Sabtu, 11 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 82]

Chap 82

"begitu" guman Hana.
"Hn"
"Aku tak mau dengar lagi ucapan Tomuro-kun" guman Hana menatap keluar jendela.
Iris Onix Yoshiki melirih Hana sebentar. "..."
"Hn. Hujan memang sudah reda, tapi kau harus tetap mengenakan pakaian hangat" ucap Yoshiki.
"Aku tahu" Hana tersenyum kecut lalu melangkah ke arah pintu depan rumahnya.

Yoshiki langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan kediaman Rayumi setelah memastikan Hana menutup pintu rumah beratap biru itu.
Percepatan Lamborghini putih yg dikendarai Yoshiki kini mencapai 100 Km/jam. Wajahnya menatap lurus kedepan.
Kakinya masih sibuk menginjak pedal gas, dan tangannya sibuk dengan kemudi dan perseneling.
"Sial!" teriaknya tiba-tiba.
Kakinya terus menginjak pedal gas sampai speedometer mencapai angka 120 km/jam.
Saat mencapai tikungan tajam terdengar decitan melengking tinggi dari ban mobil itu saat melakukan drift.
CKIIIT
Mobil mewah itu berhenti seketika.
"hh...hhh...hh" Yoshiki Kuroto nampak terengah-engah dengan keringat bercucuran di dahinya.
DUAK
Tangan Yoshiki menghantam kemudi mobil.
"My Lady..." gumannya.

"Hana maaf!" Kaba--dengan wajah murung--tiba-tiba duduk di depan Hana yg tengah menyantap roti isi yg tadi baru saja di belinya.
"Eh Kaba-kun?"
"Apa kau menungguku kemarin?" tanya Kaba lagi.
"I-iya sih"
"Maaf!" Kaba ber-ojigi. "Aku ada keperluan mendadak. Aku ingin mengabarimu. Tapi ponselku tertinggal di rumah!"
"Eh begitu... Tak masalah sih" jawab Hana sambil tersenyum.
"Lelaki macam apa yg membiarkan pacarnya menunggu sendirian di tengah guyuran hujan hingga membuat pacarnya demam?" Yoshiki tiba-tiba sudah berdiri di ambang meja makan kantin--bangku tempat Hana dan Kaba duduk.
"Eh? Kau demam?" Kaba semakin menatap Hana khawatir.
"Ah. I-iya sih tapi sudah sembuh kok"
"Maafkan aku Hana" Kaba berguman. Wajahnya nampak muram.
"sudahlah jangan dipikirkan"
"Tapi hari ini aku sudah menyiapkan semuanya! Hari ini pasti bisa! Mau kah kau menunggu sekali lagi?" pinta Kaba dengan wajah memelas.
"sebenarnya ada apa sih?"
"I-ini... K-kejutan! Ya! Kejutan!" jawab Kaba bingung.
"..." Yoshiki berlalu meninggalkan Hana dan Kaba.
"Hee, baiklah aku akan menunggu lagi"

"Wah wah dia benar-benar di sana. Kau sudah siapkan semua kan Kaba?" sebuah seringai terbentuk di wajah seorang siswa berambut ungu tua.
"..." Kaba hanya menatap nanar ketiga kakak kelasnya. Matanya sembab dan lembam. Pipinya terasa sakit dan perih. Bibirnya mengalirkan sedikit darah. Perutnya mual aneh. Tangannya kaku. Kakinya terasa berat karena keseleo mungkin.
"Kan sudah dibilang jangan melawan" ucap seorang kakak kelasnya yg berambut merah.
"Untung kami sedang bosan dengan adikmu" sahut seorang siswa berambut biru cepak.
"Bagus bagus... Bahkan dia membawa beberapa obat dan suntikan penenang" tawa siswa pertama.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhnya" siswa berambut merah tadi sudah memegangi miliknya yg entah kenapa bisa nampak menonjol.
"Baiklah Kaba lakukan tugasmu!" perintah siswa pertama.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.