Selasa, 07 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 78]

Chap 78

"Jadi, si sialan itu tidak datang padahal dia yg mengajakmu." ucap Yoshiki. Matanya masih tetap fokus kepada jalanan yg telah terbasahi oleh air hujan.
Hana--yang duduk di kursi disamping kursi kemudi--hanya bisa bungkam.
"Kenapa kau tiba-tiba memaksaku untuk pulang bersamamu?" tanya Hana setelah bungkam cukup lama.
"Kalau aku meninggalkanmu, kau tidak akan pulang sebelum menatap wajah si sialan itu"
"kenapa kau memanggilnya dengan sebutan 'si sialan' dia memiliki nama"
Kedua tangan Yoshiki meremas roda kemudi dengan keras. "Karena aku membencinya."
"kenapa? Dia tak berbuat salah denganmu"
"..." Yoshiki terdiam sesaat. Matanya sarat kebencian.
"khu" Yoshiki terkekeh pelan.
Tangan kanannya tiba-tiba meremas bagian dadanya. Sementara tangan kirinya masih sibuk dengan kemudi.
Hana menatap Yoshiki yg bertingkah aneh.
'Sialan. Disini sakit sekali.' rutuk Yoshiki dalam hati. Flashback ringan menghantuinya. Saat dimana Kaba menarik tangan Hana. Saat Kaba menyatakaan perasaannya kepada Hana. Saat Hana dan Kaba saling tersenyum satu sama lain....
Mulutnya masih sibuk terkekeh aneh.
"Jika kalian sampai melanjutkan hubungan kalian sampai tahap yg lebih. Akan kubunuh dia, atau bahkan kau pun kubunuh" guman Yoshiki.
"Eh?" Hana kaget mendengar pernyataan Yoshiki.

Guyuran hujan memecahkan suasana sepi yg melanda antara Yoshiki dan Hana. Kepala Hana sendiri terlalu kalut untuk berfikir. Disebelahnya, adalah suaminya--entahlah mungkin ini sebutan yg benar--tengah sibuk menyetir. Suaminya yg sangat dicintainya. Suaminya yg sangat ia percaya. Suami yg terlah menghancurkan perasaannya berkeping-keping. Suami yg telah memberikannya kehangatan.
" ... ." Hana terdiam. Tubuhnya kembali mengigil. Digosokannya kedua tangannya yg memerah. Kedua kakinya dinaikkan ke kursi hingga lututnya menekuk dan bertemu dengan dagunya.
Yoshiki yg menyadari itu segera mematikan AC yg menyala di dalam mobil.
Hana menggosokkan lagi kedua tangannya lalu ditiupkannya udara hangat dari mulutnya untuk menghangatkan tangannya.
Saat itu Hana mencium suatu bau. Bau familiar yg selalu mengguncah jantungnya.
'Ini... Bau Yoshiki...' pikir Hana. Seketika wajahnya memerah samar. Entah kenapa rasanya sangat hangat dan tenang saat mencium bau maskulin dari tubuh suaminya itu.
TEP.
Tiba-tiba sebuah tangan lebar nan hangat menyentuh dahi Hana. Hana yg sempat menutup matanya tadi segera membuka matanya.
"kau hampir demam" ucap Yoshiki dingin. Tapi raut wajahnya menunjukkan kekuatiran. Segera diinjaknya pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju suatu tempat.

"nghhh?" Hana berguman pelan. Matanya terbuka perlahan-lahan. Sebuah cahaya yg cukup terang membuatnya kembali mengatupkan matanya.
'hng? Rasanya seperti digendong. Mimpi...' pikir Hana setengah sadar. Tapi lama kelamaan tubuh Hana sedikit tergoncang. Mungkin tempo langkah kaki si penggendong semakin lebar.
'Tunggu!' Hana segera membuka kedua matanya.
Saphirenya bertemu dengan dagu pria yg sangat dikenalnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.