Chap 117
"Permisi~" Hana menggeser pintu bambu geser dari klub Misteri.
"Wah kau berhasil membawa bajing loncat ini kemari ya Kotori" ujar Kikuri begitu Hana muncul di depannya.
"siapa yg kau maksud bajing loncat hah?" perempatan siku muncul di dahi Hana.
"Ahahaha" Kikuri terkekeh. "Kau bisa ikut kan perkemahan minggu depan kan?" tanya Kikuri serius.
"uhm..." Hana nampak menimbang-nimbang sesuatu.
"Biayanya 2500 �"
"A-apa? Semahal itu?" Hana cukup terngangah.
"Iya. Itu untuk perjalanan selama 2 hari. Kita sudah dapat izin resmi dari kepala sekolah loh. Oh ya kau kan tim kreativ. Kau wajib datang"
"Ya... Akan kupikirkan" jawab Hana ragu.
Perjanjiannya adalah, Hana akan tinggal di tempat Yoshiki selama penyembuhan hidungnya yg retak. Oleh sebab itu, kini sekarang Hana kembali terduduk di kursi di samping kursi kemudi Ferari FF Silver yg dikemudikan Yoshiki.
Kepalanya terasa semakin pecah. Memikirkan biaya perkemahan misteri dan ujian Kimia dadakan tadi.
Hana memijit keningnya merenung. Dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak 2500 � (yen) dalam waktu singkat? Uang yg diberikan Yoshiki sudah habis terpakai untuk memberi seragam, dan sepatu basketnya.
Satu hal yg Hana rutuki saat ini, 'kenapa ia begitu boros?'
Saat ini Hana tengah terduduk di meja belajarnya. Ruangan miliknya itu tertutup sekarang. Tidak ada yg boleh mengganggunya sekarang! Termasuk Misaki!
Bisa dibilang stress meter Hana sudah hampir mencapai puncaknya.
Di depannya sudah terbuka buku catatan Fisika. Besok ia harus menempuh ujian Fisika.
Tapi kepalanya tidak bisa fokus kepada catatan rumit materi Simpangan yg kini terbuka.
Hana mengambil buku-buku soal Fisikanya dari tas. Barangkali dengan mengerjakan beberapa soal ia bisa melupakan masalah uang itu.
Hana mulai membaca soal nomor pertama dengan seksama.
1 detik...
4 detik...
8 detik...
10 detik...
DUK
Hana membenturkan kepalanya ke meja belajarnya.
"sial... Susah... Aku tidak bisa konsentrasi arghhh!! Apalagi perban ini gatal sekali!" Hana menjambaki rambutnya.
Hana bangkit langsung dari tempat duduknya. Ia membawa buku soalnya beserta alat tulisnya keluar ruangannya.
Setelah melangkah keluar dari kamar nyamannya dan nekat menjelajah sendiri manor Yoshiki dengan berbekal daya ingat rendah tentulah Hana tau pasti ia akan mengalami hal ini... Tersesat. Hana tersesat setelah berkali-kali sok tahu berkelok ke sana kemari di manor yg sangat luas ini.
Oke, penyesalan selalu datang di akhir. Jika penyesalan datang di awal, Hana pasti masih membeku di depan meja belajarnya.
Rasanya ingin menangis saja. Rasa stress di kepalanya ditambah sekarang ia tersesat. Sempurna!
Sepertinya ia benar-benar tak berjodoh dengan Yoshiki. Ia harus tersesat dulu sebelum menuju ruangan Yoshiki.
Lagipula itu hanya hipotesis konyol Hana kalau Yoshiki sedang ada di ruangannya.
Gugur sudah keinginan Hana untuk meminta bantuan Yoshiki untuk menyelesaikan soal Fisika-nya. Ia sekarang ingin kembali ke kamarnya! Tapi bagaimana caranya? Ia sepenuhnya tersesat
Sabtu, 15 November 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar