Jumat, 29 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 11]

CHAPTER  11: KARAOKE BOX

“KUROTOOOOOO!!” Sebuah suara khas remaja laki-laki menggema di dalam lapangan indoor. Membuat Hana yang kebetulan lewat sana dari membeli jus di mesin penjual minuman di dekat sana menoleh.
Hamazura Otsuki, pemuda dari kelas 3-3, teman sekelas Hana waktu berada di kelas 2, bersandar pada pintu lapangan dengan nafasnya yang terputus-putus.
Tentu saja Hana hanya bisa menaikan alisnya melihat Hamazura Otsuki. Remaja berambut dan beriris cokelat tua itu masih sibuk mengatur nafasnya.
“Ada apa, Hamazura-kun?” Hana dengan santai menanyakan pertanyaan itu dengan mulutnya dipenuhi sedotan yang menghunungkan dengan jus yang baru dibelinya.
“Apakah kamu nanti sibuk?” Selagi menghapus keringat di seluruh permukaan wajahnya, remaja itu menanyakan maksudnya.
“Ha? Hmm… aku belum menyelesaikan tugas Shigure-sensei,” Hana sempat bertopang dagu berpikir sebelum akhirnya menjawab.
“Wah ternyata guru PKK-mu dia juga ya? Sudahlah, lupakan tugasnya. Ikut aku saja bagaimana?”
“Mana mungkin! Tugasnya besok harus sudah dikumpulkan!”
“Cuman sebentar deh! Ayolah!” Sekarang Hamazura Otsuki sudah menepukkan kedua tangannya, berpose memohon kepada Hana.
“Memangnya ada apa sih?” Sedikit malas Hana bertanya.
“Nanti sepulang sekolah, kita ke karaoke bareng, bagaimana?”
“Haaaah?” Kedua kalinya Hana cengo menghadapi Hamazura. Setengah tidak percaya, teman yang selama ini jarang pergi ke tempat lain bersamanya tiba-tiba mengajaknya ke karaoke?
“Yaah… sekalian kencan buta juga sih. Tapi sebenarnya tujuannya mau berkaraoke saja. Gratis kok. Tenang saja. Kamu pasti mau kan?”
“T-tunggu! Kencan buta apa? Kenapa gratis? Ada apa-apanya ya?” Hana menatap curiga.
“Sebenarnya kita kekurangan satu perempuan. Kamu pasti mau datang kan?”
“Tidak mau, ah!”
“Makanannya juga gratis kok.”
“Oke aku mau.”
Hamazura Otsuki sweatdrop seketika. Bagaimana bisa semudah itu memancing Hana dengan makanan gratis?
“Tapi, Hamazura-kun, kenapa aku?” Hana menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah polos.
“Yaaah… karena kamu perempuan pertama yang kulihat hari ini. Aku di lapangan terus hampir seharian ini.”
“Hooo… begitu,” Hana hanya ber-oh ria.
Memang benar, Summer Cup sebentar lagi akan dimulai. Pasti tim basket pria dan wanita di sekolahnya sedang berusaha mati-matian. Berkat retak hidung yang pernah dialaminya, Kaname-sensei benar-benar tidak bisa mengizinkannya mengikuti basket lagi.
“Kalau begitu, sepulang sekolah nanti jangan lupa ya! Karaoke Box di dekat stasiun oke?”
Hana hanya melambaikan tangannya, dan mulai kembali menuju ke kelasnya.

-[Yami no Ai]-

Jam terakhir telah berakhir. Guru pengajar pun sudah menghilang sejak beberapa menit yang lalu. Sejumlah siswa sudah meninggalkan kelas mereka masing-masing. Termasuk Hana. Di sampingnya, Haru Natsume berjalan santai.
“Ah, Natsume-kun bisa antar aku ke Karaoke Box dekat stasiun?”
“Karaoke Box? Kenapa?” Pemuda berambut putih itu hanya menatap Hana penasaran. Seingatnya ketiga sahabat Hana sama sekali tidak mengatakan apapaun soal Karaoke.
“Ada makanan gratis di sana. He he he,” Hana hanya nyengir tidak jelas. Membuat Haru Natsume semakin penasaran.

-[Yami no Ai]-

Akhirnya, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Haru Natsume mengantarkan Hana pada Karaoke Box.
“Ah! Itu dia Kuroto!” Suara Hamazura Otsuki menyapa pendengaran Hana saat kakinya baru saja menyentuh permukaan tanah.
“Hamazura Otsuki?” Haru Natsume yang menyebutkan nama Hamazura dengan nada bertanya lantas membuat Hana menolehkan kepalanya kea rah pria itu.
“Ya. Dia yang mengajakku tadi.”
“Kenapa dia mengajakmu?”
“Entahlah,” Hana mengendikkan bahunya tidak mengerti, “aku ikut saja karena ada makanan gratis.”
Tanpa ba bi bu lagi, pria bersurai putih itu turun dari audi gelap yang sudah ia parkir. Ada yang aneh di sini. Firasatnya mengatakan hal yang merepotkan akan terjadi.
“Oh! Hai! Ada Haru Natsume juga ternyata, mau ikut jug—“ pertanyaan Hamazure terhenti begitu ia baru saja menyadari jika kedatangan Haru Natsume akan mengacaukan segalanya. Haru Natsume terlalu sempurna sebagai pria. Di sekolah saja Haru Natsume sudah banyak menarik perhatian seluruh siswi. Bagaimana jika jadinya jika Haru Natsume ikut bergabung dalam kencan buta ini!? Bisa-bisa seluruh perempuan yang ada lebih memilih Haru Natsume.
“Aku ikut.”
Dan sialnya Haru Natsume setuju untuk ikut.
“Eh Natusme-kun boleh ikut? Syukurlah kalau begitu!” Hana menepuk-nepuk bahu Hamazura Otsuki dengan riang.
“Hhhh…” Hamazura malang hanya bisa menghela nafas.

-[Yami no Ai]-

Benar saja, begitu memasuki ruang karaoke, beberapa perempuan yang sedang asyik menikmati lagu mereka tertegun melihat Haru Natsume yang memasuki ruang karaoke. Pria bermata red crimson itu seketika berhasil memikat seluruh tatapan mata di sana.
“Sudahlah masuk saja! Berhentilah menjadi pengecut!”
“Tidak usah! Aku banyak pekerjaan!”
“Pekerjaanmu bisa ditunda! Kamu harus segera mencari pacar!”
Sementara itu, riuh terdengar dari luar ruangan. Keributan yang dihasilkan oleh setiap adu mulut beserta suara hentakan kaki, seretan kaki, memenuhi lorong Karaoke Box.
“Aku bisa mencarinya sendiri!”
“Tidak bisa! Kau mau jadi perjaka tua hah!?”
Dan suara keributan yang bersalah dari dua orang itu semakin mendekat.
“Hei lepaskan!”
“Tidak akan!”
Dari pintu karaoke room Hana yang masih terbuka setelah kedatangan Haru Natsume, terlihat seorang pemuda yang sedang kesusahan menarik seorang pemuda lain dengan tangannya.
“Yo! Maaf telat!” Pemuda dengan suara nyaring itu memasuki ruang karaoke dengan tangannya masih setia menarik temannya yang juga masih setia meronta dari cengkramannya. Sungguh kontras. Pemuda itu bergaya rock’n’roll sementara pemuda yang ditariknya layaknya pria-pria kantoran dengan jas hitamnya.
“Dia temanku, agak pemalu, tapi tolong bergaulah dengannya. Perkenalkan, Ishikawa Guren.” Pemuda itu dengan segala kekuatannya, membuat Ishikawa Guren menghadapkan wajahnya pada seluruh penghuni karaoke roomnya.
Pria berambut cepak itu terbelalak seketika begitu tatapannya bertemu dengan sosok seorang perempuan berambut pendek yang tengah asyik memakan kripik kentang di meja. Tak kalah kaget, Haru Natsume menatap tak percaya pada Ishikawa Guren yang berdiri di depan pintu.
Sepertinya firasatnya benar. Suatu keadaan yang buruk bertemu dengan Ishikawa Guren di tempat sempit seperti ini. Apalagi melihat tatapan pria beriris jade itu seketika tertuju pada Hana membuat tubuhnya bereaksi keras.
Mengabaikan pertengkaran batin yang dialami Haru Natsume terhadap Ishikawa Guren, beberapa perempuan yang duduk di sisi lain bangku laki-laki mulai asyik membicarakan kedua pria tampan yang kedatangannya tak diduga ini. Haru Natsume, dan Ishikawa Guren menjadi mangsa bagi tatapan-tatapan para perempuan di Karaoke Box.
“Kuroto Hana?” Tak bisa menahan dirinya, Ishikawa Guren memanggil nama Hana. Siapa sangka ia akan bertemu dengan Hana di sini. Perempuan yang ia akui memberikan perasaan hangat pada dirinya. Senyumnya mengembang saat mengucapkan nama Hana.
“Ah ya?” Dengan polosnya Hana menoleh kea rah Ishikawa Guren.
“Hooo! Ishikawa-kun!” Hana tersenyum menyapa.
“Heee? Kalian sudah saling kenal?” Pemuda yang tadi sudah susah payah menarik Ishikawa Guren itu menatap Hana dan Guren penuh tanya.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” mengabaikan pertanyaan temannya, Guren mendekati Hana.
Haru Natsume bersiaga saat itu juga. Sialan. Dirinya benar-benar kesal. Ishikawa Guren adalah ancaman baginya. Bisa dilihat dengan jelas, Ishikawa Guren tertarik pada miliknya. Tidak bisa dibiarkan!
“Aku makan,” Hana menjawab polos. Mulutnya penuh dengan kripik kentang. Sudut bibirnya dipenuhi remahan bumbu kripik kentang.
“Ha ha. Lihatlah kamu makan seperti anak kecil,” Ishikawa Guren terkekeh sementara tangannya merain sapu tangan pada sakunya. Setelah didapatinya sapu tangan itu ia usapkan pada bibir Hana.
Cukup. Ishikawa Guren benar-benar membuatnya emosi sekarang.
Sementara Haru Nastume menatap dengan kekesalan yang luar biasa, seluruh perempuan di tempat itu menatap iri ke arah Hana.
Hana yang pipinya tiba-tiba diusap oleh sapu tangan Ishikawa hanya diam tanpa kata. Namun, saat sapphirenya bertemu dengan sapu tangan Ishikawa tiba-tiba sebuah déjà vu muncul dalam benaknya.

"Hn," tiba-tiba Yoshiki berhenti. Tangannya merogoh saku celananya dengan cepat. Hana ikut berhenti karena reflek. "Dasar," ucap Yoshiki sambil melap rempah roti pada bibir Hana dengan sapu tangan
.
PLAK
Tanpa sadar ditepisnya tangan Ishikawa Guren.
Sekitka seluruh atensi di ruang karaoke yang kecil itu terarah pada Hana.
Kedua bola mata jade Ishikawa Guren melebar saat tangannya ditepis begitu saja oleh Hana.
“Eh?” Begitu sadar akan tindakannya, Hana menatap Ishikawa Guren dengan kerutan pada alisnya. “Ah! Maaf! Maafkan aku!” Hana segera bangkit dari duduknya dan melakukan ojigi berkali-kali di hadapan Ishikawa Guren.
Haru Natsume sendiri cukup terkaget melihat tindakan Hana.
“T-tidak. Ini seharusnya salahku. Aku yang tiba-tiba menyentuhmu. Jadi… Maaf!” Ishikawa Guren menudnukan kepalanya sedalam-dalamnya.
Dasar bodoh. Dirinya sudah melakukan seuatu kesalahan besar! Setelah kejadian Class Fest kemarin dia masih membuat kesalahan yang membuat Hana tidak nyaman. Tentu saja Hana akan melakukan itu! Dirinya tiba-tiba main usap pipi orang begitu saja. Tentu saja Hana akan marah!
“Hmeeeh…” Hamazura Otsuki menghela nafas berat. Sial sekali hari ini. Kencan buta hari ini sepertinya akan kacau. Dua pria yang kedatangannya tak ia duga ini akan memikat semua perempuan yang ada.
“Yo yo! Bagaimana kalau berkenalan terlebih dahulu?” Pemuda-penarik-Ishikawa-Guren menepukan tangannya meminta perhatian seluruh penghuni ruang karaoke tersebut. “Namaku Ichiro Katsuga, semester 3 Universitas Shuz.”
Merasa bahunya ditepuk oleh temannya, Guren segera mengerti dan memperkenalkan dirinya setelah berdehem pelan. “Ishikawa Guren, pemilik Ishikawa Corp.”
“Huwooo, sudah kuduga dia CEO Ishikawa Corp itu.”
“Benar-benar.”
“Wah, tak diduga.”
Ketiga perempuan yang duduk di samping Hana mulai memberikan komentar mereka.
“Aku Hamazura Otsuki! Kelas 3 di Mirai no Gakoo!” Tanpa mengurangi rasa percaya dirinya, Hamazura memperkenalkan dirinya. Ishikawa Guren dan Haru Natsume memang sangat memikat, tapi dia tidak boleh menyerah sebelum perang dimulai. Setidaknya begitulah anggapannya.
“Hooo…” ketiga perempuan itu asyik bertepuk tangan ria.
Seharusnya ini giliran Natsume Haru, tapi pria itu sama sekali tidak berniat melakukan perkenalan konyol ini. Dirinya hanya diam dengan kedua tangannya ia lipat di depan dadanya, dengan punggungnya bersandar pada sofa.
Dengan kesal Hamazura meneriakinya, “Hei Haru! Perkenalkan dirimu!”
Sepertinya tidak ada pilihan lain. “Haru. Haru Natsume.”
Hanya itu. Dirinya bahkan tidak berdiri seperti ketiga pria sebelumnya.
Hal itu lantas membuat Hamazura semakin murka. “Apa-apaan itu ta—“
“Kereeen! Hei hei! Kamu masih sekolah ya? Sekolah di mana?” Salah satu perempuan menginterupsi teriakan emosi Hamazura.
“Boleh minta alamat emailnya?”
“Haru-san ya? Nama yang bagus?”
Dan diikuti oleh komentar-komentar lain.
“Nah sekarang giliranku!” Hana berdiri dari tempatnya. “Kuroto Hana! Kelas 3 di Mirai no Gakoo! Satu sekolah dengan Hamazura-kun!”
Melihat semangat Hana membuat ujung bibir Ishikawa Guren sedikit tertarik. Haru Natsume tentu saja menyadari itu. Sialan. Dirinya benar-benar dibuat kesal setengah mati hari ini. Melihat seorang pria yang diam-diam menyukai miliknya, dan tersenyum melihat miliknya benar-benar memuakkan!
“Nonomiya Ui, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Madoka Risa, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Miyaka Mutsuri, semester 2 Univeritas Shizu.”

