Kamis, 21 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 10]

CHAPTER 10: TOMMOROW AND TODAY

Class Fest telah selesai diselenggarakan. Tepat pada pukul sembilan malam semua acara dipastikan telah selesai. Waktunya berbesih. Malam itu harus semuanya beres.
“Hei. Kamu kenapa tadi?”
Kuroto Hana yang sedang asyik melepaskan aksesoris-aksesoris yang terisa pada dinding karena pembuatan rumah hantu membalikan kepalanya ke belakang. Menemukan sosok sahabatnya, Umei Yui berdiri dengan kedua tangannya berkacak pinggang.
“Yui? Bantu aku melepas ini!” Hana berusaha menarik sebuah selotip yang sepertinya menempel sangat erat.
Perempuan berambut ungu itu mau tak mau meyediakan tangannya untuk membantu Hana menarik karet lengket itu dari tembok. Dengan tenaga keduanya, akhirnya selotip itu mau lepas juga.
“Ayo beritahu aku apa yang terjadi tadi? Kamu menangis sesaat setelah bergandengan tangan dengan Ishikawa-san. Kupikir kamu tidak tertarik pada—“
“Dia temanku,” sela Hana.
“Teman?” Yui mengernyitkan alisnya.
“Ceritanya panjang sih…” Hana menghela nafas berat.
Yui terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pertanyaannya, “lalu apa kamu tidak mau menceritakannya padaku?” Sejenak pandangannya terarah pada Maki yang sepertinya tengah berjalan ke arahnya dan Hana, “—pada kita?”
Sekali lagi Hana menghela nafas berat. “Kuceritakan nanti di grup chat saja bagaimana?”
“Hei tunggu. Jika nanti, Maki pasti akan disuruh tidur oleh kakaknya!”
“Tidak apa Yui-chan. Nanti malam aku berencana menonton siaran langsung bola luar negri. Jadi aku nanti mungkin akan tidur pagi,” Maki nyengir.
“Shiro pasti tidak akan tidur…” Yui berpikir lagi, “Jadi kau janji kan akan berceri—“ Yui menghentikan kalimatnya saat melihat orang yang diajaknya bicara malah melamun.
Ditariknya telinga Hana. “Kamu mendengarkanku kan?” Yui bicara tepat di depan telinga Hana dengan dahinya dihiasi oleh perempatan urat-uratnya.
“Ah! Aduuhduh! Iya! Iya! Kudengarkan! Aku janji!” Hana merintih, berusaha menjauhkan telinganya dari Yui.
Sementara Haru Natsume hanya melakukan apa tugasnya—kali ini sepertinya ia dapat jatah mengangkat seluruh perabotan keluar kelas—dengan sesekali melirik Hana.
Bersih-bersih kelas selesai selesai sebelum waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Syukurlah kelas 3-1 memiliki siswa yang rajin. Sehingga membersih kan kelas—dengan banyak hal yang harus dibersihkan—cepat selesai.
Kuroto Hana tengah berdiri di depan gerbang sekolah. Menunggu Haru Natsume menjemputnya tentu saja.
Panjang umur. Tak lama kemudian sebuah mobil audi gelap datang dan berhenti tepat di depan Hana. Anehnya Haru Natsume selaku supir tidak keluar dari tempatnya dan membukakan pintu untuk Hana seperti biasa. Hana membuka dan memasuki mobil dengan sendirinya. Hana sendiri juga tak memikirkan mengenai keanehan Haru. Ia tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.
Perjalanan pulang sekolah malam itu terasa sangat hening. Hanya suara deru kendaraan dan suara lambu sen yang berbunyi berkedip-kedip yang memenuhi kegelapan dalam mobil itu.

-[Yami no Ai]-

Hana terdiam. Duduk meringkuk di atas ranjangnya dengan tangannya menggenggam ponsel pinter miliknya. Kepalanya ia sandarkan pada kedua tumit kakinya yang saling menempel.
Dia baru saja melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang sangat salah.
Suaminya, Kuroto Yoshiki, tengah mati-matian berjuang dengan Exorcist di sana. Sementara dirinya malah bersenang-senang dengan teman masa kecilnya. Kejam sekali dirinya! Perempuan macam apa dirinya?
“Yoshiki-kun…” bisikan itu lolos dari bibirnya.
“!?” Haru Natsume mendongkakkan kepalnya seketika.
Rasanya barusan ia mendengar Hana memanggilnya.
Sekali lagi kepalanya ia tundukan. Menyembunyikan ekspresinya dengan rambut-rambut putihnya yang cukup panjang.
Mana mungkin Hana memanggilnya? Sepertinya ia dipermainkan oleh pikirannya.
Apa-apaan itu tadi? Hana bergandengan tangan dengan Guren Ishikawa? Apa maksudnya itu? Apa keduanya berniat mengikat suatu hubungan?
“SIALAN!” Haru Natsume berteriak seketika.
Gigi-giginya saling bergemelatuk. Tangan-tangannya mengerat menggenggam udara. Rahangnya mengeras.
“Guren Ishikawa sialan…” desisnya dingin.
Apa dia harus membunuh Guren Ishikawa? Tidak perlu dirinya. Cukup ia menyuruh orang ain yang membunuh bedebah yang sudah berani-berani menyentuh istrinya itu.
“Yoshiki-kun…”
Lagi-lagi suara Hana bergema di dalam kepalanya. Yang anehnya suara itu penuh dengan perasaan sedih, rasa bersalah, dan perasaan rindu.
Mungkin sebaiknya ia harus menemui Hana.

-[Yami no Ai]-

Ponsel Hana bergetar. Menunjukan sebuah notifikasi masuknya sebuah pesan di sebuah apliasi chatting.
UMEI: Jadi, sudah siap bercerita?
HISEGAWA: Siap mendengarkan.
AYAKI: Shiro di sini!
KUROTO: Ceritanya akan panjang…
HISEGAWA: Aku menengarkan ^^
UMEI: Jangan buang-buang waktu!
Perempatan siku muncul di dahi Hana, kesal.
“Dasar Yui ini! Dia sangat kepo sekali! Aku sedang mengetik sekarang dasar bodoh!” Omel Hana sementara tangannya mulai mengetik apa yang menjadi unek-uneknya.
AYAKI: Hana lama sekaliii~~
HISEGAWA: Dia sedang mengetik.
AYAKI: Ayolaaaah~~
KUROTO: Guren Ishikawa hanya temanku. Aku bertemu dengannya di tempat potong rambut saat SD dulu. Dia menangis ketakutan. Aku hanya mencoba membantu menenangkannya saja. Lalu kemarin saat aku potong rambut lagi, aku bertemu dengannya. Dan begitulah. Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi sponsor utama class fest sekolah kita.
HISEGAWA: Apa!? Serius!? Kamu berteman dengan milyader itu!?
AYAKI: Err—dia menangis? Menangis karena potong rambut?
UMEI: KUROTO HANA! BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK BERHENTI MEMOTONG RAMBUTMU LAGI!? Cih. Aku sampai lupa untuk mengomelimu tadi. Padahal aku sudah sadar sejak bertemu denganmu pagi tad. Rambutmu menjadi lebih pendek.
HISEGAWA: BENAR! SAMPAI KAPAN KAMU MAU MENJADI SEPERTI ITU!?
AYAKI: DASAR HANA BODOH!
UMEI: AKU MEMBENCIMU!
“Hei… hei… kenapa mereka malah membicarak rambutku?” Di balik kedutan emosi Hana, muncul butiran-butiran sweatdrop Hana melihat kebodohan teman-temannya.
KUROTO: AKU SEDANG SERIUS! KALAU TIDAK MAU DENGAR YA SUDAH!
UMEI: Ah… ya… kalau begitu lanjutkan.
HISEGAWA: Maaf…
Hana menghela nafas. Entah sudah berapa kali dalam seharian ini. Sepertinya hari ini melelahkan jiwa dan raganya.
AYAKI: Lanjutkan saja, Bodoh!
KUROTO: Dia err… menceritakan sesuatu yang rahasia padaku. Karena rahasianya itu aku jadi semakin kasihan padanya. Dia ingin menikmati class fest yang dulu ia lewatkan saat sekolah. Aku hanya membantunya.
HISEGAWA: Sepertinya milyader itu masa lalunya kelam sekali. Dan sepertinya dia snagat pengecut dulu.
AYAKI: Kasihan. Sangat kasihan.
UMEI: Lalu apa yang membuatmu sedih dan murung sedari tadi?
KUROTO: Aku tidak seharusnya melakukan itu. Bergandengan tangan dengannya seperti itu… Aku tidak bisa. Ini salah. Ini salahku.
UMEI: Kenapa salah?
Tanpa sadar sebulir air mata mengalir turun pada pipi Hana. Membasahi layar sentuh ponsel yang tengah menampilkan ruang chat empat sahabat itu.
TOK. TOK. TOK. TOK.
Beberapa ketukan pada pintu kamarnya membuat Hana refleks mendongkakkan kepalanya ke arah pintu. Siapa yang datang padanya di malam selarut ini? Misaki? Apa ada masalah?
Segera diusapnya kedua matanya dengan kasar. Berusaha menutupi bekas tangisannya. Turun dari ranjang dan membukakan pintu.
“Iya. Ada ap—Natsume-kun?” Hana cukup kaget karena melihat sosok Haru Natsume di depan matanya.
Hana sudah dihadapannya. Tepi entah kenapa menatap Hana malah mengingatkannya pada rasa sakitnya. Rasa sakit pada dadanya yang terus berdenyut. Rasa sakit yang ditimbulkan karena kebodohannya.
“Mau masuk dulu? Tidak enak kalau bicara di depan pintu,” tawar Hana.
Tanpa menjawab, Haru Natsume berjalan memasuki kamar—yang memang seharusnya kamarnya juga—Hana.
Pikirannya kalut. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang akan ia bicarakan dengan Hana sebagai Haru Natsume sekarang. Saat itu ia melihat sebuah notifikasi chat pada ponsel Hana yang tergeletak di atas ranjang.
ISHIKAWA: Selamat malam. Maaf mengganggu.
