CHAPTER 10: TOMMOROW
AND TODAY
Class Fest telah selesai diselenggarakan. Tepat pada pukul
sembilan malam semua acara dipastikan telah selesai. Waktunya berbesih. Malam
itu harus semuanya beres.
“Hei. Kamu kenapa tadi?”
Kuroto Hana yang sedang asyik melepaskan aksesoris-aksesoris
yang terisa pada dinding karena pembuatan rumah hantu membalikan kepalanya ke
belakang. Menemukan sosok sahabatnya, Umei Yui berdiri dengan kedua tangannya
berkacak pinggang.
“Yui? Bantu aku melepas ini!” Hana berusaha menarik sebuah
selotip yang sepertinya menempel sangat erat.
Perempuan berambut ungu itu mau tak mau meyediakan tangannya
untuk membantu Hana menarik karet lengket itu dari tembok. Dengan tenaga
keduanya, akhirnya selotip itu mau lepas juga.
“Ayo beritahu aku apa yang terjadi tadi? Kamu menangis
sesaat setelah bergandengan tangan dengan Ishikawa-san. Kupikir kamu tidak
tertarik pada—“
“Dia temanku,” sela Hana.
“Teman?” Yui mengernyitkan alisnya.
“Ceritanya panjang sih…” Hana menghela nafas berat.
Yui terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan
pertanyaannya, “lalu apa kamu tidak mau menceritakannya padaku?” Sejenak
pandangannya terarah pada Maki yang sepertinya tengah berjalan ke arahnya dan
Hana, “—pada kita?”
Sekali lagi Hana menghela nafas berat. “Kuceritakan nanti di
grup chat saja bagaimana?”
“Hei tunggu. Jika nanti, Maki pasti akan disuruh tidur oleh
kakaknya!”
“Tidak apa Yui-chan. Nanti malam aku berencana menonton
siaran langsung bola luar negri. Jadi aku nanti mungkin akan tidur pagi,” Maki
nyengir.
“Shiro pasti tidak akan tidur…” Yui berpikir lagi, “Jadi kau
janji kan akan berceri—“ Yui menghentikan kalimatnya saat melihat orang yang
diajaknya bicara malah melamun.
Ditariknya telinga Hana. “Kamu mendengarkanku kan?” Yui
bicara tepat di depan telinga Hana dengan dahinya dihiasi oleh perempatan
urat-uratnya.
“Ah! Aduuhduh! Iya! Iya! Kudengarkan! Aku janji!” Hana
merintih, berusaha menjauhkan telinganya dari Yui.
Sementara Haru Natsume hanya melakukan apa tugasnya—kali ini
sepertinya ia dapat jatah mengangkat seluruh perabotan keluar kelas—dengan
sesekali melirik Hana.
…
Bersih-bersih kelas selesai selesai sebelum waktu
menunjukkan pukul sebelas malam. Syukurlah kelas 3-1 memiliki siswa yang rajin.
Sehingga membersih kan kelas—dengan banyak hal yang harus dibersihkan—cepat
selesai.
Kuroto Hana tengah berdiri di depan gerbang sekolah.
Menunggu Haru Natsume menjemputnya tentu saja.
Panjang umur. Tak lama kemudian sebuah mobil audi gelap
datang dan berhenti tepat di depan Hana. Anehnya Haru Natsume selaku supir tidak
keluar dari tempatnya dan membukakan pintu untuk Hana seperti biasa. Hana
membuka dan memasuki mobil dengan sendirinya. Hana sendiri juga tak memikirkan
mengenai keanehan Haru. Ia tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.
Perjalanan pulang sekolah malam itu terasa sangat hening.
Hanya suara deru kendaraan dan suara lambu sen yang berbunyi berkedip-kedip
yang memenuhi kegelapan dalam mobil itu.
-[Yami no Ai]-
Hana terdiam. Duduk meringkuk di atas ranjangnya dengan
tangannya menggenggam ponsel pinter miliknya. Kepalanya ia sandarkan pada kedua
tumit kakinya yang saling menempel.
Dia baru saja melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang
sangat salah.
Suaminya, Kuroto Yoshiki, tengah mati-matian berjuang dengan
Exorcist di sana. Sementara dirinya malah bersenang-senang dengan teman masa
kecilnya. Kejam sekali dirinya! Perempuan macam apa dirinya?
“Yoshiki-kun…” bisikan itu lolos dari bibirnya.
“!?” Haru Natsume mendongkakkan kepalnya seketika.
Rasanya barusan ia mendengar Hana memanggilnya.
Sekali lagi kepalanya ia tundukan. Menyembunyikan
ekspresinya dengan rambut-rambut putihnya yang cukup panjang.
Mana mungkin Hana memanggilnya? Sepertinya ia dipermainkan
oleh pikirannya.
Apa-apaan itu tadi? Hana bergandengan tangan dengan Guren
Ishikawa? Apa maksudnya itu? Apa keduanya berniat mengikat suatu hubungan?
“SIALAN!” Haru Natsume berteriak seketika.
Gigi-giginya saling bergemelatuk. Tangan-tangannya mengerat
menggenggam udara. Rahangnya mengeras.
“Guren Ishikawa sialan…” desisnya dingin.
Apa dia harus membunuh Guren Ishikawa? Tidak perlu dirinya.
Cukup ia menyuruh orang ain yang membunuh bedebah yang sudah berani-berani
menyentuh istrinya itu.
“Yoshiki-kun…”
Lagi-lagi suara Hana bergema di dalam kepalanya. Yang
anehnya suara itu penuh dengan perasaan sedih, rasa bersalah, dan perasaan
rindu.
Mungkin sebaiknya ia harus menemui Hana.
-[Yami no Ai]-
Ponsel Hana bergetar. Menunjukan sebuah notifikasi masuknya
sebuah pesan di sebuah apliasi chatting.
UMEI: Jadi, sudah
siap bercerita?
HISEGAWA: Siap
mendengarkan.
AYAKI: Shiro di
sini!
KUROTO: Ceritanya
akan panjang…
HISEGAWA: Aku
menengarkan ^^
UMEI: Jangan
buang-buang waktu!
Perempatan siku muncul di dahi Hana, kesal.
“Dasar Yui ini! Dia sangat kepo sekali! Aku sedang mengetik
sekarang dasar bodoh!” Omel Hana sementara tangannya mulai mengetik apa yang
menjadi unek-uneknya.
AYAKI: Hana lama
sekaliii~~
HISEGAWA: Dia
sedang mengetik.
AYAKI: Ayolaaaah~~
KUROTO: Guren
Ishikawa hanya temanku. Aku bertemu dengannya di tempat potong rambut saat SD
dulu. Dia menangis ketakutan. Aku hanya mencoba membantu menenangkannya saja.
Lalu kemarin saat aku potong rambut lagi, aku bertemu dengannya. Dan begitulah.
Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi sponsor utama class fest sekolah
kita.
HISEGAWA: Apa!?
Serius!? Kamu berteman dengan milyader itu!?
AYAKI: Err—dia
menangis? Menangis karena potong rambut?
UMEI: KUROTO
HANA! BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK BERHENTI MEMOTONG RAMBUTMU LAGI!? Cih. Aku
sampai lupa untuk mengomelimu tadi. Padahal aku sudah sadar sejak bertemu
denganmu pagi tad. Rambutmu menjadi lebih pendek.
HISEGAWA: BENAR!
SAMPAI KAPAN KAMU MAU MENJADI SEPERTI ITU!?
AYAKI: DASAR HANA
BODOH!
UMEI: AKU
MEMBENCIMU!
“Hei… hei… kenapa mereka malah membicarak rambutku?” Di
balik kedutan emosi Hana, muncul butiran-butiran sweatdrop Hana melihat kebodohan
teman-temannya.
KUROTO: AKU
SEDANG SERIUS! KALAU TIDAK MAU DENGAR YA SUDAH!
UMEI: Ah… ya…
kalau begitu lanjutkan.
HISEGAWA: Maaf…
Hana menghela nafas. Entah sudah berapa kali dalam seharian
ini. Sepertinya hari ini melelahkan jiwa dan raganya.
AYAKI: Lanjutkan
saja, Bodoh!
KUROTO: Dia err…
menceritakan sesuatu yang rahasia padaku. Karena rahasianya itu aku jadi
semakin kasihan padanya. Dia ingin menikmati class fest yang dulu ia lewatkan
saat sekolah. Aku hanya membantunya.
HISEGAWA: Sepertinya
milyader itu masa lalunya kelam sekali. Dan sepertinya dia snagat pengecut
dulu.
AYAKI: Kasihan.
Sangat kasihan.
UMEI: Lalu apa
yang membuatmu sedih dan murung sedari tadi?
KUROTO: Aku tidak
seharusnya melakukan itu. Bergandengan tangan dengannya seperti itu… Aku tidak
bisa. Ini salah. Ini salahku.
UMEI: Kenapa
salah?
Tanpa sadar sebulir air mata mengalir turun pada pipi Hana.
Membasahi layar sentuh ponsel yang tengah menampilkan ruang chat empat sahabat
itu.
TOK. TOK. TOK. TOK.
Beberapa ketukan pada pintu kamarnya membuat Hana refleks
mendongkakkan kepalanya ke arah pintu. Siapa yang datang padanya di malam
selarut ini? Misaki? Apa ada masalah?
Segera diusapnya kedua matanya dengan kasar. Berusaha
menutupi bekas tangisannya. Turun dari ranjang dan membukakan pintu.
“Iya. Ada ap—Natsume-kun?” Hana cukup kaget karena melihat
sosok Haru Natsume di depan matanya.
Hana sudah dihadapannya. Tepi entah kenapa menatap Hana
malah mengingatkannya pada rasa sakitnya. Rasa sakit pada dadanya yang terus
berdenyut. Rasa sakit yang ditimbulkan karena kebodohannya.
“Mau masuk dulu? Tidak enak kalau bicara di depan pintu,”
tawar Hana.
Tanpa menjawab, Haru Natsume berjalan memasuki kamar—yang
memang seharusnya kamarnya juga—Hana.
Pikirannya kalut. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang akan
ia bicarakan dengan Hana sebagai Haru Natsume sekarang. Saat itu ia melihat
sebuah notifikasi chat pada ponsel Hana yang tergeletak di atas ranjang.
ISHIKAWA: Selamat
malam. Maaf mengganggu.
Kedua mata azure miliknya membulat sempurna.
“Omong-omong… Ada apa Natsume-kun malam-malam ke mari?” Hana
yang baru saja menutup kembali pintu kamarnya berjalan mendekati Haru Natsume.
GREB.
Tiba-tiba saja salah satu pergelangan tangannya sudah
digenggang oleh Haru Natsume. DItarik dan dihempaskan pada ranjangnya.
Entah apa gerangan. Lampu yang meneringai kamar Hana
tiba-tiba mati dan membuat ruangan itu diliputi kegelapan.
Semua runtutan kejadian ini terjadi begitu cepat. Hana
sampai tidak memiliki waktu untuk berpikir sama sekali.
“Kenapa kau lakukan ini!? Sebenarnya siapa Ishikawa Guren!?”
Hana tertegun ditempatnya. Walau dalam keadaan gelap, Hana
bisa yakin jika Haru Natsume sedang menindihnya sekarang. Bicara tepat di
hadapannya. Aura mengintimidasinya sangat terasa. Aura mengintimidasi yang sama
ia rasakan pada Kuroto Yoshiki, suaminya.
“Maaf. Maafkan aku Yoshiki-kun. Maafkan aku karena sudah
mengecewakanmu Yoshiki-kun… hiks… hiks…” tanpa sadar kalimat itu meluncur
keluar dibarengi dengan isakan penyesalan.