-[Yami no Ai]-

Dan acara kencan buta pun dimulai. Masing-masing berusah menarik perhatian lawan jenis mana yang membuat mereka tertarik.
“Haru-san, daritadi kulihat dari tadi kamu hanya meminum kopi. Lidahmu akan pahit loh. Cobalah ini, milk shake,” Nonomiya Ui menyodorkan segelas milk shake coklat di hadapan Haru Natsume yang sedang asyik meminum kopi kalengnya.
“Tidak usah.” Hanya itu sahutan Haru Natsume. Sementara kedua bola mata red crimsonnya terus terarah pada Hana.
“Hei, apa benar ID Linemu ini?” Ishikawa Guren menujukan sesuatu pada layar ponselnya.
“Benar.” Hana mengangguk polos.
“Aku sudah mengirimkan pesan padamu kemarin kamu lihat?”
“Ah! Benarkah? Maaf aku belum membuka ponsel sama sekali sejak semalam! Dan ponselku tertinggal di rumah!” Hana membual tentu saja. Dia membawa ponselnya pada tasnya. Dan dirinya juga tahu Ishikawa Guren mengirimkannya pesan. Hanya saja, sepertinya sesuatu mencegahnya membuka pesan Ishikawa Guren dan membalasnya.
“Kalau begitu… apa nanti malam aku boleh meneleponmu?”
Hana terdiam dalam kegiatannya mengunyah kue kering. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia mau-mau saja melakukan itu. Tapi… Yoshiki pasti akan sangat kecewa dengannya. Dia tidak boleh melakukan ini. Namun ia tidak bisa menjawab apapun! Ia tidak tahu bagaimana cara menolak yang halus. Cara menolak dimana itu tidak akan menyakiti Ishikawa Guren.
“Kami punya banyak tugas untuk kelas besok. Sepulang ini kami akan mengerjakan tugas semalaman.” Ucap Haru Natsume tiba-tiba dnegan tenang.
Ishikawa Guren menoleh sekilah kea rah Haru Natsume.
“Benarkah?” Dan meminta konfirmasi pada Hana.
“Ah… ya begitulah…” Hana mengangguk menyetujui.
“Begitu? Sayang sekali.” Ishikawa Guren menghela nafas lesu.
Sementara itu, Hana mengacungkan jempolnya ke arah Haru dan memberikan tatapan konyol yang berarti ‘terima-kasih-atas-bantuannya.’
Haru Natsume sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Omong-omong, kamu terlihat lebih manis daripada kemarin.”
Hana tersedak dalam upayanya meminum milk shakenya. Haru Natsume seketika menatap Ishikawa Guren tak percaya. Dia menggombal kepada Hana!? Apa itu tadi!? Kuno sekali.
“Ahh!” Ishikawa Guren seketika bangkit dari duduknya begitu melihat Hana tersedak. Menyodorkan sapu tangannya kepada Hana.
Hana segera menggerakan tangannya untuk menolak sapu tangan Ishikawa. DIambilnya tisu di atas meja dan segera diusapnya beberapa sisa semburannya tadi.
“Berhenti bercanda Ishikawa-san,” Hana terkekeh.
“Aku tidak bercanda. Menurutku memang begitu. Kau terlihat lebih manis daripada sebelumnya.”
“Eh? Kenapa begitu?”
“Karena aku selalu memikirkanmu. Jadi aku bisa mengingat jelas seperti apa dirimu sebelumnya.”
“Eh…?” Hana hanya berguman tidak mengerti.
Haru Natsume hanya diam. Mendnegarkan setiap pembicaraan antara Ishikawa Guren dan Hana.


“Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan…” gumannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.