CHAPTER 9: NIGHT OF
CLASS FEST
Keheningan memenuhi ruang kelas yang telah disulap menjadi
rumah hantu. Setiap detik sama sekali tak terlewatkan bagi Haru Natsume untuk
memeluk miliknya lebih erat.
Cukup lama. Hingga—“Haru-kun?”
Panggilan sebuah nama yang seharusnya bukan namanya, membuat
dirinya tersadar dari rasa mabuk atas rindunya pada pelukan istrinya.
Sementara pelukanya meregang, Hana mengambil kesempatan itu
untuk mengangkat wajahnya yang tadi sudah sempurna terbenam di dalam dada
bidang Haru Natsume, menatap pria itu kebingungan. “Kenapa memelukku?”
Seketika itu sadarlah Haru Natsume atas tindakan bodohnya.
Bagaimana mungkin dia bisa lepas kontol dan memeluk Hana!? Saat itu juga
dilepaskannya rengkuhannya.
“Maaf. Maafkan atas kelancangan saya!” Haru Natsume
menundukan kepalanya dalam.
“Eh? Ah… T-tidak. A-Aku tidak apa. Angkat kepalamu
Haru-kun!” Hana semakin kebingan saat melihat pelayannya ini menundukan kepala
dalam di area sekolah yang rawan. Bagaimana jika ada yang melihat?
Mendengar itu, Haru Natsume segera mengangkat kepalanya.
[Yami no Ai]
Lorong kelas sudah cukup gelap. Jarum panjang jam yang
berada di tiap-tiap kelas telah menunjuk pada angka tujuh.
Tapi berbeda dengan keadaan di luar. Lebih tepatnya di
lapangan utama Mirai no Gakoo. Temaran cahaya yang dihasilkan oleh api unggun
raksasa yang diletakan di tengah lapangan cukup untuk memberi penerangan pada
acara puncak festival kelas. Yaitu menari di tengah api unggun. Acara di mana
pasangan-pasangan menari mengelilingi api unggun.
Derap langkah kaki menggema memenuhi lorong yang sudah
hampir tak berpenghuni, tentu saja, kebanyakan siswa sudah banyak yang
berkumpul di lapangan. Haru Natsume setelah menaiki tangga menuju lantai dua,
segera bergegas menuju ruang kelasnya. Di dalam kepalanya hanya berisi sebuah
subjek. Kuroto Hana, istrinya. Mengingat kejadian tadi siang, sepertinya mental
istrinya itu agak menurun. Ia harus segera menemui istrinya saat ini. Sialan
dengan tugas dadakan yang diminta oleh ketua komite untuk membuang sampah tadi.
Berperan sebagai manusia normal benar-benar bisa membuat emosinya meningkat.
Akhirnya, kakinya berbelok memasuki kelasnya yang anehnya
dalam keadaan gelap, “My Lad—“
Tidak ada. Kuroto Hana tidak ada. Tidak ada sosok istrinya
yang sedang duduk menjaga stan kelasnya.
Kemana perginya Hana? Apa kondisinya semakin memburuk
mengingat sekarang sudah waktunya acara utama? Berbagai spekulasi buruk bergema
di kepala Haru Natsume.
“Haru-kun!”
Mendengar namanya terpanggil, kepala putihnya secepat
mungkin menoleh ke arah suara.
Seorang perempuan berambut hitam panjang berdiri tepat di
depan pintu kelas.
Seharusnya ia tahu. Itu bukanlah suara Hana. Tapi dalam
keadaan sebingung ini, ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Sekarang seorang
perempuan dengan seragam yang menandakan ia adik kelasnya dua tingkat di
bawahnya berdiri di depan pintu. Dengan suatu kemauan yang sudah Haru ketahui
dengan mudah.
“Haru-kun… namaku Takane Sakura,” perempuan itu menundukan
kepalanya hormat, “mungkin Haru-kun tidak mengenalku. Tapi aku selalu memperhatikan
Haru-kun.”
Dengan perlahan perempuan itu mendongkakkan kepalanya
menatap Haru walau posisi badannya tetap membungkuk. “Haru-kun… aku
menyukaimu.”
Dan perlahan Takane Sakura menegakkan posisinya. Berjalan
mendekat ke arah Haru Natsume. Selama itu kedua tangannya sibuk menarik dasi
yang mengikat lehernya. Melepas kancing blazernya. Melepas beberapa kancing
teratas seragamnya. Memperlihatkan kedua payudaranya yang memang terbilang
berukuran di atas rata-rata remaja seumurannya.
“K-kita tidak perlu menari untuk m-membuktikan jika kita
sepasang kekasih… Haru-kun… ayo ke ruang peristirahatan…,” dengan wajahnya yang
memerah ia mendekatki Haru Natsume.
“….” Haru Natsume hanya mendukkan kepalanya. Ia sudah muak
dengan semua ini. Ia harus segera menemukan istrinya sekarang!
Takene Sakura mulai menggenggam tangan Haru. Mengarahkannya
pada salah satu payudaranya. “… lakukan apa yang Haru-kun…”
PLAK
Tanpa peduli, Haru mengibatkan tangannya dengan kasar dari
sentuhan pada payudara Takane.
“Pergilah.” Setelah mengatakan hal sedingin itu, Haru
Natsume berjalan meninggalkan kelas. Berniat mencari Hana di tempat lain. Tanpa
memperdulikan Takane Sakura yang sudah menjatuhkan dirinya karena baru saja
ditolak dengan taruhan harga diri perempuannya.
Sudah beberapa tempat di kelas yang sekiranya berbahaya
telah ia datangi. Tidak ditemukan tanda-tanda Hana sama sekali. Haru Natsume
sangat khwatair. Khawatir jika Hana melakukan hal-hal gila untuk mengatasi rasa
putus asanya seperti tempo hari, menabrakan kepalanya pada tembok.
Hanya satu tempat yang belum di datanginya. Lapangan tenpat
diselenggarakannya acara utama. Kemungkinan hanya di situ hanya berada.
Ketiga sahabat Hana, Yui pasti bersama Ida, Shiro akan
bersama Hide, Maki sendiri mungkin akan bersama kakaknya bergandengan tangan
menatap kobaran api unggun.
Acara Utama pada festival kelas selain berdansa juga bisa
dilakukan dengan bergandengan tangan menatap api unggun. Hal itu merupakan
symbol adanya sebuah ikatan namun bukanlah sepasang kekasih. Sebuah ikatan
saling menyayangi. Bisa dilakukan oleh sebuah keluarga, dan sebuah persahabatan
(namun hanya bisa dilakukan dengan jenis kelamin sama). Apabila dua orang
berbeda gender bergandengan tangan menatap api unggun, itu menggambarkan sebuah
rencana di masa depan untuk menjalin sebuah ikatan.
Haru Natsume melangkah keluar dari lorong kelas. Mata
azure-nya segera menjelajah seluruh ruang di lapangan. Mengamati setiap wajah
yang ada. Mencari sosok istrinya.
Saat itu juga. Kedua matanya terbelalak lebar. Dibarengi
dengan denyutan pada dadanya.
Kuroto Hana, istrinya, tengah berada dalam jarak beberapa
meter darinya. Menghadap api unggun dengan senyum di bibirnya. Tangannya
berandengan dengan tangan Guren Ishikawa.
“My… Lady…” bibirnya berguman kosong.
“Ha ha ha…” dilanjutkan sebuah tawa kosong.
Bagaimana dirinya bisa berpikir terlalu jauh yang sekarang
terlihat sebagai suatu kebodohan? Mengkhawatirkan Hana akan sangat terpuruk
karena dirinya. Nyatanya, Hana sekarang tengah tersenyum bahagia bergadengan
tangan dengan pria lain.
Kepalanya tertunduk dalam. Sementara tangannya meremat erat
bagian dadanya yang terus berdenyut sakit.
Tidak kuat dengan apa yang ia lihat, Haru memutuskan untuk
kembali memasuki lorong kelas.
Nafasnya seolah memendek, dadanya terus terasa sesak,
padahal seharusnya ia sama sekali tak membutuhkan nafas untuk hidup. Seluruh
tubuhnya bergetar kecil. Hingga membuat dirinya tak kuasa menyangga tubuhnya
sendiri, mengharuskannya untuk bersandar pada tembok.
“Haru-kun…”
Untuk sekali lagi. Takane Sakura muncul di hadapan
Haru.Seluruh seragamnya telah tertata rapi. Kali ini raut wajahnya menandakan
kekhawatiran pada perilaku Haru.
“Haru-kun… baik-baik saja?” Sedikit takut akan sikap Haru
sebelumnya, Takane Sakura perlahan-lahan mendekati Haru.
Benar-benar sialan. Sementara di depannya tersaji sebuah
daging yang siap ua santap kapan saja, ia harus menahan diri jika ia milik
seseorang. Namun seseorang itu malah bergandengan tangan dengan pria lain yang
seharusnya tak ia lakukan.
Rasa kesal, marah, cemburu, benci, kecewa, penyesalan, iri,
dan kegilaan mengguncahnya.
Ingin sekali ia bertindak sesuatu yang bisa menghentikan
kegiatan Hana dan Guren sekarang. Tapi siapa dirinya sekarang? Dia hanya Haru
Natsume yang tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu. Lain lagi jika dirinya
adalah Kuroto Yoshiki. Benar juga… jika dirinya Kuroto Yoshiki, hal ini tidak
akan terjadi. Hana tidak akan bergandengan tangan dengan Guren. Hana akan
menari dengannya mengelilingi api unggun. Namun sekali lagi… itu jika dirinya
adalah Kuroto Yoshiki. Bukan Haru Natsume.
“Aku sudah menyuruhmu pergi. Jangan buat aku mengulangi
lagi,” begitu bibirnya menggumankan kalimat dingin lagi, Haru Natsume berjalan
meninggalkan Takane Sakura. Entah ke mana.
[Yami no Ai]
“Kuroto Hana!”
“Ah? Ya?” Hana yang baru saja meminjam beberapa peralatan
seperti selotip dan cutter dari kelas sebelah tengah berjalan di lorong kelas
saat namanya terpanggil.
Saat kepalanya berbalik retinanya menangkap bayangan Guren
Ishikawa. “Guren Ishikawa-san!” Hana tersenyum cerah.
“Kenapa tidak menyapaku tadi?” Guren berdiri tepan di depan
Hana.
“Ah! Maafkan aku!” Hana menundukkan kepalanya.
“Hei hei tidak masalah,” Guren menjadi salah tingkah melihat
sikap Hana.
“Apa hanya perasaanku? Sikapmu menjadi berbeda… tidak
se’heboh’ dulu… kamu menjadi agak kalem dan sopan…” Guren melanjutkan
kalimatnya begitu Hana telah kembali pada posisinya.
“M-menurut anda begitu…” Hana sweatdrop.
“Permisi. Kami dari Kedai Takoyaki. Jika berminat kelian
bisa mampir. Kami juga menyajikan beberapa milkshake gratis jika kalian
beruntung. Setelah pembelian satu kotak Takoyaki kalian diizinkan mengambil
undian milkshake,” seorang perempuan yang sepertinya berada pada satu tingkat
di bawah Hana datang dengan membawa sebuah brosur mengenai stan kelasnya.
[Yami no Ai]
“Tak kusangka kita akan sama-sama dapat Milkshake bonus!”
Hana tersenyum renyah.
“Benar juga ya. Ini lumayan.” Guren Ishikawa memasukan
Takoyaki ke dalam mulutnya.
“Aku cukup kaget saat Guren-san datang ke sekolahku. Apalagi
sebagai sponsor utama,” Hana membuka pembicaraan.
“Yaah… aku juga cukup kaget bertemu denganmu di sini. Ini…
kamu pasti tahu… ini soal bisnis…” Guren mengendikan bahunya bersamaan.
“Aku tahu itu…” Hana membalas candaan pada kalimat Guren.
“Tapi aku senang. Sekolah ini mengingatkanku pada masa-masa
sekolah dulu.”
“Nostalgia yang indah sepertinya…”
“Tidak juga. Aku agak pendiam saat bersekolah dulu. Menjadi
siswa paling pecundang yang pernah ada. Saat Festival kelas pun aku hanya
menjadi tukang kebersihan.”
“Eh…” Hana sedikit terhenyak.
“Menyedihkan sekali…”
Dalam lubuk hati Hana sekarang, Hana tengah sweatdrop. Sudah
ia duga Guren akan mengalami hal itu. mengingat betapa bodohnya ia bertemu
Guren dulu di tempat pemotongan rambut. Potong rambut saja ia takut.
“Seharusnya jika itu buruk, tidak perlu diingat-ingat lagi,”
saran Hana.
“Hahaha benar juga. Omong-omong siapa pasanganmu untuk acara
utama nanti?”
Pertanyaan Guren seketika membuat Hana sedikit tercekat.
“Ah… itu… a-aku tidak mempunyainya…” Hana menggaruk pipinya
ragu.
“Oh? Benarkah? Lalu pria yang kemarin di tempat potong
rambut?”
“Oh? Natsume-kun? Dia temaku. DIa juga satu kelas denganku.”
Walaupun sebenarnya Haru Natsume adalah pelayan Hana.
“Begitu…”
“Ya,” Hana tersenyum.
“Kalau begitu… boleh aku meminta sesuatu darimu?” secara
tiba-tiba tatapan dari Guren Ishikawa menatap Hana intens.
“Permintaan apa?” Hana sempat ragu.
“Mau menemaniku saat acara puncak? Aku diberi suatu
kehormatan untuk menutup acara ini. Tentu saja aku juga harus menikmati acara
utama.”
“Eh? T-Tapi kenapa aku? M-makusdku bukankah ada banyak siswi
di sini yang cantik.”
“Karena hanya kamu yang ku kenal. Lagipula aku juga sudah
keceplosan membicaran masa lalu burukku padamu. Kuharap kamu mau membantuku.”
Guren terlihat lesu.
“Memangnya kita harus melakukan apa?” Hana kebingungan.
“Hmm… kita tidak mungkin menari—“
“TENTU SAJA TIDAK MUNGKIN!!” Hana menyela dengan wajahnya
yang sangat memerah.
“Bagaimana dengan bergandengan tangan saja?”
Hana terdiam untuk berpikir beberapa saat. Rasa kasihannya
pada Guren atas masa lalunya membuat Hana cepat menganggukan kepala setuju.
[Yami no Ai]
Di sini lah mereka berdua sekarang. Bergandengan tangan
menatap terang dan panasnya kobaran api unggun. Sesekali beberapa pasangan
siswa-siswi menari di depan mereka.
“Jadi seperti ini rasanya menikmati acara utama…” Guren berguman
pelan.
Hana hanya menatap dan tersenyum menatap Guren. Turut
bahagia atas apa yang Guren rasakan. Walaupun dalam hati Hana agak sweatdrop.
Tidak menyangka, CEO sukses ternyata baru merasakan rasa senang acara utama
festival kelas di umurnya ini.
“Hei lihat. Bukankah itu Kuroto Hana? Dia bersama Guren
Ishikawa!”
“Wah benar! Astaga mereka berniat mengikat sebuah hubungan?”
“Tak kusangka Kuroto Hana bisa mengenal Guren Ishikawa!”
“Bagaimana mungken Guren Ishikawa tertarik pada Kuroto
Hana!?”
“Jangan-jangan dia seorang Gay yang akan tobat. Tapi tidak
bisa menghilangkan fetishnya yang aneh itu. Sehingga dia memilih Kuroto Hana
yang tomboy?”
“Harapanku sirna.”
“Guren Ishikawa bodoh!”
Sementara itu sekelompok perempuan yang terebar di seluruh
penjuru lapangan mulai mengeluarkan opini mereka saat tatapan mereka terarah
sempurna pada Guren dan Hana.
Hana terserang rasa bergidik secara tiba-tiba.
“Ha ha ha…” Hana tertawa hambar dan sweatdrop.
Siapa sangka menggandeng Guren Ishikawa akan semenyusahkan
ini?
Tunggu dulu. Rasanya seperti déjà vu. Dulu hal seperti ini
pernah terjadi.
Pagi harinya di Mirai
no Gakko seluruh siswi digemparkan dengan sebuah kejadian yang luar biasa.
Tentu saja kalau bukan idola mereka--Yoshiki Kuroto--menggandeng tangan seorang
gadis berdada rata, berambut pendek, tidak stylis, dan hyperactiv.
Beratus tatapan
mengarah tepat kepada Hana. Dari ekspresi marah sampai ekspresi meremehkan
terus menghujam kedapa Hana.
'Ha ha ha' tawa Hana
hambar. 'siapa sangka digandeng Yoshiki di tempat seperti ini bisa membunuhku'
batin Hana.
"Hn"
nampaknya si idola tidak peduli dan dengan santainya menggandeng--ah mungkin
bagi Hana menarik--Hana.
Kedua sapphire Hana terbelalak lebar. Yoshiki. Yoshiki.
Yoshiki.
Ini salah. Ia tak boleh melakukan ini.
Tangannya melepaskan paksa genggaman hangat Guren. Membuat
pria itu terkaget dengan tindakan Hana.
“Hana? Ada apa denganmu?” Guren kebingungan.
“M-Maaf! Aku tidak bisa melakukan ini!” Begitu kalimatnya
selesai, Hana berlari meninggalkan Guren yang hanya bisa menatap Hana dengan
kernyitan pada alisnya.
Bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini? Suaminya tengah
berusaha melawan para Exorcist sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa
bersenang-senang dengan Guren Ishikawa!?
“Maaf… Yoshiki-kun…” butiran-butiran air mengalir dari sudut
pelupuk mata Hana.
[Yami no Ai]
Guren Ishikawa masih terdiam di posisinya. Membelakangi api
unggun dan menatap ke arah terakhir ia melihat Hana menghilang dalam larinya.
Rambutnya yang seharusnya tertata rapi, berjatuhan menutupi
matanya. Tangannya meremat udara dengan kuat.
“Hei… ada apa dengan Kuroto Hana?”
“Dia berlari masuk ke bangunan?”
“Sepertinya dia menangis tadi.”
“Menangis? Kenapa?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
Beberapa perempuan yang bergerombol tadi meneruskan
gossip-gossip mereka.
‘Untuk sejenak aku bisa merasakan kebahagiaanku saat
menggenggam tanganmu. Dan sekarang aku kembali merasa sendiri di tengah
kerumunan ini. Senyumu… menyelamatkanku. Kau memberiku kebahagiaan. Apa yang
membuatmu terusik hingga kau pergi meninggalkanku? Aku harus mencari tahu itu…
karena kau adalah takdirku. Kuroto Hana,’ batin Guren Ishikawa yakin.
0 komentar:
Posting Komentar