CHAPTER 13:
MISSUNDERSTANDING
“Natsume-dono,” begitu melihat punggung sosok yang
dikenalnya Misaki seketika menyerukan nama sosok itu.
“Hn?” Natsume Haru berhenti melangkah dan menoleh kea rah
Misaki.
“Sampai kapan? Sampai kapan kondisinya seperti ini?”
Natsume tahu apa yang sedang ditanyakan pelayan istrinya
ini.
“Se—“
“My Lady tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. My Lady
menginginkan My Lord di sampingnya.” Belum sempat Natsume mengatakan satu kata
pun, Misaki sudah menyerangnya dengan pernyataan yang mencekik lehernya.
Setelah hening untuk beberapa saat akhirnya pemuda albino
itu menjawab, “seminggu lagi, aku akan mengakhiri ini semua minggu ini Misaki.”
“Seminggu… semoga My Lady masih bisa bertahan sampai saat
itu. Exorcist tidak akan menyerang hingga saat itu kan?”
“Tidak. Mereka telah menangkap Arashi Tomuro yang menyamar
sebagai diriku.”
“Itu kabar baik…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Sudah beberapa hari terlewati sejak saat itu. Sejak Kuroto
Yoshiki tertangkap oleh Exorcist. Sejak kedatangan Natsume Haru.
Natsume Haru muncul tiba-tiba dan mengatakan jika dirinya
adalah wakil Yoshiki yang lain. Menggantikan Yoshiki yang harus tertahan oleh
Exorcist. Tak dapat dipungkiri jika Hana pernah memiliki rasa benci pada pemuda
albino itu.
‘Yoshiki-kun
tertangkap, ini semua salahmu. Seharusnya kau yang ditangkap, bukan
Yoshiki-kun.’
Namun itu hanyalah sikap egois semata. Kenyataannya secara
psikologis, Hana tak ingin kehilangan Yoshiki. Oleh sebab itu ia membutuhkan
sesuatu untuk disalahkan dan dibenci.
Hana merapatkan pelukannya pada kedua lututnya. Malam semakin
larut dan suhu udara semakin menurun.
Jika diingat-ingat lagi, Natsume Haru memang sangat
menyebalkan. Bagaimana cara pemuda itu menyingkapi masalah cinta yang polos
dalam kasus surat cinta sangat-sangatlah menyebalkan. Memang benar dia adalah
seorang iblis, tapi bukankah itu berlebihan?
Lalu, bagaimana pemuda itu memeluknya. Memeluknya saat
dibutuhkannya sebuah sandaran.
Ia harus berterima kasih pada Natsume Haru. Untuk semuanya.
Hana beranjak dari duduknya dan segera melangkah memasuki
kamarnya. Rasa hangat menyeruak begitu saja. Ternyata di luar beranda memang
sangat dingin.
“Kuroto Yoshiki untuk sementara telah lenyap. Hal bagus
bukan? Aku bisa menjaga My Lady lebih leluasa. Tanpa ada pengganggu. Aku
mencintai dan menjaga dia dengan caraku sendiri Misaki.”
“…Eh?” Langkah Hana untuk membuka pintu kamarnya terhenti
seketika.
Itu tadi Natusme Haru bukan? Apa maksudnya?
Mencintai dan menjaga?
Natsume Haru?
Pecahan kenangan di mana pemuda itu memeluknya dan
menatapnya saat festival sekolah pun kembali terngiang. Bayangan berganti saat
Natsume menerima surat cinta.
‘Saya sudah memiliki
wanita saya.’
Apa itu maksudnya dirinya?
“….”
Terdengar sahutan Misaki, Hana mulai menajamkan kembali
telinganya.
“Atau mungkin sebaiknya Kuroto Yoshiki tidak perlu kembali?
Hidup seperti ini, sampai berabad-abad ke depan pun pasti bahagia.”
Hana tertegun oleh kalimat Natsume.
Natsume Haru…. Bersyukur karena Kuroto Yoshiki yang
merupakan suaminya ditangkap oleh Exorcist? Dan Natsume Haru ternyata memiliki
perasaan padanya?
Jadi, selama ini…. Perhatian itu… pelukan itu… kehangatan
itu…
.
-[Yami no Ai]-
.
“Ishikawa-san!” Keluar dari gerbang sekolah, Hana melambai
ke arah pria dengan jasnya yang telah ia sampirkan di tangannya.
Ishikawa Guren hanya tersenyum dengan tangannya melambai
rendah.
“Ada apa? Tiba-tiba ingin bertemu?” Hana telah berada di
hadapan Ishikawa, memberikan tatapan ceria miliknya.
“Lihat,” Ishikawa menunjukkan beberapa lembar tiket di
tangannya.
“Woaaa ini tiket berenang!” Hana tercengang.
Ishikawa menjulurkan tangannya, mengartikan bahwa
tiket-tiket itu untuk Hana.
“Eh? Buatku?” Hana menunjuk dirinya sendiri.
Ishikawa mengangguk sambil mempertahankan senyumannya.
Dengan ragu Hana menerima lembaran-lembaran tiket dari
tangan Ishikawa.
“T-Tapi ini terlalu banyak Ishikawa-san.”
“Kalau begitu ajak saja teman-temanmu. Aku juga sudah
memegang satu tiket.”
“Ah? Aku boleh mengajak teman-temanku juga?” Hana semakin
sumringah.
Ishikawa kembali mengangguk, “ajak saja.”
“Kalau begitu, hari minggu besok jam 10 siang,” Ishikawa
memasuki mobilnya.
“Tentu! Terima kasih banyak!” Hana berojigi sementara mobil
sedan putih itu mulai menyala dan melaju perlahan.
“Hana!” Seketika Hana menolehkan kepalanya begitu mendengar
namanya terpanggil.
“Yui?” Hana menyebut nama perempuan yang memanggil namanya.
“Di sini kau rupanya, daritadi Natsume Haru mencarimu
kemana-mana,” Yui menunjuk kea rah pemuda albino yang tengah berdiri di depan
gerbang sekolah—tengah menatapnya.
“Maaf, aku ada perlu dengan Ishikawa Guren-san.”
“Ishikawa-san!? Sudahlah Hana, kalian segeralah jadian!”
Celetuk Yui tak sabar.
Natsume nampak sedikit mendongkakkan kepalanya begitu
mendengar nama pemilik Ishikawa Corp.
“Dia hanya teman masa kecil Yui. Dan… yuk ke kolam renang!”
Hana dengan bangga menunjukkan lembaran-lembaran tiket yang baru ia peroleh
dari Ishikawa.
“I-Ini… Paradise Pool kelas VIP… Kita bisa naik wahana yang
lain dengan gratis! Ishikawa Guren memberimu sebanyak ini!?” Yui tak kalah
terkejut.
Hana menangguk mantap.
“Totalnya ada 4 tiket.
Akan kita berikan pada siapa saja?” Hana membolak-balik lembaran tiket di tangannya,
“Untukku, Yui, dan Ida-san tentu saja… hmmm sisa satu.”
“Hei kamu melupakan dia…” lagi-lagi Yui dengan seenaknya
menunjuk ke belakang. Menunjuk Natsume Haru yang menatap serius ke arah
keduanya.
“Natsume-kun?” Hana menggumankan nama pria itu. Detik
berikutnya kepalanya hanya berisi gambaran-gambaran memuakkan mengenai pria
itu. Fakta bahwa pria itu menginginkan suaminya, Kuroto Yoshiki tidak perlu
kembali.
“Lebih baik tidak,” ucap Hana lemah.
“Oh! Tentu saja! Dia akan mengganggu kencanmu dengan
Ishikawa-san!” Yui menepuk kedua tangannya seolah mengerti segalanya.
“Aku tidak berkencan dengannya Yui. Bukankah sudah kukatakan
itu berkali-kali?” Hana menggerutu malas sementara ia membagikan tujuh tiket
pada Yui. “Berikan kepada Maki dan Shiro, sisanya kamu ajak siapapun juga
boleh. Adikmu yang kelas 3 SD itu juga boleh.”
“Heee kenapa? Bukankah kamu juga sedang kosong? Berkencanlah
saja dengannya. Dia kaya dan tampan,” Yui menerima tiket.
Hana tak menyahuti lagi kalimat Yui. Kakinya melangkah
melewati perempuan berambut ungu itu begitu saja dan berjalan pulang tanpa
memperdulikan Natsume atau siapapun.
Mood Hana luar biasa buruk sekarang.
Dia tidak kosong! Dirinya adalah milik Kuroto Yoshiki. Kaya?
Tampan? Memang benar Ishikawa Guren sangat cocok dengan point-point itu. Tapi
tetap saja tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan Kuroto Yoshiki yang
terlampau sempurna.
Lalu tanpa diminta, bayangan sosok Natsume kembali
membayangi kepalanya.
Hana meremat erat pegangan tasnya.
Pemuda itu adalah mood
breaker utamanya. Terburuk! Natsume Haru adalah yang terburuk! Terkejam!
“My Lady!” Tak kuasa menahan tarikan pada tangannya, tubuh
Hana berputar ke belakang. Natsume Haru, telah menarik tangannya.
Rasa kesal itu kembali membuncah begitu wajah Natsume Haru mengisi
indra penglihatannya.
“Apa maumu pengkhianat?” Desis Hana.
“….” Natsume terdiam beberapa saat. Kedua bola matanya
bergerak tak menentu. Pemuda itu kebingungan.
“Maaf My Lady, saya tidak mengerti apa maksud anda. Anda
tiba-tiba berubah seperti ini. Dan… apa itu pengkhianat?”
Yoshiki sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan
Hana. Sejak pagi Hana tiba-tiba menjadi seperti ini. Menolak diantar ke sekolah
dan memilih berjalan kaki. Selama di sekolah pun wanitanya itu sama sekali tak
menghiraukannya. Sekarang, Hana malah mengirimkan sinyal permusuhan padanya,
pada Natsume Haru.
“Kau pengkhianat! Aku membencimu!” Hana menghentakkan
tangannya hingga cengkraman pria itu mengendur.
Apa? Pengkhianat? Apa yang sudah dilakukan oleh sosok
Natsume Haru?
Tidak. Lupakan itu untuk sementara. Ada hal yang lebih
penting.
“Anda baru saja menemui… Ishikawa Guren?”
Hana yang sudah melangkah beberapa meter dari Natsume
terpaksa berhenti.
“Itu bukan urusanmu…” ucap Hana dingin dan kembali
melangkah.
Natsume membeku seketika.
“Tch!” Decakan kesal mengisi rongga mulut Natsume.
Dengan langkah cepat Natsume menyusul Hana.
“Bila begitu, lebih baik saya musnahkan saja Ishikawa Guren.
Dia merupakan ancaman bagi My Lord.” Ucap Natsume tegas.
“Ancaman? Hahahaha,” Hana tertawa miris, “kaulah yang
sebenarnya ancaman itu sendiri!”
Natusme menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak
mengerti apa yang sedang dibicarakan Hana.
“Tolong, jelaskan apa yang sebenarnya telah saya salah
perbuat.”
Hana melirik dingin Natsume sekilas, “tidak ada yang bisa
kujelaskan padamu. Jika Yoshiki-kun sampai tidak selamat, kaulah pembunuh.
Pengkhianat. Dan jika kamu berani melakukan sesuatu pada Ishikawa-san, akulah
yang akan membunuhmu.”
Yoshiki-kun? Ini ada hubungannya dengan penangkapan dirinya?
“Jika saya memiliki salah kepada My Lord, mohon maafkan
saya. Namun untuk masalah Ishikawa Guren, saya tidak akan tinggal diam.”
“… Aku tidak peduli.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Dering ponsel menunjukkan adanya panggilan masuk menggema di
dalam kamar anak sulung keluarga Umei.
“Ya, ya, tunggu sebentar,” sang pemilik ponsel segera
mengakhiri aktivitas mengeringkan rambutnya yang telah usai ia cuci.
Meraih ponselnya dan menjawab panggilan masuk itu, “halo
dengan Umei Yui.”
“Umei-san.”
Kaget karena suara sang penelepon, Yui menatap layar
ponselnya sekilas. Nomor tak dikenal. Pantas saja.
“Natsume-san?” Tebak Yui.
“Hn, ada yang ingin kutanyakan,” dari ujung sana terdengar
betapa berwibawa dan mengerikannya suara pemuda itu.
“Oh… silahkan silahkan,” Yui tidak mau membuang-buang waktu
dengan menanyakan ‘kamu tahu nomor ponselku dari siapa?’ Karena dari nada
bicara Natsume, Yui tahu hal ini sangat mendesak sekali.
“Kau tahu kenapa Ishikawa Guren menemui Hana?” Yui bisa
menangkap jelas kekesalan luar biasa dari tiap penekanan kalimat pria itu.
‘Jadi, Hana tidak memberitahunya…’ pikir Yui.
“Ishikawa-san memberikan beberapa tiket VIP class Paradise
Pool,” entah bagaimana Yui tidak bisa berbohong.
“Tiket?”
Yui mengangguk refleks dalam percakapan teleponnya, “total empat
tiket. Hana menitipkan tujuh tiket padaku untuk diberikan kepada teman-teman.
Tiket ini untuk hari minggu besok. Katanya, Ishikawa-kun juga akan datang.”
“…..”
Lama tidak ada sahutan dari Natsume Haru.
“N-Natsume-san?”
“Hn, kalau begitu terima kasih informasinya. Umei Yui.”
“A-ah ada satu sisa tiket sebenarnya, jika Natsume-san mau
ikut aku bisa memberikannya.”
“Tidak. Aku tidak akan menerima apapun dari si sialan itu.”
“A-ano Natsume-san!”
“Hn?”
“Apa Natsume-san benar-benar tidak mau ikut? Tempatnya
menyenangkan, kita bersenang-senang dengan teman-teman,”
“Aku akan ikut. Tapi tidak dengan tiket si sialan itu.
Selamat malam.”
Panggilan diakhiri sepihak oleh Natsume.
Yui menatap layar ponselnya dengan pikiran berkecamuk.
“…. Astaga astaga. Natsume Haru benar-benar keren. Suaranya
luar biasa berwibawa,” yui menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
“Tidak-tidak,” menggeleng-nggelengkan kepalanya menolak
segara pemikirannya yang terpesona pada sosok albino itu.
“Aku sudah memiliki Ida-kun,” ucapnya mantap.
“Hei hei,” lalu tiba-tiba sebuah pemikiran datang, “kenapa
Natsume-san sangat penasaran sekali? Si sialan? Apa Natsume-san sedang
cemburu?”
Di kepala Yui terbentuk skema…
Ishikawa > Hana
< Natsume
Yui tertawa hambar berikutnya. ‘Hahaha astaga aku tidak
menyangka akan menjadi seperti ini…’
“Oh sebaiknya aku harus menyiapkan pakaian renang terbaik!”
.
-[Yami no Ai]-
.
“Misaki?” Perempuan berambut coklat pendek itu lantas
menoleh ke belakang begitu namanya dipanggil. Menghentikan kegiatannya membaca
selembar kertas.
“My Lady,” menyadari sosok yang telah memanggilnya adalah
sang ratu, maid itu menundukkan kepalanya dalam, memberi hormat.
“Misaki sedang apa? Sibuk?” Hana melongok ke arah kertas
yang dibawa Misaki.
“Tidak, saya hanya mengatur pertemuan-pertemuan yang harus
dihadiri para dewan.”
Hana menundukkan kepalanya, “Misaki pasti kerepotan setelah
Yoshiki-kun dan Tomuro-kun pergi.”
“Tidak. Tidak,” Misaki segera menggelengkan kepalanya kuat
saat menyadari perasaan Hana, “lagi pula ada Natsume-sama yang membantu.”
“Ah anu Misaki,” Hana kembali mengangkat kepalanya, memulai
pembicaraan yang ingin dia utarakan, “ada sesuatu yang ingin kubicarakan
denganmu.”
Kedua alis Misaki sedikit tertaut, “silahkan, My Lady.”
“Ishikawa Guren memberikanku tiket untuk ke kolam renang.
Teman-temanku yang lain juga mendapatkannya. Aku harus apa? Yoshiki-kun sedang
berjuang di luar sana. Mana mungkin aku bersenang-senang di sini.”
Lidah Misaki keluh. Ia tidak mempu memberikan saran apapun.
Hal ini terlalu sensitif.
“Apa… Natsume-sama tahu hal ini?” Tanya Misaki ragu.
“Kenapa malah membicarakan Natsume Haru!?” Tatapan Hana
memincing.
Natsume Haru yang saat itu tengah bermain dart di ruangan
dekat kedua wanita itu berbicara seketika berhenti menembakkan panah dart di tangannya.
Memasang kedua telinganya, Natsume mendengarkan percakapan antar wanita itu.
Misaki terdiam membeku. Kembali tak bisa mengatakan apapun.
Walaupun ingin, lidahnya telah tersegel agar tidak mengatakan apapun tentang
fakta bahwa Natsume Haru adalah Kuroto Yoshiki, suami dari sang ratu.
“Ah Um, tidak, lupakan saja, maaf, My Lady.”
“Jadi, bagaiaman Misaki?”
“Jika anda memang mencintai My Lord, lebih baik anda tidak
datang. Tetapi anda juga berhak bersenang-senang, saya mengkhawatirkan kondisi
anda akhir-akhir ini. Asal anda bisa menjaga diri anda.” Misaki menekankan
kalimatnya di akhir.
Hana mengangguk, “kalau begitu Misaki bisa siapkan pakaian
renang untukku?”
“Yes, My Lady.” Misaki menunduk taat.
“Yosh, terima kasih Misaki!” Hana melambai sumringah dan
pergi meinggalkan Misaki.
Klek
Pintu di belakang Misaki terbuka dan munculah Natsume Haru
dari baliknya.
DRAAAK
Kejadian itu terlalu cepat. Begitu Misaki menoleh ke
belakang, Natsume Haru telah meraih mulut Misaki dengan kasar dan menghantamkan
kepala sang maid pada tembok.
Retak. Tembok yang terkena hantaman kepala Misaki itu retak
berat. Beberapa tetes darah menetes dari sana.
Sementara Misaki sukses meninggal sementara. Gegar otak
tentu saja. Momentum yang diciptakan kepalanya bersirobok dengan kerasnya
dinding mansion. Tubuh manusia memang sangatlah lemah. Hingga proses regenerasi
selesai, Misaki akan tetap tak sadarkan diri.
Namun jika regenerasi Misaki tidak cepat, tidak mungkin ia
ditunjuk sebagai maid pribadi sang ratu.
Dalam hitungan detik, kornea Misaki yang tadinya tenggelam
ke atas, kembali muncul. Misaki telah sadar sepenuhnya.
“M-M…”
GRRRRT
Tidak ada ampun. Begitu Misaki hendak mengucapkan suatu
kalimat, tangan lebar Natsume kembali mencengkram erat rongga mulut Misaki.
“Hak katamu? Kau sendiri memiliki hak apa mengatakan hal
seperti itu padanya?” Ucap Natsume dingin.
“Lain kali jika dia meminta saran padamu mengenai Ishikawa
Guren sialan itu, kau harus membuatnya selalu mengingatku, mengingat
kondisiku.” Perlahan dilepaskannya cengkraman pada mulut Misaki.
“Ha’i. Maafkan saya, Natsume-dono,” Misaki menunduk dalam.
0 komentar:
Posting Komentar