Chap 174
Yoshiki mengehela nafas lega. Semua prasangka buruk yang dirasanya ditepisnya jauh-jauh.
Tidak ada yang boleh menyentuh wanitanya itu, alam pun tahu akan hal itu. Ia akan melindungi miliknya itu sampai kapanpun.
"Eh Yoshiki-kun?" Hana menoleh ke arah Yoshiki.
"Hn, dari mana saja kau?" ujar Yoshiki datar.
"Uhmm... Aku bosan. Dari tadi kau melamun terus... Aku jadi tidak ada teman. Jadi... Aku jalan-jalan" jawab Hana polos.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman.
"Saa, terima kasih atas informasinya Rakeru-chan!" Hana berojigi pada wanita yang tadi di tanyainya.
"Ya, sama-sama" jawab wanita berjas ungu itu sambil balas berojigi.
Hana segera mengikuti Yoshiki yang sudah nyelonong masuk ke gerbong VIP tadi.
Onix Yoshiki sedari tadi tak bisa tenang. Padahal pemandangan di sebelahnya sangatlah indah, lihat saja, Gunung Fuuji baru saja terlewat begitu saja.
Wajah pria itu nampak tegang, pandangannya lurus ke depan. Bukan, bukan kepada Hana yang sedang terpesona oleh pemandangan di luar cendela. Tapi pandangan pria itu kosong. Ia bahkan sempat tak berkedip.
Pikiran pria itu berkecamuk luar biasa. Ia tahu, sebentar lagi bahaya besar akan menghadangnya dari seorang siswa berumur 17 tahun yang juga seorang Exorcist berperingkat 24.
Lemah? Memang.
Reigh Wittlats. Pemuda dari negara Belanda yang hanya menguasai teknik bertarung standart--sebagaimana teknik bertarung yang biasa dimiliki Exorcist berperingkat 20-30, Yoshiki sudah tak kaget lagi masalah itu--tapi masalahnya... Pemuda itu memiliki otak cerdas yang mengerikan.
Yoshiki sudah berkali-kali membaca pikiran Reigh, namun yang ia dapatkan hanya kata "aku tahu kau membaca pikiranku".
Yoshiki tersenyum. Kali ini lawannya benar-benar cerdas. Bahkan ia tahu bahwa pikirannya sedang dalam proses penembusan, tapi ia sudah mengosongkan pikirannya dan hanya mengisinya kata "aku tau kau membaca pikiranku".
Benar... Ini akan sangat menarik, mengingat Yoshiki selalu mencari lawan bertarung fisik yang tak terkalahkan. Kali ini ia mendapatkan... Lawan yang sangat kuat dalam bidang yang menggunakan otak masing-masing.
"Hum? Kau kenapa Yoshiki-kun?" tiba-tiba saat Yoshiki berkedip untuk membangungkan dirinya dari pikirannya sendiri, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah konyol Hana berserta sepasang mata Saphire favoritnya.
"Hn?" Yoshiki menaikkan satu alisnya merespon pertanyaan Hana.
"Hahh... Aku bosan!! Kapan permainannya dimulai sih!!" gerutu Hana.
Yoshiki melirik jam tangan Rolex di tangannya sekilas.
"Hn, sekitar jam 01.10 p.m" jawab Yoshiki.
"Eh hontouuu!!?" Hana menatap Yoshiki bersemangat. Bahkan ia lupa kenapa ia malah bertanya hal konyol seperti itu kepada suaminya yang notabene raja iblis.
Yoshiki selalu tahu apa yang akan terjadi setelahnya... Itu salah satu kekuatan praktisnya sebagai raja Iblis.
"Uuuh!! Kurang setengah jam lagi dong" gerutu Hana setelah melihat ponselnya.
"aku bosaaaan" lagi, Hana menguap dengan lebar.
"Hn, kalau begitu gunakan waktu setengah jam untuk menganalisis semua orang"
Rabu, 07 Januari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar