Chap 106
"Baiklah kuterima tantanganmu Kuroto. Giant! Wasit!" teriak Ahashi.
Munculah seorang siswa berbadan cukup gendut.
"Kau yakin Raito?" tanya siswa itu.
"Huh, siswa yg terkenal karena ketampanannya tiba-tiba mengajakku bertanding. Akan kuhancurkan semua harga dirinya" guman Ahashi sambil berlari menuju posisinya.
Yoshiki tahu persis apa yg ada di pikiran Ahashi. Termasuk semua rencana untuk mengalahkan Yoshiki.
Yoshiki dengan seringainya mulai men-service Ahashi.
Permainan dimulai. Semua gadis seakan bersorak mendukung pangeran mereka. Bahkan para siswa yg awalnya tak ingin ikut andil menonton pertandingan, jadi ikut tertarik melihat.
"Masuk. Bola Kuroto" teriak Giant.
Ahashi menatap nanar bola yg baru saja terpantul dihadapannya.
Seluruh siswi bersorak kegirangan.
Permainan kembali dilanjutkan.
"Masuk. Bola Yoshiki"
lagi dan lagi point Yoshiki terus bertambah.
" 2-10 " ujar Giant yg nampak tidak percaya akan hasil. Raito Ahashi--sahabatnya--kalah telak.
Ahashi yg sudah kehilangan semangatnya karena tertinggal jauh semakin bermain aneh.
Yoshiki tersenyum sinis menatap Ahashi.
Akhirnya sang raja iblis memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melakukan reli. Sebuah reli yg sangat panjang dan lama. Tapi semua bola selalu diarahkan Yoshiki ke sisi kanan dan kiri bergantian. Membuat Ahashi harus bergerak ke kanan dan ke kiri selincah mungkin.
'bagus, sedikit lagi!' Yoshiki menghantamkan raketnya ke bola sekuat tenaga. Membuat bola itu terpantul ke arah kiri jauh dari Ahashi.
"gawat!" batin Ahashi. Siswa kelas 2-4 itu segera menuju arah bola dengan melompat.
KRAK-
Persendiannya kaki kanan yg ia gunakan untuk bertumpuh terasa nyut-nyutan.
"arghhh!!" Ahashi tersungkur ke tanah lalu tangannya mencengkram kakinya ke sakitan.
Semua nampak kaget dan segera mengerubuti Ahashi. "panggil perawat UKS!" teriak semuanya panik.
Langkah kaki yg terkesan terburu-buru dengan hentakan kuat menggema di koridor sekolah. Padahal jam sekolah sudah berakhir setengah jam yg lalu. Seharusnya sekolah sudah hampir sepi.
Tidak tidak, jangan berfikir itu hantu. Justru sebaliknya itu adalah Hana yg tengah berlari.
"Yoshiki-kun!"
Akhirnya sosok yg dicarinya ketemu juga. Tak diduga pria itu sedang berjalan di daerah lorong laboratorium.
"Hn" Yoshiki berbalik.
"Bagaimana kencanmu dengan pangeran tennis itu?" lanjut Yoshiki.
PLAK!
Sebuah tamparan kasar membuat pipi pucat Yoshiki memerah.
"Kau....! Kau.... Kenapa kau melakukan itu kepada Ahashi-kun! Minggu depan dia ada pertandingan! Kau sudah menghancurkan impiannya!" air mata membanjiri pipi Hana.
Yoshiki hanya menatap Hana nanar. Ia baru saja di tampar oleh wanita di depannya.
"Hn" Yoshiki kembali berbalik. Ia menyandarkan tubuhnya ke arah dinding di sampingnya.
"Kau... Selalu saja membela pria lain. Kau tahu aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan pria lain..."
"Tapi aku hanya belajar tennis!"
"Kau bisa belajar denganku. Aku akan mengajarimu" guman Yoshiki.
Selasa, 04 November 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar