Chap 81
Yoshiki berlutut untuk menyamai tinggi kepalanya dan tinggi kepala Hana.
Didekatkannya kedua dahi mereka hingga bersentuhan.
"..." mata Yoshiki bertemu dengan mata Hana.
Jantung Hana mulai berdetak kencang. Memacu setiap adrenalin dalam tubuhnya.
Oh demi apapun! Di depannya sekarang adalah makhluk paling sempurna! Dengan wajah pucatnya, mata obsidiannya, bibirnya, rambut hitamnya yg agak basah, dan sebagainya.
"a-aaa..." Hana berusaha memundurkan kepalanya. Namun sayang kepalanya sudah ditahan oleh tangan kekar Yoshiki.
"hn" Yoshiki memundurkan kepalanya kembali.
"sudah lumayan dingin"
Hana kembali memegang dahinya dengan telapak tangannya untuk memastikan.
"benar juga..."
"Hn. Sudah pukul 8. Besok kau harus belajar untuk test Matematika kan?"
"B-benar j-juga. Baiklah aku pulang saja" Hana langsung melangkah. Namun Yoshiki menahannya dengan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Hana.
"Eh?"
"Hn. Kuantar"
Hana jelas tak bisa menolak. Memang ada cara lain untuk menuju rumahnya yg berada cukup jauh dengan manor Yoshiki? Ada, memang ada, yaitu berjalan sendirian dengan resiko tinggi. Tentu saja Hana tak akan mengambil resiko gila itu.
"Misaki berikan dia pakaian yg lebih hangat." ucap Yoshiki pada Misaki.
"Yes My Lord" Misaki berojigi.
"Kutunggu di tempat parkir" ucap Yoshiki pada Hana lalu ia segera menuju tempat parkir.
"Kau tidur selama 3 jam" ucap Tomuro. Sementara Hana masih sibuk mengancingkan mantel hangat yg diberikan Misaki.
"Hontou? Selama itu kah?"
Tomuro tersenyum aneh. "Dan selama itu dia terus memegangi tanganmu. Mengelus puncak kepalamu. Dan berguman sesuatu di telangamu"
"Eh?" Hana menatap Tomuro.
"Lalu setelah itu dia berbasah-basahan di luar"
"..." Hana tak menjawab. Ia mengingat jelas, beberapa helai rambut Yoshiki memang sedikit basah.
"Aku tahu kau marah, tapi kau harus kembali padanya. Dia semakin menyedihkan saja"
Hana tau. Siapa yg dimaksud dengan "dia" dalam ucapan Tomuro barusan.
Yoshiki Kuroto. Itulah subyek yg tepat. Subyek yg menjadi tokoh utama luar biasa dalam hidupnya.
"..." Hana tak menjawab, setelah mengenakan mantelnya secara sempurna ia segera bergegas menuju tempat parkir.
"Hn. Sepertinya aku belum mengucapkannya. Selamat... Atas hari jadimu dengan si sialan itu" ucap Yoshiki dengan nada dingin dan khas mengejek. Tangannya meremat kemudi mobil Lamborghini putihnya.
"..." Hana tak menjawab. Bibirnya tertekuk.
Onix Yoshiki melirik Hana sedikit.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yoshiki.
"ehm, sudah baikan" Hana tersenyum, "setelah istirahat tadi tubuhku lebih nyaman. Oh ya aku tidur sampai berapa jam tadi ya?" ucap Hana disengaja seperti bertanya pada diri sendiri. Namun ia ingin memancing Yoshiki.
Yoshiki menjawab "3 jam" seperti yg di katakan Tomuro, atau..."Hn. Entahlah, aku tidak peduli, yg terpening adalah kau harus tetap hidup untuk memberikanku kekuatan"
Hana tersenyum sedih. Ia semakin bingung. Sangat bingung.
Sebenci itukah Tuhan padanya hingga mempermainkan perasaannya seperti ini?
Jumat, 10 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar