CHAPTER 65: HUSBAND’S WORK
“Cih,” perempuan itu seolah kehilangan sopan santunnya, tanpa diundang langsung menduduki kursi di hadapan Yoshiki dan menyilangkan kakinya.
“Tidak kusangka seleramu serendah ini, Kuroto-san,” wanita itu menyodorkan ponselnya yang tengah menampilkan foto dirinya dan Hana tengah makan bersama di restoran cepat saji siang tadi.
“Hn, dengan merendahkan orang lain apakah kau akan terlihat lebih tinggi dan pantas, Tenko-san?” Yoshiki berguman datar.
“Siapapun akan mengatakan aku lebih baik daripada istrimu itu Kuroto-san.”
Yoshiki menegakkan badannya, “bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau sama sekali tidak sebanding dengan istriku?” mata pria itu berkilat, marah.
“Apa? Kamu ini buta Kuroto-san?” Shiroi Tenko nampak menaikkan sebelah alisnya.
“Tidak. Penglihatanku saat ini adalah yang terbaik.”
“Ah aku mengerti,” perempuan itu mengangguk congkak, “tentu saja aku tidak akan sebanding dengan istrimu yang jauh di bawahku benar?”
Yoshiki menyilangkan posisi kakinya sementara punggungnya ia sandarkan pada kuris, pria itu terkekeh, terkekeh mengejek, “baiklah, coba sebutkan apa saja yang membuatmu lebih baik daripada istriku.”
“Aku cantik.”
“Cantik hanya soal selera.”
“Seleramu rendahan Kuroto-san.”
Yoshiki kembali terkekeh, “lalu kenapa kau begitu mengejar pria yang menurutmu memiliki selera rendahan?”
“Aku tidak mengerti. Apa yang kamu lihat dari perempuan yang bahkan pergi makan siang dengan suaminya tanpa menggunakan riasan sedikitpun?”
“Tenko-san, penampilan bukanlah hal yang utama bagiku.”
“Konyol,” perempuan itu berguman tidak percaya.
“Kenyataannya memang seperti itu,” Yoshiki menimpali datar.
“Lalu, hal apa yang utama bagimu?”
Sebuah senyuman merendahkan tercetak pada wajah tampan Yoshiki, “memangnya apa untungnya bagiku memberitahumu Tenko-san?”
“Kuroto-kun semoga kamu masih ingat jika saham Tenko Group adalah 28% di perusahaan ini.”
Yoshiki tertawa mengejek, “lalu?”
“Dengan beberapa persidangan aku bisa mengambil asset saham dan menguras kepemilikan perusahaan ini.”
“Oh?” Yoshiki menatap dengan pandangan mempermainkan, “begitu?”
Perempuan itu memincingkan matanya, “apa maksudmu?”
“Maksudku? Astaga Tenko-san, kenapa kau masih bertanya? Tentu saja karena aku tidak peduli dengan ancamanmu.”
Perempuan itu bangkit berdiri seketika, “aku sama sekali tidak bermain-main di sini Kuroto-kun.”
“Begitupun aku.”
Perempuan itu berdecak kencang, “lihat saja Kuroto-kun. Kamu pasti akan menjadi milikku,” sebelum akhirnya bangkit berdiri untuk meninggalkan ruangan Yoshiki.
“….” Onyx itu hanya menatap datar pintu ruangannya yang baru saja terbanting kasar.
“…. Merepotkan.”
.
Cklek
Pintu kamar tidur itu terbuka, membuat kepala hitam Hana seketika terarah pada sumber suara.
“Selamat datang Yoshiki-kun,” sambutnya begitu mendapati sosok suaminya yang sudah melepas jasnya dan menyandarkannya pada lengannya.
Tak menjawab, pria itu melemparkan jasnya sembarangan dan menaiki ranjang dengan sepatu yang bahkan belum ia lepas. Yoshiki merangkak di atas ranjang tempat sang istri nampak sibuk dengan ponsel yang pegang secara horizontal.
“Eh? Kenapa?” Kepala bermata sapphire itu menatap kebingungan pada sikap sang suami.
“My Lady…” tangan pria itu mengusap lembut pipi Hana.
“Eh loh? Ada apa Yoshiki-kun?” Hana kebingungan, pria di hadapannya sama sekali tak bisa ia tebak maksud dan kemauannya di balik wajah datarnya.
Berikutya terjadi begitu cepat, Yoshiki sudah mengangkat badan Hana, sementara tubuh pria itu malah berbaring nyaman di ranjang. Posisi terlah berbalik. Yoshiki berada di bawah, dan Hana duduk pada pinggang pria itu.
“Heh? K-Kenapa?” Hana hanya bisa meracau kebingungan.
“My Lady…” kembali, pria itu berguman dengan nada beratnya.
“Y-Ya?”
“Katakan jika kau mencintaiku.”
“HAAAAAAHHH!??” Wajah Hana benar-benar memerah sampai telinganya sekarang, “kenapa tiba-tiba begitu?”
Hana selalu tidak bisa memahami Yoshiki. Pria itu selalu tiba-tba melakukan hal-hal yang menurutnya tak beralasan.
Jika diingat-ingat lagi, Yoshiki pernah tiba-tiba memeperkosanya saat berada di penginapan SMA nya hanya karena pria itu cemburu pada si ketua kelas tanpa mengatakan apapun.
“Katakan saja,” pria itu berguman datar dan dingin.
“A-aku akan mengatakannya tapi jelaskan kenapa terlebih dahulu. Yoshiki-kun pulang dari kantor tiba-tiba menjadi aneh seperti ini bagaimana aku bisa tenang-tenang saja!?”
Pria itu tertegun untuk beberapa saat, menyadari jika tindakannya ini benar-benar tidak beralasan bagi Hana.
Sebuah helaan nafas terdengar, “aku tidak kenapa-kenapa,” lagipula tidak mungkin bukan dia menceritakan pada Hana jika moodnya kacau hanya karena seorang manusia wanita mengejarnya sedemikian rupa?
“Bohong sekali,” ujar Hana tidak percaya.
“Hn… tapi aku ingin mendengarnya. Mendengar kalimat kau mencintaiku.”
“Bagaimana Yoshiki-kun bisa mengatakan itu dengan wajah sedatar itu sih!?”
“Hn? Kenapa? Memangnya itu hal yang merepotkan?”
“Y-yah bukannya merepotkan sih…”
“Kalau begitu tinggal katakan saja.”
Wajah Hana memerah pekat,menatap pria itu tidak percaya. Bagaimana mungkin pria itu bisa setenang dan sedater itu terhadap sebuah perasaan yang sensitif!? Oke memang benar budaya di barat mengatakan hal seperti mencintai kepada pasangan adalah hal yang biasa, tapi tidak dengan dirinya!
“A-Aku…” susah payah bibir Hana bergerak melawan deguban jantungnya.
“…… M-m…” bibir Hana gemetar, hingga, “MENCINTAI YOSHIKI-KUN!” Diakhiri dengan nafas yang memburu.
Pria itu tersenyum lembut, “aku juga mencintaimu, My Lady.”
Blush
Hana sudah tidak bisa mempertahankan dirinya sekarang. Jantunya seperti meledak detik itu.
.
Alarm pagi itu berbunyi. Tentu saja dengan malas sebuah tangan kekar terjulur dari balik selimut untuk menonaktifkan alarm tersebut.
Belum habis beberapa detik, selanjutnya bunyi ketukan pada pintu benar-benar membuat pria itu keluar dari balik selimutnya, “masuk,” ujarnya malas.
Sepeti biasa, sang sekretaris akan muncul memberitahukan segala jadwalnya, “selamat pagi My Lord, hari ini anda harus melakukan rapat dengan para kepala cabang. Dilanjutkan dengan makan malam bersama CEO Tenko Group.”
“Apa?” Yoshiki yang awalnya hanya mendengarkan tanpa minat seketika terbangun sempurna begitu mendengar nama Tenko.
“Maaf, My Lord?” Sang sekretaris nampak ragu.
“Tenko Group. Aku tidak ingat memiliki janji makan malan dengan CEO mereka.”
“Permintaan ini baru diajukan kemarin malam. Karena topik yang dibahas mengenai saham, sementara saya memeberikan persetujuan, namun jika My Lord menolak saya bisa memberikan kabar pada mereka.”
Yoshiki memijat pelipisnya, “ganti pada rapat formal, aku tidak ingin makan malam dengan siapapun nanti malam.”
“Yes, My Lord,” sang sekretaris berojigi sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.
“Ada apa Yoshiki-kun?” Kepala hitam Hana keluar dari balik tebal dan hangatnya selimut.
“Hn? Kau terbangun? Maaf, selamat pagi My Lady.”
Badan Hana dengan enggan keluar dari balik selimut dan menuruni ranjang, “ada apa?” Lagi, Hana mengulangi pertanyaanya.
“Hanya masalah pekerjaan,” Yoshiki menjawab santai.
Tapi sapphire itu seolah menatap tidak puas dengan jawaban Yoshiki, “Yoshiki-kun dari kemarin malam aneh loh.”
“Hn? Begitukah?”
Kepala hitam Hana mengangguk, “Yoshiki-kun jika memiliki sesuatu masalah…. Unek-unek… umm… apapun itu, boleh kok bercerita padaku. Lagipula ini sudah… 4 tahun pernikahan kita tapi aku masih tidak terlalu mengenal pekerjaan Yoshiki-kun.”
Pria itu tersenyum tipis, “pagi ini setelah sarapan, sebelum aku berangkat rapat dengan para kepala cabang, aku harus pergi ke suatu tempat, sebuah rumah sakit kecil.”
Hana tidak bisa menahan diri untuk tidak memiringkan kepalanya kebingungan, “Yoshiki-kun sakit?”
“Tidak, in pekerjaanku. Bukankah kau bilang ingin mengenal pekerjaanku?”
.
Yoshiki membuka sebuah pintu kaca rumah sakit yang terletak sangat jauh di pinggir dan sangat jauh dari hiruk pikuk Tokyo.
‘Wah, kalau ini lebih cocok disebut sebagai rumah sakit hantu,’ Hana yang berjalan di belakang Yoshiki sibuk memandangi sekitar dengan tersenyum kaku.
“Kuroto-sensei,” seorang suster tiba-tiba muncul dari balik lorong.
“EH KAGET!!” Dan konyolnya Hana malah berteriak seketika melihat kemunculan sang suster yang menegenakan pakaian serba putih.
Baik Yoshiki maupun sang suster menatap Hana aneh.
“A-ah maaf, habisnya muncul seseorang memakai pakaian putih dari balik Lorong yang gelap,” wajah Hana memerah malu akan kebodohannya.
“Ini istriku, Hana Kuroto. Dia akan menemaniku hari ini,” Yoshiki memperkenalkan Hana pada sang suster.
“Kalau begitu silahkan menuju ruangan bedah nol lima, pasien sudah menunggu anda. Saya akan menyiapkan beberapa anti radian untuk anda,” berikutnya sang suster kembali berjalan menuju Lorong lain yang sama gelapnya.
Melihat Yoshiki yang juga mulai melangkah, kaki Hana bergerak berusaha menyamai langkah sang suami, “Yoshiki-kun ini rumah sakit? Kenapa tidak ada pasien di sini? Dan…. Gelap sekali…” kepala Hana mengedar ke seluruh penjuru Lorong.
“Karena memang rumah sakit ini sudah ditinggalkan,” Yoshiki menjawab santai.
“Lalu tadi kenapa masih ada pasien?”
Yoshiki menolehkan kepalanya pada Hana, “pasien khusus.”
“Khusus?”
“Hn, sangat khusus bukan? Sampai seorang raja iblis yang harus turun tangan menangani.”
“Benar juga…” Hana mengangguk-anggukan kepalanya sepanjang Lorong, “memang dia kenapa? Terkena sihir?” Tanya Hana konyol.
Yoshiki tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tertarik ke atas, “kau bisa melihatnya sendiri ketika sampai, My Lady.”
.
“Silahkan, anti radian anda Kuroto-sensei,” seorang suster sudah siap dengan suntikannya.
“Hn, sebenarnya aku tidak memerlukannya.”
“Untuk prosedur kemanan saja sensei,” sang suster keras kepala.
Dengan dengusan malas, Yoshiki menggulung lengan bajunya untuk membiarkan sang suster memberinya anti radian.
“Berikan untuk istriku juga.”
“Baik, sensei.”
Yoshiki kembali menggulung lengan bajunya. Walaupun begitu pandangannya tertuju pada sang istri yang melihat dari balik ruangan dengan kaca tembus pandang yang besar. Wanitanya itu hanya beridiri menatapnya. Tak berapa lama sang suster datang memberikan suntikan anti radian pada Hana. Pencegahan memang diperlukan, apalagi Hana adalah sesuatu yang lain yang tidak bisa berjalan sesuai keinginannya. Memang benar seharusnya tubuh wanitanya itu telah kekal sebagai seorang iblis, tapi tetap saja ia tidak bisa tenang.
“Aku mulai,” dari arah dalam ruangan terdengar suara berat Yoshiki. Sebelum akhirnya pria itu benar-benar bekerja dengan memunggungi Hana dan sang suster.
“Anu, itu pasien?” Tanya Hana pada sang suster.
“Benar. Dia merupakan pasien percobaan.”
“Percobaan!?” Hana tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut.
Sang suster mengangguk, “Kuroto-sama tidak pernah menceritakan ini pada anda?”
Hana terdiam. Pandangannya kembali tertuju pada sang suami yang tengah sibuk menggerakkan tangannya pada sebuah tubuh. Sebuah tubuh yang mungkin sudah tidak berbentuk tubuh lagi.
Benar. Dia tidak pernah mendengar cerita apapun. Dan kemungkinan penyebabnya adalah, dirinya yang terlalu dominan dan egois dalam percakapan mereka. Dirinya terlalu kekanak-kanakan membuat setiap pembicaraan hanya tertuju padanya dan permasalahannya. Tidak ada kesempatan bagi Yoshiki menceritakan kehidupan dan hari-hari yang sudah dilaluinya. Terlabih lagi akhir-akhir ini hubungan mereka tidaklah baik dan penuh masalah.
Kepala Hana menggeleng dengan berat, “tidak.”
“Begitu… kami adalah sebuah perusahaan yang bekerja di bidang kedokteran. Peralatan medis, dan obat-obatan pun kami suplai ke seluruh penjuru Jepang. Radiasi dan efeknya sangat jarang naik kasusnya ke permukaan. Selain memang kasusnya sangat-sangat jarang, kasus manusia yang terkena radiasi biasanya sangat mengerikan, seperti yang anda lihat, pasien sama sekali tidak berbentuk jika sudah terpapar radiasi yang sangat-sangat berlebihan. Oleh sebab itu kami mengadakan sebuah penelitian rahasia. Dan Kuroto-sensei adalah satu-satunya dokter yang sangat cocok dengan pekerjaan ini.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kuroto-sensei adalah dokter lepas yang padahal memiliki banyak lisensi praktik tapi sama sekali tidak bekerja di rumah sakit manapun. Dan Kuroto-sensei bersedia merahasiakan, dan melakukan praktik mengerikan yang kebanyakan ditolak dokter lain karena melanggar hak asasi manusia.”
Hana hanya bisa menganggukan kepala.
“Namun tenang saja, kami membayar Kuroto-sensei dengan harga yang sangat mahal. Mau bagaimanapun kami berhasil menemukan dokter seluarbiasa Kuroto-sensei adalah sebuah keajaiban.”
“Sangat mahal?”
Sang suster mengangguk, “karena ini penelitian rahasia dan beresiku, saya pun diberi gaji yang sangat mahal, Kuroto-sensei mungkin mendapat 1 juta yen untuk satu kali pengeluaran laporan.”
“S-satu juta yen!!?”
“Oh, Kuroto-sensei juga tidak bercerita masalah ini? Apa saya terlalu banyak bicara?”
“Tidak, tidak, terima kasih sudah memberitahuku,” Hana menggelengkan kepalanya cepat.
Sapphire Hana kembali tertuju pada sang suami yang nampaknya sudah tidak lagi melakukan sesuatu pada tubuh yang terlihat mengerikan itu. Ia tidak bisa berhenti kagum. Yoshiki memiliki banyak hal yang sama sekali tidak ia ketahui sebagai istrinya.
“Bodohnya aku…” tanpa sadar ia berguman.
“Maaf?” Sang suster di sampingnya yang mendengar itu lantas bertanya.
“Oh, tidak apa-apa,” dengan canggung Hana merespon.
“Ah benar juga, saya harus meminta sensei untuk menyelesaikan laporan 2 operasi sebelumnya,” sang suster kembali menceletuk.
“Sebelumnya?”
Sang suster mengangguk, “sensei bukan tipe orang yang akan menunda laporan. Namun sepertinya beberapa minggu lalu terjadi sesuatu pada sensei. Performa operasinya menurun dan beliau izin untuk membuat laporan setelah beberapa operasi kedepan. Kami mencoba memahami hal tersebut. Tapi karena sekarang sensei sudah kembali seperti semula, sepertinya saya bisa mengingatkan sensei untuk menyerahkan laporan.”
Hana terdiam.
Beberapa minggu lalu yang dimaksud tidak lain pasti saat ia dengan tindakan anak kecilnya meninggalkan Yoshiki ke Australia bersama Keigo.
Apa yang sudah ia lakukan pada Yoshiki?
.
“Yoshiki-kun,” Hana memanggil nama pria yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Keduanya sekarang dalam perjalanan menuju kantor.
“Hn?” Pria itu hanya merespon datar.
“Sampai liburan universitas selesai, aku ingin ikut Yoshiki-kun ketika bekerja.”
Ucapan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki sempat menoleh tidak percaya kepada sang perempuan, “kau… yakin?”
Hana mengangguk mengiyakan, “lalu aku ingin mendengar keluhan Yoshiki-kun mengenai apa yang sudah Yoshiki-kun lalui.”
Kembali Yoshiki menolehkan kepalanya kepada Hana. Onyx gelap itu menatap sedikit tidak percaya. Sosok yang selama ini selalu membuatnya menahan diri sekarang malah menawarkan hal yang paling ia lakukan.
“Kenapa menatapku begitu sih?” Hana yang merasa ditatap aneh mulai protes dengan wajahnya yang semi memerah, malu.
“Hn, hanya terkejut.”
“Memangnya aneh!?”
“Tidak, aku jadi senang, sejujurnya.”
Sebuah kalimat singat dari Yoshiki, yang mampu membuat Hana merenung cukup lama.
0 komentar:
Posting Komentar