Chapter 66: That Shameless Straight Woman
Langkah kaki dari sebuah sepatu dengan hak yang cukup tinggi menggema di hampir seluruh Lorong menuju ruang sang presdir.
“Kau sudah membawa berkasnya?”
“Sudah Tenko-sama.”
“Hari ini kita harus berhasil mengancam Kuroto Yoshiki.”
“Baik Tenko-sama,” pria dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap setia mengekor di belakang Tenko.
Brak.
Perempuan dengan rambut ikal hitamnya itu membuka ruangan presdir tanpa mengetuk. Seketika seluruh kepala yang ada di dalam ruangan itu nampak terarah pada sang perempuan.
“Aku sendiri yang akan memastikan divisi produksi. Kau bisa kembali,” Yoshiki berujar pada seorang pria yang berasal dari divisi pemasaran.
“Baik Kuroto-sama. Saya undur diri,” sang pria dengan canggung melangkahkan kaki keluar dari ruangan yang tiba-tiba tensinya naik.
“Ah, anu, silahkan duduk,” dengan konyol Hana segera bangkit dari kursinya, padahal dirinya tengah asik menikmati sebuah pancake dibalut madu.
“Kau duduk saja My Lady,” Yoshiki bangkit dari kursinya untuk kemudian menarik Hana duduk pada kursi tamu.
“Eh?” Hana menunjukkan wajah konyol kebingungannya, “kenapa?”
Yoshiki memberikannya tatapan datar, “karena kau istriku, sekarang duduk.”
Suasana hati prianya itu sedang buruk. Hana mengetahui hal tersebut, oleh sebab itu tak ingin memperumit permasalahan, ia lebih memilih menuruti perintah sang suami.
Mata sapphire Hana bertanya-tanya, siapa kedua sosok di hadapannya ini. Seorang wanita yang rambutnya seolah setiap hari di bawah ke salon itu seperti tengah menatapnya rendah.
‘Uwagh…. Menyebalkan sekali…’ Namun bagaimanapun Hana harus menahan diri.
Dan di samping perempuan itu ada seorang pria paruh baya, tebakan Hana, pria itu adalah bawahan sang wanita.
“Kita cepat saja, aku muak berada di ruangan yang sama dengan manusia yang derajatnya di bawahku,” Perempuan pemimpin Tenko Group itu membuka mulut.
‘Ah sialan,’ Hana tau kalimat perempuan itu merujuk padanya, karena sudut mata perempuan itu selalu terarah padanya.
“Lebih cepat lagi jika kau segera keluar dari ruangan ini jika kau terus mengatakan omong kosong,” Namun Yoshiki sedang sama dalam kondisi terburuknya.
Shiroi Tenko menyeringai tipis, “kenapa kamu marah Kuroto-san?”
“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu, Tenko-san.”
Perempuan itu dengan tenang merespon, “selalu kasar seperti biasa, kau tidak bisa jujur pada dirimu Kuroto-san. Tapi tidak apa-apa, pembukaan ini sudah cukup untuk membuat jantungmu bersiap-siap. Keluarkan datanya,” Shiroi Tenko memberikan aba-aba pada pria di sampingya.
Pria di samping Shiroi Tenko mengeluarka beberapa map dari tas hitamnya, “kami berencana membawa saham kami ke pengadilan untuk melakukan penuntutan dan klaim. Dengan data sebanyak ini kami yakin bisa mengambil alih perusahaan ini.”
Pada onyx Yoshiki hanya terpantul angka-angka yang menurut sang pria mampu menjatuhkannya. Tidak salah. Dengan semua data itu, Yoshiki tau mereka tidak akan bersusah payah untuk mengambil hak milik perusahaannya menjadi hak milik mereka.
“Hooo…” Yoshiki merespon santai, “kau benar-benar ingin mengancamku.”
“Ancaman Tenko group tidak akan pernah main-main, Kuroto-san,” Shiroi menjawab congkak.
“Menarik,” Yoshiki mengangguk, “apa yang kau inginkan?”
Wanita itu menyibakkan rambutnya penuh kemenangan, “aku menginginkanmu, Kuroto-san.”
“!!!!!” Seketika tubuh Hana menegang mendegar ucapan sang wanita, “eh? Apa maksudnya?”
“Maksudnya, aku menginginkan suami anda, Kuroto Hana-san,” wanita itu yang bagi Hana sama sekali tidak punya malu mengucapkan terang-terangan hal seperti itu.
“….. a-apa?” Hana kehilangan kalimatnya, ia tak habis pikir.
“Jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, maka pintu keluar ada di tempat yang sama saat kau masuk,” Yoshiki berguman dingin.
