“Ya?” Sahut Natsume santai.
“A-aku menelepon nomor Hana kan ini?” Yui kebingungan sendiri.
“Kau menelepon nomor yang benar Umei.”
“Lalu kenapa kau yang mengangkatnya?”
“Karena ponsel Hana ada padaku. Kau memiliki perlu dengannya?” Jawab Natsume santai.
“Apa… Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Katanya kamu menggendong Hana keluar Paradise Pool. Kalian berdua pulang begitu saja!” Di tengah pertanyaannya, Yui melontarkan protes.
“Hn, kami berdua pulang.”
“Apa-apaan jawabanmu yang seakan menghindari pertanyaanku itu,” Yui menggerutu.
“Hn.”
“Astaga kami bingung sekali tadi. Bahkan Ishikawa-san sempat ingin menyusul kalian.”
“….” Tidak ada sahutan dari Natsume.
“Baiklah, aku tidak mengerti seperti apa hubungan kalian, semoga berjalan lancar. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Panggilan berakhir.
Natsume menatap dalam ponsel Hana.
“…. Ini akan segera berakhir My Lady,” gumannya yakin.
-[Yami no Ai]-
EXORCIST ASSOCIATION HEADQUATERS
Humanity Staff Room
“Email dari kedutaan?” Seorang pria membetulkan letak kacamatanya sembari menyesap latte-nya.
Double klik pada email yang nampaknya sudah diterima sejak beberapa jam yang lalu.
“GUUH—UHUUK!” Pria itu terbatuk setelah menyemburkan beberapa mili kopinya.
“Hoho ada apa dengan anda Tuan Ivanovic? Menumpahkan kopi anda?” Pemuda berambut gelap yang kebetulan melihat aksi sang pria membuat sebuah guyonan.
“Ini kabar buruk.”
Pria itu mengabaikan guyonan juniornya dan segera melakukan print out email yang diterima.
Sebuah ketukan pintu yang terkesan menuntut dan darurat menggema di ruangan general manager.
“Masuk.”
“Pak, kedaulatan menuntut kita karena campur tangan kita dalam penangkapan agen rahasia federasi.”
“Oh Tuhan!” Sang general manager dengan hand band bertuliskan A-29 berdiri dari kursinya.
“Bagaimana mereka tahu?” A-29 memijat keningnya dalam.
Exorcist Rusia yang menyadari beberapa iblis telah menyusup sebagai agen spesial Rusia. Sementara beberapa agen itu telah ditugaskan untuk menyusup sebagai mata-mata America. Exorcist bergerak sendiri tanpa himbauan dari kedaulatan untuk membocorkan informasi pada America. Agar penyusup iblis itu bisa berada dalam genggaman pemerintah America, dan Exorcist America bisa mengurusi bagian penyegelan.
Namun itu semua telah terbongkar sekarang.
-[Yami no Ai]-
Begitu hendak mengetuk pintu ia sadar bahwa pintu kayu itu sama sekali tidak terkunci, malahan ada sebuah cela terbuka.
Akibatnya Hana bisa mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar dari kamar itu.
“Apa? Kau ingin keluar? Tentu saja kau tak diizinkan. Umhh… Nghh… Ahh…”
“!?” Antara kaget dan ingin tahu, Hana memberanikan diri untuk mengintip aktivitas apa yang ada di kamar Misaki.
Sapphirenya melebar saat melihat Misaki bertubuh telanjang tengah bergerak ke atas dan ke bawah sementara di bawahnya ada seorang pria yang terikat di seluruh alat geraknya. Dan Hana bisa melihat jelas ada sesuatu seperti cincin yang melilit pada penis sang pria.
KRIEEET
Pintu kamar Misaki bergerak sedikit karena mendapat dorongan dari tubuh Hana.
Seketika Misaki berhenti bergerak dan menoleh ke arah Hana dengan melancarkan sebuah serangan berupa gumpalan kegelapan yang tajam di ujungnya.
Tentu saja serangan itu segera musnah tepat di depan mata Hana.
“!!”
“My Lady!” Misaki segera turun dari posisinya.
“Misaki, maaf, maaf aku tidak bermaksud mengintip,” Hana bingung menjelaskan situasinya.
“Tidak My Lady anda tidak harus meminta maaf. Ini salah saya karena tidak menyadari anda.”
Tatapan Hana terfokus pada benda vital Misaki yang sangat basah. ‘Astaga, aku salah waktu ya.’
“Kamu teruskan saja dulu Misaki, jika sudah selesai tolong ke kamarku ya, hehe,” Hana nyengir lima jari. Sejujurnya ia sangat bingung harus bertindak dan berkata apa saat ini.
“Saya akan segera ke sana setelah berpakaian My Lady.”
“Ah… baiklah… terserah sih… Pokoknya kutunggu di kamarku. Oke? Dagh!” Hana ngeloyor pergi sebelum kecanggungan semakin terasa.
-[Yami no Ai]-
Seorang pria terikat secara menyilang dengan penis yang terikat sesuatu. Menahan agar tidak ada cairan yang merembes dari sana. ‘Itu pasti sakit…’ Hana menggelengkan kepalanya ringan.
“My Lady,” dan disusul dengan beberapa kali ketuka di pintu kamarnya.
Itu Misaki. Pelayannya itu benar-benar mengakhiri ‘permainannya’ dan memilih mendatangi dirinya. Sepertinya Hana agak merasa bersalah sekarang.
Hana membuka pintu kamarnya, “ah Misaki, masuklah,” Hana segera menghapus pemikirannya tentang apa yang sudah dilakukan Misaki barusan.
Misaki mengikuti perintah Hana untuk masuk.
Duduk di sebuah sofa, keduanya memulai pembicaraan.
“Misaki ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“… Maaf My Lady jika ini mengenai Ishikawa Guren, saya tidak bisa memberikan pendapat apapun,” tentu saja Misaki tidak ingin insiden kepalanya yang dibenturkan ke dinding sampai dirinya tewas sementara oleh Natsume Haru terulang lagi.
“Eh? Ada apa Misaki? Sesuatu terjadi?” Hana terdiam karena pernyataan Misaki. Hana mencium sesuatu yang aneh.
Misaki membisu sejenak. “… Tidak ada. My Lady. Silahkan melanjutkan pertanyaan anda.”
‘Sesuatu benar-benar terjadi. Sepengetahuanku tidak ada orang lain yang mengetahui soal Ishikawa Guren di istana ini kecuali Natsume Haru dan Misaki. Jadi kemungkinannya Natsume Haru melakukan sesuatu kepada Misaki karena Ishikawa Guren. Pria itu lagi....’
“Baiklah,” Hana memutuskan mengakhiri tema pembicaraan yang nampaknya sangat dihindari Misaki.
“Ini soal tubuhku Misaki,” Hana menatap Misaki serius.
“Tubuh anda?”
Hana mengangguk. “Misaki… aku ini sudah bukan ‘manusia’ lagi kan?”
“Benar My Lady…” Misaki sepertinya sedikit bingung dengan pertanyaan Hana.
“Aku sudah ‘sama’ sepertimu kan?” Lagi-lagi Hana memberikan pertanyaan ambigu.
“Tentu My Lady…” kali ini Misaki memberikan nada yang agak meragukan.
“Lalu, lalu, kenapa aku masih ‘lapar’ dalam makanan manusia? Lalu kenapa aku masih membutuhkan ‘oksigen’ untuk bernafas? Bukankah para Iblis sudah tidak—“ Hana tidak meneruskan kalimatnya.
“Maaf My Lady, soal itu saya tidak mengerti sama sekali. Anda bisa bertanya pada Natsume-dono mengenai itu.”
“Natsume Haru!? Kenapa harus dia!?” Emosi Hana kembali meletup begitu Misaki menyebut nama pria itu. “Dan Misaki apa Natsume Haru mengatakan sesuatu tentang Ishikawa Guren?”
Misaki bangkit dari duduknya. “Natsume-dono akan menjawab pertanyaan-pertanyaan anda My Lady, saya permisi.”
Melihat reaksi Misaki, Hana sepenuhnya yakin jika Natsume Haru telah melakukan sesuatu hingga Misaki tidak berani mengatakan apapun padanya.
“Di mana aku bisa menemui pengkhianat itu?” Hana mendesiskan suaranya.
Misaki berhenti melangkah, menjawab pertanyaan Hana sebelum kemudian benar-benar keluar dari kamar Hana, “Natsume-dono ada di dojo sayap kanan.”
-[Yami no Ai]-
Namun bayangan saat Hana melepaskan genggaman tangannya masih memenuhi kepalanya.
Rasa kesal memenuhi rongga dadanya. Hentakan pada ayunan pedangnya menguat seolah jika pedang itu diarahkan pada sesuatu bisa membuatnya terbelah menjadi dua.
‘My Lady…’ gigi-gignya bergesek.
“Di sini kamu rupanya, pengkhianat berengsek.”
Natsume Haru refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Orang yang selama ini mengisi pikirannya tengah berdiri di depan pintu dojo.
Menghentikan kegiatannya, Natsume Haru mendekati Hana. “Anda mencari saya My Lady?”
“Ya. Kembalikan ponselku!”
Natsume Haru terdiam sejenak. “Maafkan saya. Untuk sementara saya tidak bisa mengembalikan ponsel anda.”
“Kamu ini kenapa sih!? Kamu pasti juga melakukan sesuatu pada Misaki kan!?”
“…” Natsume hanya menunjukkan raut kebingungan. Bingung untuk menjawab pertanyaan Hana seperti apa.
“Sudah kuduga.”
“Anda bisa menanyakan dan berdiskusi tentang apapun pada saya My Lady.”
“Memangnya kau ini siapa?” Tanya Hana ketus.
‘Aku suamimu.’ Kedua alis Natsume Haru tertaut.
“Saya wakil langsung My Lord.”
“Aku punya pertanyaan untukmu. Misaki tidak bisa menjawabnya oleh karena itu aku kemari dengan terpaksa.” Hana memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bibir Natsume Haru membentuk senyuman samar.
‘Benar-benar tidak jujur…’ batinnya.
“Mari berbicara sambil menikmati cemilan malam,” sembari tersenyum sekilas Natsume keluar dari area dojo.
-[Yami no Ai]-
“Tentang tubuhku. Seperti yang kamu ketahui, aku tenggelam tadi. Padahal seharusnya…” intonasi Hana menurun.
“Anda hanya perlu latihan saja. Karena sudah terbiasa bernafas anda jadi panik begitu tenggelam di dalam air. Sebenarnya tadi anda hanya butuh ketenangan saja.” Natsume menjawab santai.
“Benarkah? Hmm begitu ternyata…” Hana mengangguk-angguk mengerti.
“Anda juga bisa mengeluarkan beberapa ‘sihir’ seharusnya,” sambung Natsume.
“Sihir? Aku? Seperti apa?” Hana mulai tertarik.
“Kemarikan tangan anda, saya akan memberikan pendorong.”
Hana telah menjulurkan tangannya, namun Natsume yang juga hendak menjulurkan tangannya mengurungkan diri.
Hana menaikan sebelah alisnya melihat respon Natsume.
“Lebih baik anda tunggu My Lord kembali saja untuk membantu memberikan pendorong sihir untuk anda.”
“Oh,” Hana menarik tangannya, “baiklah, biar Yoshiki-kun saja yang melakukan.”
“My Lady… kemungkinan ini semua akan segera berakhir, bisakah… bisakah anda menjaga diri anda untuk beberapa minggu lagi?” Ada sedikit nada kegetiran dari kalimat Natsume.
Entah bagaimana Hana menangkap dan memahami perasaan Natsume saat ini. Pria di hadapannya itu sekarang seperti terlihat lelah dan menyedihkan.
Sapphire Hana sedikit melebar.
“Anda milik My Lord. Tolong selalu ingat itu. Seperti yang anda ketahui jika My Lord sangat pencemburu karena anda adalah harga diri terbesarnya.”
“Aku tahu itu. Kamu tidak perlu mengingatkanku lagi.”
Natsume menatap Hana lekat.
“Ya, semoga anda mengerti,” ucap Nastume lemah.
Ia tahu, sejak awal hal ini akan menjadi resikonya karena telah kalah.
“Pada akhirnya aku hanya tinggal melatih diriku sendiri. Seharusnya Misaki bisa menjawab pertanyaanku. Karena kamu Misaki jadi takut memberikan pendapatnya,” Hana melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan tatapan marah.
“Itu karena dia telah memberikan saran sembarangan dengan mengizinkan anda menerima tiket dari si sialan Ishikawa Guren itu. Oleh sebab itu untuk kedepannya saya ingin anda harus selalu bertanya kepada saya, dan hanya saya,” Natsume membuang muka.
“—Selera seksual Misaki keras ya…” Hana tidak mendengarkan kalimat Natsume barusan karena kepalanya telah sibuk mengingat-ingat apa yang ia lihat tadi di kamar Misaki.
Sekarang di kepalanya malah terngiang penis yang pria yang berdiri tegak dengan cincin di tengah-tengahnya.
Hana terdiam begitu menyadari sesuatu di bawah miliknya mulai terasa lembab.
Natsume menaikan satu alisnya melihat reaksi aneh Hana.
“Ada apa dengan selera seksual Misaki?” Selidik Natsume.
“Eh!? AAAAH! Tidak. Bukan apa-apa kok,” Hana memalingkan wajahnya yang setengah memerah.
“Sepertinya kali ini saya harus menebas kepala Misaki,” guman Natsume.
“Kamu ini sudah gila ya?” Hana menatap Natsume ngeri.
“Mungkin saja,” Natsume menyahut ambigu.
Tidak ingin menambah runyam masalah Misaki, Hana memutuskan untuk menjelaskan, “Tadi aku melihat Misaki sedang melakukan hubungan seksual,” wajah Hana memerah kesal karena terpaksa menjelaskan hal memalukan di depan Natsume.
“… Apa saja yang anda lihat?”
“Yaah… seorang polos tengah terikat di ranjang. Dan ada sesuatu seperti ring di alat vital pria itu—“
“Anda melihatnya!?” Natsume seketika memotong penjelasan polos Hana.
“Ada dalam jarak pandangku soalnya.”
“Hhh…” Natsume menghela nafas berat.
Lagi-lagi dia kecolongan. Sepertinya benar-benar susah menjaga Hana saat dirinya bukan Kuroto Yoshiki. Baiklah, tidak masalah, hal seperti ini masih bisa ditoleransi.
“Umm soal pandangan, bukannya besok ada festival kembang api ya?”
“Benar, besok tanggalnya,” jawab Natsume yakin.
Hana terdiam sejenak.
Festival kembang api di kuil. Tahun lalu dirinya dan Hana melihatnya di sebuah beranda restoran sebuah hotel karena memang di situlah spot terbaik untuk melihat kembang api yang bermekaran di langit malam Tokyo.
Natsume memandang Hana tanpa berkedip sekalipun.
Sekali lagi, pria itu merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemani istrinya.
-[Yami no Ai]-
“Kenapa kamu bersikeras untuk mengantarku!? Aku bisa berangkat sendiri!” Hana yang duduk di bangku belakang tengah dongkol luar biasa. Pasalnya supirnya ternyata adalah Natsume Haru. Kebodohannya sendiri karena ia tak memeriksa siapa supirnya.
Tidak ada sahutan dari Natsume Haru.
Hana tentu saja akan menolak jika ia yang menjadi supirnya jadi cara terampuh hanya diam-diam menjadi supir pengganti Hana. Kali ini ia tidak ingin kecolongan lagi.
Natsume Haru memarkir mobilnya di lantai bawah.
Hana berpesan begitu keluar dari mobil. “Kalau bisa, jangan berbuat aneh-aneh.”
Natsume hanya bisa memandang bayangan punggung Hana yang mulai lenyap.
“Tch,” decaknya.
Seharusnya ia bisa berjalan di samping Hana. Dan seharusnya malam ini bisa menjadi kencan mereka.
Kepalanya membentur kemudi.
“Menyebalkan,” gumannya.
-[Yami no Ai]-
“Tolong yang ini,” jari telunjuk Hana menunjuk sebuah set makan malam dengan harga total sembilan ribu yen.
“Baik, tolong menunya,” sang waiter dengan sopan menerima pesanan Hana.
Sementara Natsume Haru sudah tidak bisa menahan rasa bosannya. Walaupun Hana menyuruhnya untuk tidak bertindah macam-macam. Ia tetap penasaran dengan keadaan istrinya sekarang.
-[Yami no Ai]-
Seorang pria yang duduk tidak jauh dari meja Hana menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. Tentu saja, siapapun akan menatapmu jika kau bertingkah kampungan di sebuah restoran hotel berbintang bukan?
0 komentar:
Posting Komentar