Selasa, 10 Januari 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 13]



CHAPTER 13: MISSUNDERSTANDING

“Natsume-dono,” begitu melihat punggung sosok yang dikenalnya Misaki seketika menyerukan nama sosok itu.
“Hn?” Natsume Haru berhenti melangkah dan menoleh kea rah Misaki.
“Sampai kapan? Sampai kapan kondisinya seperti ini?”
Natsume tahu apa yang sedang ditanyakan pelayan istrinya ini.
“Se—“
“My Lady tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. My Lady menginginkan My Lord di sampingnya.” Belum sempat Natsume mengatakan satu kata pun, Misaki sudah menyerangnya dengan pernyataan yang mencekik lehernya.
Setelah hening untuk beberapa saat akhirnya pemuda albino itu menjawab, “seminggu lagi, aku akan mengakhiri ini semua minggu ini Misaki.”
“Seminggu… semoga My Lady masih bisa bertahan sampai saat itu. Exorcist tidak akan menyerang hingga saat itu kan?”
“Tidak. Mereka telah menangkap Arashi Tomuro yang menyamar sebagai diriku.”
“Itu kabar baik…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Sudah beberapa hari terlewati sejak saat itu. Sejak Kuroto Yoshiki tertangkap oleh Exorcist. Sejak kedatangan Natsume Haru.
Natsume Haru muncul tiba-tiba dan mengatakan jika dirinya adalah wakil Yoshiki yang lain. Menggantikan Yoshiki yang harus tertahan oleh Exorcist. Tak dapat dipungkiri jika Hana pernah memiliki rasa benci pada pemuda albino itu.
Yoshiki-kun tertangkap, ini semua salahmu. Seharusnya kau yang ditangkap, bukan Yoshiki-kun.’
Namun itu hanyalah sikap egois semata. Kenyataannya secara psikologis, Hana tak ingin kehilangan Yoshiki. Oleh sebab itu ia membutuhkan sesuatu untuk disalahkan dan dibenci.
Hana merapatkan pelukannya pada kedua lututnya. Malam semakin larut dan suhu udara semakin menurun.
Jika diingat-ingat lagi, Natsume Haru memang sangat menyebalkan. Bagaimana cara pemuda itu menyingkapi masalah cinta yang polos dalam kasus surat cinta sangat-sangatlah menyebalkan. Memang benar dia adalah seorang iblis, tapi bukankah itu berlebihan?
Lalu, bagaimana pemuda itu memeluknya. Memeluknya saat dibutuhkannya sebuah sandaran.
Ia harus berterima kasih pada Natsume Haru. Untuk semuanya.
Hana beranjak dari duduknya dan segera melangkah memasuki kamarnya. Rasa hangat menyeruak begitu saja. Ternyata di luar beranda memang sangat dingin.
“Kuroto Yoshiki untuk sementara telah lenyap. Hal bagus bukan? Aku bisa menjaga My Lady lebih leluasa. Tanpa ada pengganggu. Aku mencintai dan menjaga dia dengan caraku sendiri Misaki.”
“…Eh?” Langkah Hana untuk membuka pintu kamarnya terhenti seketika.
Itu tadi Natusme Haru bukan? Apa maksudnya?
Mencintai dan menjaga?
Natsume Haru?
Pecahan kenangan di mana pemuda itu memeluknya dan menatapnya saat festival sekolah pun kembali terngiang. Bayangan berganti saat Natsume menerima surat cinta.
Saya sudah memiliki wanita saya.’
Apa itu maksudnya dirinya?
“….”
Terdengar sahutan Misaki, Hana mulai menajamkan kembali telinganya.
“Atau mungkin sebaiknya Kuroto Yoshiki tidak perlu kembali? Hidup seperti ini, sampai berabad-abad ke depan pun pasti bahagia.”
Hana tertegun oleh kalimat Natsume.
Natsume Haru…. Bersyukur karena Kuroto Yoshiki yang merupakan suaminya ditangkap oleh Exorcist? Dan Natsume Haru ternyata memiliki perasaan padanya?
Jadi, selama ini…. Perhatian itu… pelukan itu… kehangatan itu…
.
-[Yami no Ai]-
.
“Ishikawa-san!” Keluar dari gerbang sekolah, Hana melambai ke arah pria dengan jasnya yang telah ia sampirkan di tangannya.
Ishikawa Guren hanya tersenyum dengan tangannya melambai rendah.
“Ada apa? Tiba-tiba ingin bertemu?” Hana telah berada di hadapan Ishikawa, memberikan tatapan ceria miliknya.
“Lihat,” Ishikawa menunjukkan beberapa lembar tiket di tangannya.
“Woaaa ini tiket berenang!” Hana tercengang.
Ishikawa menjulurkan tangannya, mengartikan bahwa tiket-tiket itu untuk Hana.
“Eh? Buatku?” Hana menunjuk dirinya sendiri.
Ishikawa mengangguk sambil mempertahankan senyumannya.
Dengan ragu Hana menerima lembaran-lembaran tiket dari tangan Ishikawa.
“T-Tapi ini terlalu banyak Ishikawa-san.”
“Kalau begitu ajak saja teman-temanmu. Aku juga sudah memegang satu tiket.”
“Ah? Aku boleh mengajak teman-temanku juga?” Hana semakin sumringah.
Ishikawa kembali mengangguk, “ajak saja.”
“Kalau begitu, hari minggu besok jam 10 siang,” Ishikawa memasuki mobilnya.
“Tentu! Terima kasih banyak!” Hana berojigi sementara mobil sedan putih itu mulai menyala dan melaju perlahan.
“Hana!” Seketika Hana menolehkan kepalanya begitu mendengar namanya terpanggil.
“Yui?” Hana menyebut nama perempuan yang memanggil namanya.
“Di sini kau rupanya, daritadi Natsume Haru mencarimu kemana-mana,” Yui menunjuk kea rah pemuda albino yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah—tengah menatapnya.
“Maaf, aku ada perlu dengan Ishikawa Guren-san.”
“Ishikawa-san!? Sudahlah Hana, kalian segeralah jadian!” Celetuk Yui tak sabar.
Natsume nampak sedikit mendongkakkan kepalanya begitu mendengar nama pemilik Ishikawa Corp.
“Dia hanya teman masa kecil Yui. Dan… yuk ke kolam renang!” Hana dengan bangga menunjukkan lembaran-lembaran tiket yang baru ia peroleh dari Ishikawa.
“I-Ini… Paradise Pool kelas VIP… Kita bisa naik wahana yang lain dengan gratis! Ishikawa Guren memberimu sebanyak ini!?” Yui tak kalah terkejut.
Hana menangguk mantap.
“Totalnya ada  4 tiket. Akan kita berikan pada siapa saja?” Hana membolak-balik lembaran tiket di tangannya, “Untukku, Yui, dan Ida-san tentu saja… hmmm sisa satu.”
“Hei kamu melupakan dia…” lagi-lagi Yui dengan seenaknya menunjuk ke belakang. Menunjuk Natsume Haru yang menatap serius ke arah keduanya.
“Natsume-kun?” Hana menggumankan nama pria itu. Detik berikutnya kepalanya hanya berisi gambaran-gambaran memuakkan mengenai pria itu. Fakta bahwa pria itu menginginkan suaminya, Kuroto Yoshiki tidak perlu kembali.
“Lebih baik tidak,” ucap Hana lemah.
“Oh! Tentu saja! Dia akan mengganggu kencanmu dengan Ishikawa-san!” Yui menepuk kedua tangannya seolah mengerti segalanya.
“Aku tidak berkencan dengannya Yui. Bukankah sudah kukatakan itu berkali-kali?” Hana menggerutu malas sementara ia membagikan tujuh tiket pada Yui. “Berikan kepada Maki dan Shiro, sisanya kamu ajak siapapun juga boleh. Adikmu yang kelas 3 SD itu juga boleh.”
“Heee kenapa? Bukankah kamu juga sedang kosong? Berkencanlah saja dengannya. Dia kaya dan tampan,” Yui menerima tiket.
Hana tak menyahuti lagi kalimat Yui. Kakinya melangkah melewati perempuan berambut ungu itu begitu saja dan berjalan pulang tanpa memperdulikan Natsume atau siapapun.
Mood Hana luar biasa buruk sekarang.
Dia tidak kosong! Dirinya adalah milik Kuroto Yoshiki. Kaya? Tampan? Memang benar Ishikawa Guren sangat cocok dengan point-point itu. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan Kuroto Yoshiki yang terlampau sempurna.
Lalu tanpa diminta, bayangan sosok Natsume kembali membayangi kepalanya.
Hana meremat erat pegangan tasnya.
Pemuda itu adalah mood breaker utamanya. Terburuk! Natsume Haru adalah yang terburuk! Terkejam!
“My Lady!” Tak kuasa menahan tarikan pada tangannya, tubuh Hana berputar ke belakang. Natsume Haru, telah menarik tangannya.
Rasa kesal itu kembali membuncah begitu wajah Natsume Haru mengisi indra penglihatannya.
“Apa maumu pengkhianat?” Desis Hana.
“….” Natsume terdiam beberapa saat. Kedua bola matanya bergerak tak menentu. Pemuda itu kebingungan.
“Maaf My Lady, saya tidak mengerti apa maksud anda. Anda tiba-tiba berubah seperti ini. Dan… apa itu pengkhianat?”
Yoshiki sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Hana. Sejak pagi Hana tiba-tiba menjadi seperti ini. Menolak diantar ke sekolah dan memilih berjalan kaki. Selama di sekolah pun wanitanya itu sama sekali tak menghiraukannya. Sekarang, Hana malah mengirimkan sinyal permusuhan padanya, pada Natsume Haru.
“Kau pengkhianat! Aku membencimu!” Hana menghentakkan tangannya hingga cengkraman pria itu mengendur.
Apa? Pengkhianat? Apa yang sudah dilakukan oleh sosok Natsume Haru?
Tidak. Lupakan itu untuk sementara. Ada hal yang lebih penting.
“Anda baru saja menemui… Ishikawa Guren?”
Hana yang sudah melangkah beberapa meter dari Natsume terpaksa berhenti.
“Itu bukan urusanmu…” ucap Hana dingin dan kembali melangkah.
Natsume membeku seketika.
“Tch!” Decakan kesal mengisi rongga mulut Natsume.
Dengan langkah cepat Natsume menyusul Hana.
“Bila begitu, lebih baik saya musnahkan saja Ishikawa Guren. Dia merupakan ancaman bagi My Lord.” Ucap Natsume tegas.
“Ancaman? Hahahaha,” Hana tertawa miris, “kaulah yang sebenarnya ancaman itu sendiri!”
Natusme menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Hana.
“Tolong, jelaskan apa yang sebenarnya telah saya salah perbuat.”
Hana melirik dingin Natsume sekilas, “tidak ada yang bisa kujelaskan padamu. Jika Yoshiki-kun sampai tidak selamat, kaulah pembunuh. Pengkhianat. Dan jika kamu berani melakukan sesuatu pada Ishikawa-san, akulah yang akan membunuhmu.”
Yoshiki-kun? Ini ada hubungannya dengan penangkapan dirinya?
“Jika saya memiliki salah kepada My Lord, mohon maafkan saya. Namun untuk masalah Ishikawa Guren, saya tidak akan tinggal diam.”
“… Aku tidak peduli.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Dering ponsel menunjukkan adanya panggilan masuk menggema di dalam kamar anak sulung keluarga Umei.
“Ya, ya, tunggu sebentar,” sang pemilik ponsel segera mengakhiri aktivitas mengeringkan rambutnya yang telah usai ia cuci.
Meraih ponselnya dan menjawab panggilan masuk itu, “halo dengan Umei Yui.”
“Umei-san.”
Kaget karena suara sang penelepon, Yui menatap layar ponselnya sekilas. Nomor tak dikenal. Pantas saja.
“Natsume-san?” Tebak Yui.
“Hn, ada yang ingin kutanyakan,” dari ujung sana terdengar betapa berwibawa dan mengerikannya suara pemuda itu.
“Oh… silahkan silahkan,” Yui tidak mau membuang-buang waktu dengan menanyakan ‘kamu tahu nomor ponselku dari siapa?’ Karena dari nada bicara Natsume, Yui tahu hal ini sangat mendesak sekali.
“Kau tahu kenapa Ishikawa Guren menemui Hana?” Yui bisa menangkap jelas kekesalan luar biasa dari tiap penekanan kalimat pria itu.
‘Jadi, Hana tidak memberitahunya…’ pikir Yui.
“Ishikawa-san memberikan beberapa tiket VIP class Paradise Pool,” entah bagaimana Yui tidak bisa berbohong.
“Tiket?”
Yui mengangguk refleks dalam percakapan teleponnya, “total empat tiket. Hana menitipkan tujuh tiket padaku untuk diberikan kepada teman-teman. Tiket ini untuk hari minggu besok. Katanya, Ishikawa-kun juga akan datang.”
“…..”
Lama tidak ada sahutan dari Natsume Haru.
“N-Natsume-san?”
“Hn, kalau begitu terima kasih informasinya. Umei Yui.”
“A-ah ada satu sisa tiket sebenarnya, jika Natsume-san mau ikut aku bisa memberikannya.”
“Tidak. Aku tidak akan menerima apapun dari si sialan itu.”
“A-ano Natsume-san!”
“Hn?”
“Apa Natsume-san benar-benar tidak mau ikut? Tempatnya menyenangkan, kita bersenang-senang dengan teman-teman,”
“Aku akan ikut. Tapi tidak dengan tiket si sialan itu. Selamat malam.”
Panggilan diakhiri sepihak oleh Natsume.
Yui menatap layar ponselnya dengan pikiran berkecamuk.
“…. Astaga astaga. Natsume Haru benar-benar keren. Suaranya luar biasa berwibawa,” yui menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
“Tidak-tidak,” menggeleng-nggelengkan kepalanya menolak segara pemikirannya yang terpesona pada sosok albino itu.
“Aku sudah memiliki Ida-kun,” ucapnya mantap.
“Hei hei,” lalu tiba-tiba sebuah pemikiran datang, “kenapa Natsume-san sangat penasaran sekali? Si sialan? Apa Natsume-san sedang cemburu?”
Di kepala Yui terbentuk skema…
Ishikawa > Hana < Natsume
Yui tertawa hambar berikutnya. ‘Hahaha astaga aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini…’
“Oh sebaiknya aku harus menyiapkan pakaian renang terbaik!”
.
-[Yami no Ai]-
.
“Misaki?” Perempuan berambut coklat pendek itu lantas menoleh ke belakang begitu namanya dipanggil. Menghentikan kegiatannya membaca selembar kertas.
“My Lady,” menyadari sosok yang telah memanggilnya adalah sang ratu, maid itu menundukkan kepalanya dalam, memberi hormat.
“Misaki sedang apa? Sibuk?” Hana melongok ke arah kertas yang dibawa Misaki.
“Tidak, saya hanya mengatur pertemuan-pertemuan yang harus dihadiri para dewan.”
Hana menundukkan kepalanya, “Misaki pasti kerepotan setelah Yoshiki-kun dan Tomuro-kun pergi.”
“Tidak. Tidak,” Misaki segera menggelengkan kepalanya kuat saat menyadari perasaan Hana, “lagi pula ada Natsume-sama yang membantu.”
“Ah anu Misaki,” Hana kembali mengangkat kepalanya, memulai pembicaraan yang ingin dia utarakan, “ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Kedua alis Misaki sedikit tertaut, “silahkan, My Lady.”
“Ishikawa Guren memberikanku tiket untuk ke kolam renang. Teman-temanku yang lain juga mendapatkannya. Aku harus apa? Yoshiki-kun sedang berjuang di luar sana. Mana mungkin aku bersenang-senang di sini.”
Lidah Misaki keluh. Ia tidak mempu memberikan saran apapun. Hal ini terlalu sensitif.
“Apa… Natsume-sama tahu hal ini?” Tanya Misaki ragu.
“Kenapa malah membicarakan Natsume Haru!?” Tatapan Hana memincing.
Natsume Haru yang saat itu tengah bermain dart di ruangan dekat kedua wanita itu berbicara seketika berhenti menembakkan panah dart di tangannya. Memasang kedua telinganya, Natsume mendengarkan percakapan antar wanita itu.
Misaki terdiam membeku. Kembali tak bisa mengatakan apapun. Walaupun ingin, lidahnya telah tersegel agar tidak mengatakan apapun tentang fakta bahwa Natsume Haru adalah Kuroto Yoshiki, suami dari sang ratu.
“Ah Um, tidak, lupakan saja, maaf, My Lady.”
“Jadi, bagaiaman Misaki?”
“Jika anda memang mencintai My Lord, lebih baik anda tidak datang. Tetapi anda juga berhak bersenang-senang, saya mengkhawatirkan kondisi anda akhir-akhir ini. Asal anda bisa menjaga diri anda.” Misaki menekankan kalimatnya di akhir.
Hana mengangguk, “kalau begitu Misaki bisa siapkan pakaian renang untukku?”
“Yes, My Lady.” Misaki menunduk taat.
“Yosh, terima kasih Misaki!” Hana melambai sumringah dan pergi meinggalkan Misaki.
Klek
Pintu di belakang Misaki terbuka dan munculah Natsume Haru dari baliknya.
DRAAAK
Kejadian itu terlalu cepat. Begitu Misaki menoleh ke belakang, Natsume Haru telah meraih mulut Misaki dengan kasar dan menghantamkan kepala sang maid pada tembok.
Retak. Tembok yang terkena hantaman kepala Misaki itu retak berat. Beberapa tetes darah menetes dari sana.
Sementara Misaki sukses meninggal sementara. Gegar otak tentu saja. Momentum yang diciptakan kepalanya bersirobok dengan kerasnya dinding mansion. Tubuh manusia memang sangatlah lemah. Hingga proses regenerasi selesai, Misaki akan tetap tak sadarkan diri.
Namun jika regenerasi Misaki tidak cepat, tidak mungkin ia ditunjuk sebagai maid pribadi sang ratu.
Dalam hitungan detik, kornea Misaki yang tadinya tenggelam ke atas, kembali muncul. Misaki telah sadar sepenuhnya.
“M-M…”
GRRRRT
Tidak ada ampun. Begitu Misaki hendak mengucapkan suatu kalimat, tangan lebar Natsume kembali mencengkram erat rongga mulut Misaki.
“Hak katamu? Kau sendiri memiliki hak apa mengatakan hal seperti itu padanya?” Ucap Natsume dingin.
“Lain kali jika dia meminta saran padamu mengenai Ishikawa Guren sialan itu, kau harus membuatnya selalu mengingatku, mengingat kondisiku.” Perlahan dilepaskannya cengkraman pada mulut Misaki.
“Ha’i. Maafkan saya, Natsume-dono,” Misaki menunduk dalam.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.