Ganti Haru Natsume yang tertegun sekarang. Pengannya pada
lengan-lengan Hana mengendur.
Hana menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Aku… sudah membuatmu kecewa… Yoshiki-kun pasti akan
membanciku sekarang. Aku mohon… Maafkan aku Yoshiki-kun…” Hana terus
menggumankan nama Yoshiki walauun sebenarnya ia sadar, yang di depannya adalah
Haru Natsume. Bukan Kuroto Yoshiki.
‘Apa yang sudah kukatakan pada Natsume-kun? Apa aku sudah
gila sekarang?’ pikir Hana. Walau begitu, ia tidak peduli. Ia sangat ingin
melanjutkan mengungkapkan unek-uneknya.
Tubuhnya terasa terangkat tiba-tiba. Dan…
GREB.
Sebuah pelukan dalam kegelapan. Hanya itu yang bisa Hana
pikirkan sekarang. Haru Natsume memeluknya?
“Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Memang benar aku
kecewa. Tapi untuk kali ini… aku mengerti…”
Nada berat itu. Walau dengan suara Haru Natsume, Hana
seolah-olah mendengar suara Kuroto Yoshiki secara langsung.
“Yoshiki-kun…?”
“Hn?”
Sapphire Hana terbelalak lebar dalam kegelapan. Yoshiki-kun!
Orang yang berbicara dengannya saat ini benar-benar Yoshiki! Dieratkannya
pelukannya tanpa sadar.
Sebuah cahaya seketika memenuhi kamar Hana yang sebelumnya
tertelan oleh kegelapan.
“HUWAAAA!” Hana melompat kaget dan melepas pelukannya dari
tubuh Haru Natsume.
“A-Apa yang kau lakukan Natsume-kun!?” Hana berteriak shock
dengan jarinya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk wajah Haru Hanstume.
“Seharusnya itu yang ingin saya tanyakan. Kenapa anda
tiba-tiba memeluk saya? Apa anda takut karena gelap?” Natsume Haru menggaruk
belakang kepalanya yang tidak gatal. Memasang wajah tidak mengerti.
‘Eh?’ Batin Hana. ‘Apa tadi hanya khayalanku saja? Tapi
semuanya terasa nyata.’
“Kalau sudah tidak ada perlu dengan saya lagi, saya undur
diri dulu,” Haru Natsume pamit mengundurkan diri sebelum meninggalkan Hana.
“Ah. Ya,” Hana sendiri masih bingung atas apa yang baru saja
terjadi.
Semuanya benar-benar terasa nyata. Intimidasi yang ia
rasakan sangat khas dominasi Kuroto Yoshiki sekali. Pelukan erat yang ia
rasakan. Suara berat itu. Dan gumanan milik suaminya itu. Semuanya terasa
nyata.
Apa kepalanya sudah mulai rusak dan dia sudah mulai gila
sekarang?
Membayangkan Haru Natsume adalah suaminya. Sepertinya
dirinya sudah mulai gila sekarang. Hana sweatdrop.
“Omong-omong, Natsume-kun, tadi kenapa kamu kemari? AH!
SUDAH PERGI!” Natsume Haru telah pergi sejak beberap menit lalu. Dan dirinyapun
sepertinya sudah memberikan izin. Kenapa dia sampai lupa?
-[Yami no Ai]-
Haru Natsume menyusuri lorong panjang mansionnya. Kedua
tangannya ia masukan ke dalam saku celananya. Pandangannya terus menatap tajam dan awas ke
depan.
Keadaan mentalnya sepertinya sudah kembali normal dan
tenang. Sekarang dirinya bisa kembali fokus.
Setidaknya ia tahu. Ini jelas-jelas bukan salah Hana. Memang
benar Hana sedikit tergoda dan goyah. Tapi ini sepenuhnya salah Guren Ishikawa
sialan itu.
