Rabu, 26 November 2014

Yami no Ai [Chapter 128]

Chap 128

"Hn" Yoshiki menyalahkan transmisinya.
"Exorcist mengirimkan pasukan Xeon-21 berjumlah 8 orang. Ketuanya Choi Sakata berperingkat 1020 . Semua tewas. Kita kehilangan 5 orang. Dotsu dan Shizuka selamat"
"Hn. Bagaimana denga dia Tomuro?"
"'dia'? Ah maksudmu Hana? Dia sudah kuantar tadi. Mungkin dia sudah dalam perjalanan sekarang"
"Hn"
"Kau benar-benar akan..."
"Hn"
"Baiklah terserah apa katamu. Kan lebih baik aku yang menjaganya. Kau cukup memerintahku dari sini kan..."
"Ini tugas seorang suami Tomuro"
"Heh... Begitu... Maaf saja aku tidak pernah menjadi suami jadi aku tidak mengerti hal itu. Ngomong-ngomong sepertinya kau sangat menikmati menjadi seorang 'suami'..."
"Hn. Kembalilah bekerja Tomuro."
"Hahaha... Baiklah baiklah"

Setelah menempuh jarak 4 jam dari Tokyo ke Gunma, akhirnya rombongan klub misteri mencapai kaki bukit yang akan mereka daki. Terlihat hiruk pikuk polisi daerah Gunma yang mengerumuni suatu area yang berantakan bagai di terjang badai dengan garis polisi.
"Eh ada apa?" semua para siswa klub misteri merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada tanah longsor satu jam yang lalu" jawab seorang siswa berkacamata bundar.
"Eh benarkah? Ku dengar daerah sini tanahnya kuat" timpal siswi lain.
"Penyebabnya adalah ledakan misterius yang sangat besar"
"Ledakan?" ujar beberapa siswa bebarengan.
"Serius?"
"Kau tahu dari mana Kagami-kun?"
"Heh, jangan remehkan Kagami Otsuki. Aku lah detektif paling handal disini" ujar Kagami dengan membenarkan letak kacamatanya.
"Dia punya paman yang bekerja di kepolisian pusat. Dia bisa dengan mudah mendapatkan informasi seperti itu" suara Yumi seolah menjawab pertanyaan semua siswa.
"Hoo begitu. Pantas saja..." guman seluruh siswa.
"Arghh!! Yumi sialan!!"
sementara terjadi kehebohan di dalam bis, pikiran Hana tak kalah hebohnya. Ia kalut, entah kenapa kejadian longsor tanah itu menurutnya karena ada hubungannya dengan Yoshiki.
"Hoy hoy sudah bercandanya! Kita sudah sampai!" suara Kikuri menginterupsi kehebohan di dalam bis.
"Eh sudah sampai ya?" Kagami celingukan.
JDUAK. Yumi menghantam kepala hijau tua Kagami dengan koran yang digulungnya.
"ittai!" terik Kagami.
"Kita harus mendaki sendiri bodoh!"
"Hah!? Kenapa?"
"Kau tidak ikut rapat kemarin sih" Echo Harai melewati Kagami yang masih memegangi kepalanya. Sementara Yumi sudah meninggalkan bis.
"Oy cotto! Matte!" teriaknya.

Matahari yang sedari tadi tinggi, kini sudah hampir menyembunyikan dirinya. Hana melirik jam tangannya, sudah pukul 5 sore rupannya. Ia tak sadar telah mendaki selama satu jam lebih. Peluh masih menetes di setiap langkahnya yang menapak ke atas.
"Ayo semangat Rayumi!" Yumi menyemangati Hana.
"Hm" Hana tersenyum. "Mau balapan?"
"Oh boleh." Yumi menjawab yakin.
Hana menatap Yumi yakin lalu segera melesat.
"Eh itu curaaang!" Yumi segera menyusul. Mereka berdua melangkah lebar. Tanpa membepedulikan barang-barang berat yang tengah mereka bawa.
"Hn." sebuah gumanan dingin terdengar dari balik-balik tanaman yang menjulang tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.