren melanjutkan kalimatnya begitu Hana telah kembali pada posisinya.
“M-menurut anda begitu…” Hana sweatdrop.
“Permisi. Kami dari Kedai Takoyaki. Jika berminat kelian bisa mampir. Kami juga menyajikan beberapa milkshake gratis jika kalian beruntung. Setelah pembelian satu kotak Takoyaki kalian diizinkan mengambil undian milkshake,” seorang perempuan yang sepertinya berada pada satu tingkat di bawah Hana datang dengan membawa sebuah brosur mengenai stan kelasnya.

[Yami no Ai]

“Tak kusangka kita akan sama-sama dapat Milkshake bonus!” Hana tersenyum renyah.
“Benar juga ya. Ini lumayan.” Guren Ishikawa memasukan Takoyaki ke dalam mulutnya.
“Aku cukup kaget saat Guren-san datang ke sekolahku. Apalagi sebagai sponsor utama,” Hana membuka pembicaraan.
“Yaah… aku juga cukup kaget bertemu denganmu di sini. Ini… kamu pasti tahu… ini soal bisnis…” Guren mengendikan bahunya bersamaan.
“Aku tahu itu…” Hana membalas candaan pada kalimat Guren.
“Tapi aku senang. Sekolah ini mengingatkanku pada masa-masa sekolah dulu.”
“Nostalgia yang indah sepertinya…”
“Tidak juga. Aku agak pendiam saat bersekolah dulu. Menjadi siswa paling pecundang yang pernah ada. Saat Festival kelas pun aku hanya menjadi tukang kebersihan.”
“Eh…” Hana sedikit terhenyak.
“Menyedihkan sekali…”
Dalam lubuk hati Hana sekarang, Hana tengah sweatdrop. Sudah ia duga Guren akan mengalami hal itu. mengingat betapa bodohnya ia bertemu Guren dulu di tempat pemotongan rambut. Potong rambut saja ia takut.
“Seharusnya jika itu buruk, tidak perlu diingat-ingat lagi,” saran Hana.
“Hahaha benar juga. Omong-omong siapa pasanganmu untuk acara utama nanti?”
Pertanyaan Guren seketika membuat Hana sedikit tercekat.
“Ah… itu… a-aku tidak mempunyainya…” Hana menggaruk pipinya ragu.
“Oh? Benarkah? Lalu pria yang kemarin di tempat potong rambut?”
“Oh? Natsume-kun? Dia temaku. DIa juga satu kelas denganku.” Walaupun sebenarnya Haru Natsume adalah pelayan Hana.
“Begitu…”
“Ya,” Hana tersenyum.
“Kalau begitu… boleh aku meminta sesuatu darimu?” secara tiba-tiba tatapan dari Guren Ishikawa menatap Hana intens.
“Permintaan apa?” Hana sempat ragu.
“Mau menemaniku saat acara puncak? Aku diberi suatu kehormatan untuk menutup acara ini. Tentu saja aku juga harus menikmati acara utama.”
“Eh? T-Tapi kenapa aku? M-makusdku bukankah ada banyak siswi di sini yang cantik.”
“Karena hanya kamu yang ku kenal. Lagipula aku juga sudah keceplosan membicaran masa lalu burukku padamu. Kuharap kamu mau membantuku.” Guren terlihat lesu.
“Memangnya kita harus melakukan apa?” Hana kebingungan.
“Hmm… kita tidak mungkin menari—“
“TENTU SAJA TIDAK MUNGKIN!!” Hana menyela dengan wajahnya yang sangat memerah.
“Bagaimana dengan bergandengan tangan saja?”
Hana terdiam untuk berpikir beberapa saat. Rasa kasihannya pada Guren atas masa lalunya membuat Hana cepat menganggukan kepala setuju.

[Yami no Ai]

Di sini lah mereka berdua sekarang. Bergandengan tangan menatap terang dan panasnya kobaran api unggun. Sesekali beberapa pasangan siswa-siswi menari di depan mereka.
“Jadi seperti ini rasanya menikmati acara utama…” Guren berguman pelan.
Hana hanya menatap dan tersenyum menatap Guren. Turut bahagia atas apa yang Guren rasakan. Walaupun dalam hati Hana agak sweatdrop. Tidak menyangka, CEO sukses ternyata baru merasakan rasa senang acara utama festival kelas di umurnya ini.
“Hei lihat. Bukankah itu Kuroto Hana? Dia bersama Guren Ishikawa!”
“Wah benar! Astaga mereka berniat mengikat sebuah hubungan?”
“Tak kusangka Kuroto Hana bisa mengenal Guren Ishikawa!”
“Bagaimana mungken Guren Ishikawa tertarik pada Kuroto Hana!?”
“Jangan-jangan dia seorang Gay yang akan tobat. Tapi tidak bisa menghilangkan fetishnya yang aneh itu. Sehingga dia memilih Kuroto Hana yang tomboy?”
“Harapanku sirna.”
“Guren Ishikawa bodoh!”
Sementara itu sekelompok perempuan yang terebar di seluruh penjuru lapangan mulai mengeluarkan opini mereka saat tatapan mereka terarah sempurna pada Guren dan Hana.
Hana terserang rasa bergidik secara tiba-tiba.
“Ha ha ha…” Hana tertawa hambar dan sweatdrop.
Siapa sangka menggandeng Guren Ishikawa akan semenyusahkan ini?
Tunggu dulu. Rasanya seperti déjà vu. Dulu hal seperti ini pernah terjadi.
Pagi harinya di Mirai no Gakko seluruh siswi digemparkan dengan sebuah kejadian yang luar biasa. Tentu saja kalau bukan idola mereka--Yoshiki Kuroto--menggandeng tangan seorang gadis berdada rata, berambut pendek, tidak stylis, dan hyperactiv.
Beratus tatapan mengarah tepat kepada Hana. Dari ekspresi marah sampai ekspresi meremehkan terus menghujam kedapa Hana.
'Ha ha ha' tawa Hana hambar. 'siapa sangka digandeng Yoshiki di tempat seperti ini bisa membunuhku' batin Hana.
"Hn" nampaknya si idola tidak peduli dan dengan santainya menggandeng--ah mungkin bagi Hana menarik--Hana.
Kedua sapphire Hana terbelalak lebar. Yoshiki. Yoshiki. Yoshiki.
Ini salah. Ia tak boleh melakukan ini.
Tangannya melepaskan paksa genggaman hangat Guren. Membuat pria itu terkaget dengan tindakan Hana.
“Hana? Ada apa denganmu?” Guren kebingungan.
“M-Maaf! Aku tidak bisa melakukan ini!” Begitu kalimatnya selesai, Hana berlari meninggalkan Guren yang hanya bisa menatap Hana dengan kernyitan pada alisnya.
Bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini? Suaminya tengah berusaha melawan para Exorcist sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa bersenang-senang dengan Guren Ishikawa!?
“Maaf… Yoshiki-kun…” butiran-butiran air mengalir dari sudut pelupuk mata Hana.

[Yami no Ai]

Guren Ishikawa masih terdiam di posisinya. Membelakangi api unggun dan menatap ke arah terakhir ia melihat Hana menghilang dalam larinya.
Rambutnya yang seharusnya tertata rapi, berjatuhan menutupi matanya. Tangannya meremat udara dengan kuat.
“Hei… ada apa dengan Kuroto Hana?”
“Dia berlari masuk ke bangunan?”
“Sepertinya dia menangis tadi.”
“Menangis? Kenapa?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
Beberapa perempuan yang bergerombol tadi meneruskan gossip-gossip mereka.

‘Untuk sejenak aku bisa merasakan kebahagiaanku saat menggenggam tanganmu. Dan sekarang aku kembali merasa sendiri di tengah kerumunan ini. Senyumu… menyelamatkanku. Kau memberiku kebahagiaan. Apa yang membuatmu terusik hingga kau pergi meninggalkanku? Aku harus mencari tahu itu… karena kau adalah takdirku. Kuroto Hana,’ batin Guren Ishikawa yakin.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.