Sialan. Di saat-saat seperti ini dirinya sama sekali tidak
bisa berbuat apa-apa untuk membantu Hana. Yang dilakukannya tidak lebih dari
tindakan seorang pengecut. Hanya muncul saat wanitanya sendiri dan ketakutan.
Apa yang bisa dia lakukan saat wanitanya kebingungan bersama Guren Ishikawa?
Meratapi rasa cemburunya? Benar-benar pengecut!
Ia harus segera mencari cara untuk menyelesaikan ini.
-[Yami no Ai]-
“KENAPA CHAT TERAKHIR KITA TIDAK KAU BALAS!!!??” Ledakan
kemarahan menggema di dalam kelas 3-1.
Semua siswa yang sedang asyik melakukan aktivitasnya
masing-masing pandangannya teralihkan pada Yui yang sedang berdiri di depan
bangkunya, menunjuk ke arah Hana dengan tatapan membunuh. Diikuti oleh Maki dan
Shiro yang berdiri melingkari Hana dengan tatapan menusuk mereka.
Sepertinya Hana akan menjalani dua hukuman sekaligus hari
ini. Pertama, karena ia tidak membalas pesan teman-temannya. Dan kedua, karena
ia telah memotong rambutnya lagi.
“Ah… Ya… Itu… aku tertidur…” Hana menggaruk pipinya yang
tidak gatal.
“TERTIDUR KATAMU!? AKU BERTAHAN DARI KANTUK UNTUK MENDENGAR
CERITAMU DAN SEKARANG KAU DENGAN GAMPANGNYA MENGATAKAN TERTIDUR HAH!?” Yui menaikan satu kakinya di atas meja Hana.
Hana shock melihat kaki Yui. Gawat. Sepertinya Yui
benar-benar marah. Lihat saja tatapan membunuhnya. Bahkan sepertinya ia bisa
membayangkan aura kegelapan menguar pada punggung Yui layaknya iblis-iblis yang
ia lihat selama ini.
“TIDAK ADA MAAF!”
“BANTAI!”
“MAAAAAAAFF!!”
Dan keributan di kelas 3-1 tak terhindarkan lagi.
Seolah sudah wajar terjadi, seluruh siswa kelas 3-1
melanjutkan aktivitasnya kembali tanpa berniat mengganggu Hana dkk. Bahkan si
ketua kelas, Rui, hanya tersneyum tipis menatap keributan itu.
“NATSUME HARU!” Sebuah lengkingan khas pria tua yang
bersemanat terdengar dari pintu kelas bagian belakang.
Membuat sekali lagi perhatian seluruh siswa teralihkan.
Termasuk membuat pertarungan sengit Hana melawan Yui, Shiro, Maki terhenti.
Itu Kaname-sensei. Guru piket hari ini dan sekaligus guru
olah raga mereka.
“Ada apa sensei?” Natsume Haru hanya menyahuti dengan
enteng.
Dengan kedua tangannya yang sibuk membawa kardus,
Kaname-sensei berjalan memasuki kelas 3-1.
Menjatuhkan kardus itu depan Natsume Haru, beberapa siswa
yang berada tidak jauh dengan Natsume Haru segera ikut menimbrung untuk melihat
apa isi kardus tersebut. Ternyata, tidak lain, berisi kumpulan surat cinta.
“Ha ha…” semua siswa seketika sweatdrop.
“Sesekali bersihkan lokermu!” Kaname-sensei melanjutkan
ceramahnya.
“Inilah penyebab utama saya malas membersihkan loker
sensei,” ucap Natsume Haru enteng.
“Jika besok aku masih melihat lokermu berantakan, kau yang
akan ku masukan ke dalam loker! Ingat itu!” Tanpa mempedulikan perlawanan
Natsume Haru, Kaname-sensei tetap mempertegas peringatannya sebelum pergi
meninggalkan kelas 3-1.
Sepertinya…. Tanpa sadar… Kuroto Yoshiki sedikit demi
sedikit menikmati kehidupannya sebagai manusia biasa.
0 komentar:
Posting Komentar