“Hoo, kau mengusirku Kuroto-san?”
Yoshiki tidak bergeming.
“Setelah foto-foto yang kukirimkan kepadamu kemarin malam, kau bergeming? Setelah menikmati foto-foto itu? Ah, kira-kira apa yang sudah kau lakukan pada foto-fotoku?” Shiroi Tenko semakin menggila.
Memang benar jika kemarin malam Yoshiki mendapatkan sebuah email berisi foto-foto dengan pose sangat vulgar.
“A-apa?” Hana tetap tidak bisa mengatakan apapun.
Dengan santai, Yoshiki mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi chat dan memperlihatkan kolom chat Shiroi Tenko yang menunjukkan notifikasi 30 chat belum terbaca, “menikmati? Kulihat saja tidak,” Yoshiki meletakan ponselnya dengan santai di atas meja.
Melihat itu Tenko semakin meradang, “bodoh sekali Kuroto-san, kau adalah pria terbodoh yang kutemui seumur hidupku. Lihat saja, besok hak milik perushaan ini akan dibalik namakan menjadi perusahaanku!”
“Tenko-san, asal kau tau, kehilangan satu perusahaan bukanlah sebuah masalah bagiku. Namun, aku ini pria yang keras kepala. Apa yang harusnya menjadi milikku haruslah tetap menjadi milikku. Jika kau memang yakin dengan seluruh kemampuan pengacara dan finansialmu, aku akan menerima peperangan yang kau ajukan tanpa berat hati.
“Kita lihat saja besok, Ku-ro-to-sa-ma,” perempuan itu bangkit berdiri dan mencemooh nama pria itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Suara pintu yang ditutup membawa keheningan di dalam ruangan Yoshiki.
“Hhhh…” Pria berambut dongker gelap itu hanya bisa menghela nafas malas, “merepotkan.”
“D-dia siapa Yoshiki-kun? Apa-apaan itu tadi!?” Hana membuka mulutnya.
“Shiroi Tenko, CEO Tenko Group. Pemilik saham terbesar di perusahaan ini,” Yoshiki menjawab santai sembari kembali meraih ponselnya dan jarinya menari-nari di atas layar sentuh ponsel tersebut.
“K-kenapa dia seperti itu? Ada apa dia dengan Yoshiki-kun?” Nada bicara Hana tidak karuan.
“….. Hn?” Yoshiki menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap Hana dengan sebelah alis terangkat, “dia tertarik padaku tentu saja.”
“A-apa?”
Hana tidak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi di hadapannya. Perempuan gila pemilik perusahaan besar yang datang terang-terangan merendahkan dirinya karena memiliki perasaan pada suaminya. Dan suaminya yang sangat santai menanggapi apa yang terjadi.
Yoshiki bangkit berdiri, “sekarang ayo kita pulang, sepertinya moodku sedang tidak baik.”
“Apa? T-Tunggu.”
“Hn?” Yoshiki menatap Hana dengan santai.
“Mood Yoshiki-kun buruk? Lalu bagaimana denganku? Kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu!? Tenko gila itu menyukai Yoshiki-kun dan menginginkan Yoshiki-kun! Kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu menanggapinya!? Yoshiki-kun juga menyukai perempuan itu!?” Hana meraung-raung tanpa bisa menahan dirinya.
BRAK
Detik berikutnya Yoshiki sudah mengunci tubuh Hana pada dinding, wajah pria itu sangat kaku, menatap Hana dengan setengah memincing, “mana mungkin aku menyukainya, kan?” Pria tu berdesis tidak suka, “aku hanya milikmu My Lady.”
Ketegangan pada tubuh Hana berkurang, “tapi…”
Sebuah kecupan mendarat pada bibir Hana, membuat sang empunya terpaksa menghentikan kalimatnya.
“jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikan masalah ini.”
Padangan Hana untuk berikutnya nampak tertuju ke bawah, tidak lagi menatap onyx sang pria, “aku… takut…”
“Takut?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya.
“Dia cantik! Keren! Elegan! Sexy! Tegas! Bahkan sama seperti Yoshiki-kun yang memiliki perusahan, seorang CEO! Dia memiliki segalanya!” Hana menyerukan semua hal yang membuatnya takut, hingga nada bicaranya menurun, “tidak seperti aku…”
“Lalu?”
“Eh?” Respon pria itu membuat kepala Hana kembali mendongkak.
“Kau kira aku peduli pada hal-hal yang kau sebutkan tadi?” Pria itu bertanya dengan nada datar.
“…..” Hana tidak bisa menjawab, pandangannya hanya tertuju pada sang pria.
Disodorkannya ponselnya pada Hana, “My Lady, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan email pancingan yang dikirimkannya sama sekali tidak kubuka.”
Dengan ragu tangan tan Hana menerima ponsel sang pria, menekan email yang berasal dari sang CEO Wanita.
Sapphire Hana melebar. Ia tak bisa menahan salah satu tangannya untuk tidak menutupi mulutnya yang hampir terbuka lebar. Ia terkejut. Pasalnya yang ia dapati adalah kumpulan foto yang sangat tidak senonoh dan vulgar. Bagaimana bisa perempuan terhormat sekelas CEO bisa melakukan hal sehina ini!?
Pegangan Hana semakin mengerat sementara ia terus mencsroll puluhan foto yang dilampirkan pada email itu. Pada foto-foto tersebut terlihat pose Shiroi Tenko yang tidak mengenakan pakaian barang selembarpun, berpose memamerkan setiap lekuk tubuhnya hingga bagian sensitifnya. Bahkan yang membuat Hana tak habis pikir, perempuan itu mengirimkan foto bagian bawah tubuhnya yang ia buka lebar-lebar dengan memberikan editan bertuliskan ‘masukkan milikmu kemari tuan.’
Dengan kesal dan tanpa meminta persetujuan sang empunya ponsel, dihapusnya email tersebut.
“Hn, kau menghapusnya?” Yoshiki bertanya dengan nada datarnya.
“Iya kuhapus! Kenapa? Tidak boleh?”
“Hn, tidak masalah, lagi pula sebenarnya aku bisa melihat isi email tersebut tanpa harus membukanya,” sekarang pria itu tersenyum jahil.
“A-apa? J-jadi Yoshiki-kun sebenarnya sudah tau?”
Yoshiki mengangguk santai, “aku ini Lucifer, apa yang tidak bisa kulakukan?” Seringai pria itu seolah semakin melebar.
Hana kesal. Diserahkannya ponsel tersebut pada tangan Yoshiki.
“Hn, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Aku berharap kaulah yang memberikanku foto-foto seperti itu.”
Seketika kepala Hana terdongkak menatap wajah Yoshiki, “a-apa?”
Pria itu tersenyum jahil.
“Enak saja! Aku tidak akan memberikan foto-foto seperti itu!” Wajah Hana telah luar biasa memerah.
.
Hana masih menatap tidak percaya suaminya, Kuroto Yoshiki, yang tengah asyik membolak-balik sebuah buku bertajuk Perang Salib, tenggelam di dalam sela-sela rak buku berkategori sejarah.
“Hn, sudah mendapatkan bukumu?” Pria itu menutup bacaannya begitu melihat sosok istrinya berdiri dari luar rak buku.
Hana mengangguk kecil, “Yoshiki-kun tidak apa-apa?”
“Hn? Kenapa denganku?”
“Bukankah hari ini Shiroi Tenko akan mengajukan gugat saham untuk perusahaan Yoshiki-kun?”
Bukannya menjadi serius ataupun tegang, pria itu malah kembali membuka buku tebalnya, dan kembali mengarahkan seluruh atensinya pada paragraf terakhir yang ia baca, “aku sudah mengirimkan orang-orang yang bisa membalikkan keadaan. Tenko tidak akan bisa mengambil alih perusahaanku,” pria itu berujar santai.
Hana masih menatap tidak percaya, “santai sekali sih. Bagaiman jika suruhanmu gagal?”
“Tidak akan. Mereka tau konsekuensinya jika gagal.”
“Ah, Yoshiki-kun seram sekali bisa mengatakan hal semengerikan itu dengan wajah datar.”
“Jika mereka gagal, aku masih punya banyak cara untuk merebut kembali perusahaanku, dan menghancurkan Tenko Group jika mereka berani macam-macam, dari pada itu,” pria itu menghilangkan jarak antara dirinya dan Hana untuk kemudian meraih pinggang wanita itu untuk mendekat padanya, “kau tertarik pada sejarah perang salib?”
“Aku hanya tertarik pada perang dunia. Yoshiki-kun terlalu santai. Memangnya Yoshiki-kun tidak khawatir Shiroi Tenko akan melakukan hal-hal aneh lainnya?”
Yoshiki mendenguskan nafasnya malas, “kenapa kau bersikap berlebihan sekali? Lagipula seharusnya persidangan sudah selesai beberapa waktu lalu, sebentar lagi kabar baik akan datang.”
“Karena dia Shi—”
“Oh, tidak datang ke persidangan dan malah bermesraan di toko buku? Konyol sekali,” sebuah suara menginterupsi keduanya seketika.
Betapa kagetnya sapphire Hana begitu mendapati sosok Shiroi Tenko yang sangat elegan tengan menatapnya penuh penghinaan.
“Untuk apa aku datang ke persidangan yang sudah jelas akan kumenangkan?” Bukannya melepaskan rengkuhannya pada pinggang Hana, pria itu malah semakin mengeratkan pegangannya.
“A-anu Y-Yoshiki-kun,” Hana kelabakan, menurutnya bukan waktunya untuk bermesraan seperti ini, dihadapannya ada monster yang seharusnya ia bersiaga menghadapi.
“Tch!” Tenko berdecak sangat keras, “sungguh tidak berkelas. Tunggu saja, aku pasti akan merebutmu dari perempuan tidak berkelas itu.”
“Hah? Apa?” Hana sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dilepaskannya pelukan Yoshiki dan mulai mencondongkan tubuhnya pada Tenko, “bagaimana bisa anda mengatakan hal sehina merebut pasangan orang lain semudah itu!?”
“Pasangan? Kamu menyebut Kuroto-san sebagai pasangan setelah meninggalkannya ke Australia?”
Keduanya terkejut seketika. Dan hal yang sama terlintas pada kepala Yoshiki dan Hana adalah, bagaimana wanita ini bisa tau!?
“Lihat, wajahmu sangat bisa ditebak, aku tau dari mana? Apa yang tidak bisa kuketahui sebagai seorang penguasa?”
Tidak ada kalimat yang bisa Hana ucapkan selain alisnya yang mulai mengerut waspada.
“Kamu sama sekali tidak menguntungkan apapun bagi Kuroto-san. Tidak seperti aku yang memiliki segalanya dan bisa menopang Kuroto-san dari segala aspek. Ekonomi, Popularitas, Integritas, Sosial, Status. Bahkan aku yakin, aku jauh lebih bisa memuaskan Kuroto-san dalam aspek seksual. Menyerahlah, Hana-san, kamu hanyalah beban. Oh, kenapa aku menyebutmu beban? Karena setelah kepergianmu ke Australia, Kuroto-san yang bahkan selalu pulang setelah seharian bekerja ke kantor malah mampir ke tempat minum!”
Kedua mata Yoshiki melebar, ia sama sekali tidak menyadari apa yang ia lakukan setelah kepergian Hana benar-benar sekacau itu. Dan Shiroi Tenko menyadari hal itu. Sudah berapa lama perempuan itu menguntitnya? Ia terlalu jatuh ke dalam rasa putus asa kehilangan Hana sampai-sampai tidak menyadari jika ada perempuan gila yang menguntitnya?
Onyx Yoshiki sekarang hanya bisa menatap rambut hitam pendek Hana dari belakang. Wanitanya itu sama sekali tidak memberikan respon apapun.
Sesuatu dalam dirinya tergelitik, apa yang dirasakan dan dipikirkan wanitanya itu sekarang? Penyesalan? Karena kenyataannya Hana meninggalkannya, dan penyebab dari segala kekacauan dalam dirinya adalah perginya Hana dari sisinya.
“Aku benar kan, Kuroto-san?” Tenko seolah seperti semakin memberikan bahan bakar untuk membakar suasana.
‘Benar.’ Yoshiki ingin menjawab dengan lantang.
Tapi tentu saja ia tidak bisa membiarkan wanitanya dipermalukan seperti ini, “sebelum itu, Tenko-san, bagaimana kau bisa menjadi begitu menjijikan dengan selalu membuntutiku?” Yoshiki bertanya dengan nada datar, mengembalikan buku yang tadi dibacanya pada rak.
“Tentu saja, karena aku mencintai Kuroto-san. Aku harus tau apa saja yang dilakukan setiap saat,” Tenko menjawab tak kalah santai.
“A-A…” Hana tidak bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakana, ia sampai kehabisan kata mendengar argument Shiroi Tenko.
Yoshiki melangkah hingga menyamai posisi Hana, “kau sudah mendapatkan buku yang kau inginkan?”
“Ah, aku tidak ingin membeli apapun hari ini,” Hana menjawab lesu.
Tidak perlu lama bagi Yoshiki menyadari jika istrinya sedang dalam mood yang buruk, “kalau begitu, kita bisa pulang sekarang,” digandengnya erat tangan Hana untuk ia tarik melangkah menjahui Shiroi Tenko yang mulai meracau gila.
“Aku benar. Aku benar Kuroto-san. Perempuan itu beban bagimu! Sebaiknya kau campakkan perempuan murahan itu! Datanglah padaku Kuroto-san!”
0 komentar:
Posting Komentar