Kedua mata azure miliknya membulat sempurna.
“Omong-omong… Ada apa Natsume-kun malam-malam ke mari?” Hana yang baru saja menutup kembali pintu kamarnya berjalan mendekati Haru Natsume.
GREB.
Tiba-tiba saja salah satu pergelangan tangannya sudah digenggang oleh Haru Natsume. DItarik dan dihempaskan pada ranjangnya.
Entah apa gerangan. Lampu yang meneringai kamar Hana tiba-tiba mati dan membuat ruangan itu diliputi kegelapan.
Semua runtutan kejadian ini terjadi begitu cepat. Hana sampai tidak memiliki waktu untuk berpikir sama sekali.
“Kenapa kau lakukan ini!? Sebenarnya siapa Ishikawa Guren!?”
Hana tertegun ditempatnya. Walau dalam keadaan gelap, Hana bisa yakin jika Haru Natsume sedang menindihnya sekarang. Bicara tepat di hadapannya. Aura mengintimidasinya sangat terasa. Aura mengintimidasi yang sama ia rasakan pada Kuroto Yoshiki, suaminya.
“Maaf. Maafkan aku Yoshiki-kun. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu Yoshiki-kun… hiks… hiks…” tanpa sadar kalimat itu meluncur keluar dibarengi dengan isakan penyesalan.
Ganti Haru Natsume yang tertegun sekarang. Pengannya pada lengan-lengan Hana mengendur.
Hana menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Aku… sudah membuatmu kecewa… Yoshiki-kun pasti akan membanciku sekarang. Aku mohon… Maafkan aku Yoshiki-kun…” Hana terus menggumankan nama Yoshiki walauun sebenarnya ia sadar, yang di depannya adalah Haru Natsume. Bukan Kuroto Yoshiki.
‘Apa yang sudah kukatakan pada Natsume-kun? Apa aku sudah gila sekarang?’ pikir Hana. Walau begitu, ia tidak peduli. Ia sangat ingin melanjutkan mengungkapkan unek-uneknya.
Tubuhnya terasa terangkat tiba-tiba. Dan…
GREB.
Sebuah pelukan dalam kegelapan. Hanya itu yang bisa Hana pikirkan sekarang. Haru Natsume memeluknya?
“Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Memang benar aku kecewa. Tapi untuk kali ini… aku mengerti…”
Nada berat itu. Walau dengan suara Haru Natsume, Hana seolah-olah mendengar suara Kuroto Yoshiki secara langsung.
“Yoshiki-kun…?”
“Hn?”
Sapphire Hana terbelalak lebar dalam kegelapan. Yoshiki-kun! Orang yang berbicara dengannya saat ini benar-benar Yoshiki! Dieratkannya pelukannya tanpa sadar.
Sebuah cahaya seketika memenuhi kamar Hana yang sebelumnya tertelan oleh kegelapan.
“HUWAAAA!” Hana melompat kaget dan melepas pelukannya dari tubuh Haru Natsume.
“A-Apa yang kau lakukan Natsume-kun!?” Hana berteriak shock dengan jarinya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk wajah Haru Hanstume.
“Seharusnya itu yang ingin saya tanyakan. Kenapa anda tiba-tiba memeluk saya? Apa anda takut karena gelap?” Natsume Haru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Memasang wajah tidak mengerti.
‘Eh?’ Batin Hana. ‘Apa tadi hanya khayalanku saja? Tapi semuanya terasa nyata.’
“Kalau sudah tidak ada perlu dengan saya lagi, saya undur diri dulu,” Haru Natsume pamit mengundurkan diri sebelum meninggalkan Hana.
“Ah. Ya,” Hana sendiri masih bingung atas apa yang baru saja terjadi.
Semuanya benar-benar terasa nyata. Intimidasi yang ia rasakan sangat khas dominasi Kuroto Yoshiki sekali. Pelukan erat yang ia rasakan. Suara berat itu. Dan gumanan milik suaminya itu. Semuanya terasa nyata.
Apa kepalanya sudah mulai rusak dan dia sudah mulai gila sekarang?
Membayangkan Haru Natsume adalah suaminya. Sepertinya dirinya sudah mulai gila sekarang. Hana sweatdrop.
“Omong-omong, Natsume-kun, tadi kenapa kamu kemari? AH! SUDAH PERGI!” Natsume Haru telah pergi sejak beberap menit lalu. Dan dirinyapun sepertinya sudah memberikan izin. Kenapa dia sampai lupa?

-[Yami no Ai]-

Haru Natsume menyusuri lorong panjang mansionnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya.  Pandangannya terus menatap tajam dan awas ke depan.
Keadaan mentalnya sepertinya sudah kembali normal dan tenang. Sekarang dirinya bisa kembali fokus.
Setidaknya ia tahu. Ini jelas-jelas bukan salah Hana. Memang benar Hana sedikit tergoda dan goyah. Tapi ini sepenuhnya salah Guren Ishikawa sialan itu.
Sialan. Di saat-saat seperti ini dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Hana. Yang dilakukannya tidak lebih dari tindakan seorang pengecut. Hanya muncul saat wanitanya sendiri dan ketakutan. Apa yang bisa dia lakukan saat wanitanya kebingungan bersama Guren Ishikawa? Meratapi rasa cemburunya? Benar-benar pengecut!
Ia harus segera mencari cara untuk menyelesaikan ini.

-[Yami no Ai]-

“KENAPA CHAT TERAKHIR KITA TIDAK KAU BALAS!!!??” Ledakan kemarahan menggema di dalam kelas 3-1.
Semua siswa yang sedang asyik melakukan aktivitasnya masing-masing pandangannya teralihkan pada Yui yang sedang berdiri di depan bangkunya, menunjuk ke arah Hana dengan tatapan membunuh. Diikuti oleh Maki dan Shiro yang berdiri melingkari Hana dengan tatapan menusuk mereka.
Sepertinya Hana akan menjalani dua hukuman sekaligus hari ini. Pertama, karena ia tidak membalas pesan teman-temannya. Dan kedua, karena ia telah memotong rambutnya lagi.
“Ah… Ya… Itu… aku tertidur…” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“TERTIDUR KATAMU!? AKU BERTAHAN DARI KANTUK UNTUK MENDENGAR CERITAMU DAN SEKARANG KAU DENGAN GAMPANGNYA MENGATAKAN TERTIDUR HAH!?” Yui  menaikan satu kakinya di atas meja Hana.
Hana shock melihat kaki Yui. Gawat. Sepertinya Yui benar-benar marah. Lihat saja tatapan membunuhnya. Bahkan sepertinya ia bisa membayangkan aura kegelapan menguar pada punggung Yui layaknya iblis-iblis yang ia lihat selama ini.
“TIDAK ADA MAAF!”
“BANTAI!”
“MAAAAAAAFF!!”
Dan keributan di kelas 3-1 tak terhindarkan lagi.
Seolah sudah wajar terjadi, seluruh siswa kelas 3-1 melanjutkan aktivitasnya kembali tanpa berniat mengganggu Hana dkk. Bahkan si ketua kelas, Rui, hanya tersneyum tipis menatap keributan itu.
“NATSUME HARU!” Sebuah lengkingan khas pria tua yang bersemanat terdengar dari pintu kelas bagian belakang.
Membuat sekali lagi perhatian seluruh siswa teralihkan. Termasuk membuat pertarungan sengit Hana melawan Yui, Shiro, Maki terhenti.
Itu Kaname-sensei. Guru piket hari ini dan sekaligus guru olah raga mereka.
“Ada apa sensei?” Natsume Haru hanya menyahuti dengan enteng.
Dengan kedua tangannya yang sibuk membawa kardus, Kaname-sensei berjalan memasuki kelas 3-1.
Menjatuhkan kardus itu depan Natsume Haru, beberapa siswa yang berada tidak jauh dengan Natsume Haru segera ikut menimbrung untuk melihat apa isi kardus tersebut. Ternyata, tidak lain, berisi kumpulan surat cinta.
“Ha ha…” semua siswa seketika sweatdrop.
“Sesekali bersihkan lokermu!” Kaname-sensei melanjutkan ceramahnya.
“Inilah penyebab utama saya malas membersihkan loker sensei,” ucap Natsume Haru enteng.
“Jika besok aku masih melihat lokermu berantakan, kau yang akan ku masukan ke dalam loker! Ingat itu!” Tanpa mempedulikan perlawanan Natsume Haru, Kaname-sensei tetap mempertegas peringatannya sebelum pergi meninggalkan kelas 3-1.

Sepertinya…. Tanpa sadar… Kuroto Yoshiki sedikit demi sedikit menikmati kehidupannya sebagai manusia biasa.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.