CHAPTER 25: BEING A NORMAL HUMAN
“Kau di sini?”
“Oh! Yoshiki-kun!” Hana sempat menatap Yoshiki beberapa detik, namun kemudian ia kembali terfokus pada PS VITA di tangannya.
Dalam kegelapan taman penginapa, Hana duduk di sebuah bangku. Kedua kakinya ia naikkan ke atas bangku untuk menopang PS VITAnya. Membuat jarak pandang antara PS VITA dan matanya begitu dekat.
“Hn…” tanpa meminta izin dari Hana, Yoshiki duduk di samping Hana. Sesekali menyesap kaleng kopi yang dibawanya.
“Kudengar dari Yui, grup laki-laki mengintip ya?” Hana tetap tidak mengalihkan pandangannya dari game konsolnya.
“Hn… Rui dan Amagawa dihajar.”
“Hahaha,” Hana terkekeh kecil.
Yoshiki kembali menyesap kopinya.
“Lalu, apakah Yoshiki-kun juga ikut mengintip?”
Kalimat tiba-tiba Hana barusan membuatnya menghentikan aktifitasnya seketika. Ia melirik Hana dari samping. Ia tak bisa melihat ekspresi Hana secara langsung karena gelap. Cahaya dari konsol game Hana remang-remang memantul pada wajah Hana.
“Kenapa…?” Tanya Yoshiki ragu.
Jari-jari Hana masih sibuk menekan-nekan tombol konsol gamenya, “bentuk tubuh teman-teman lebih bagus kan daripada aku?”
“Aku tidak melihat,” respon Yoshiki cepat.
“Eh?” Sekarang Hana telah mempause gamenya dan menatap Yoshiki tidak percaya.
“Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak tertarik pada perempuan lain selain dirimu?” Jawab Yoshiki tak acuh.
BLUSH
Wajah Hana memerah seketika.
“Berkat itu Midorino Saguru menembakku,” Yoshiki kembali menyesap kopinya.
“HEEEEEEEEE!!??” Respon Hana heboh.
“Hn.”
“T-Tunggu Yoshiki-kun. Aku tahu jika Midorino-kun menyukai laki-laki. Tapi apa benar dia menembakmu?” Semakin mendekatkan wajahnya pada Yoshiki, Hana menatap tidak percaya.
“Hn, karena dia mengira aku yang selama ini tidak menerima banyak pernyataan dari banyak perempuan tetapi malah memilihmu yang kelaki-lakian sebagai homo dan kau hanya pelampiasanku.”
“Wo-woaaa…” Hana tercengang, “bahkan Yoshiki-kun popular dikalangan penyuka sesama jenis.”
“Hn… syukurlah kau tidak mandi di pemandian terbuka tadi,” Yoshiki bangkit berdiri untuk membuang kaleng kopinya pada tempat sampah.
“Jadi, jadi, apakah jawaban Yoshiki-kun pada Midorino-kun!? Aku rela diduakan!”
Yoshiki sweatdrop seketika.
Ditariknya kedua pipi Hana. Membuat bibir Hana tertarik ke kanan dan ke kiri.
“Heee… heeew?” Hana kebingungan. Menatap Yoshiki yang sepertinya berekspresi kesal.
‘Chu’
Tiba-tiba Yoshiki sudah mengecup hidungnya.
“….” Hana membatu.
“Dasar bodoh,” memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Yoshiki meninggalkan Hana.
Sementara itu Hana dalam keadaan sekarat karena baru saja dicium Yoshiki tiba-tiba.
.
“Hoah… apa-apaan senam barusan?” Seorang siswa mengusap peluh yang terus menetes pada dagunya.
Setelah dipaksa bangun pagi, seluruh anggota kelas 3-4 dipaksa mengikuti agenda senam pagi yang kemudian dilanjutkan dengan makan pagi dan selanjutnya bermain di danau.
“Maki bawa payung ini!”
“Eeeeh… kan tidak panas. Malas banget Yui!”
“Bantu dong! Kamu kan yang menyarankan acara ini!” Yui berteriak emosi.
“Ya ya…” akhirnya Maki dengan terpaksa menerima payung yang diberikan Yui. “uwaaa berdebu pula, bagaimana jika bikiniku kotor?” Maki merajuk.
“Jangan banyak protes deh!” Yui kembali menyalak Maki.
“Hi-hiiii!!” Maki berteriak panik dan berlari menuju danau.
“Umei Yui,”
“Kuroto-kun! Tepat sekali! Nih bawa!” Tanpa segan Yui mengalungkan penyangga pendingin es pada leher Yoshiki.
“Aaahh kemana perginya para pria itu? Dasar!” Memeluk beberapa matras gulung, Yui berjalan ke arah danau.
“….” Yoshiki berjalan di samping Yui, mengikutinya, “di mana Hana?”
“Heh? Dari kemarin kamu mencari Hana terus. Kenapa tidak pasangkan saja alat pelacak anjing padanya,” Yui menghela nafas. “dia ikut keluarga Amagawa membeli semangka dan makanan lain untuk barbeque.”
“Hn, kenapa?”
“Kenapa?” Yui menatap Yoshiki tidak percaya, “tentu saja karena dia susah dibangunkan. Mungkin dia tertangkap oleh Amagawa? Kamu tahu sendiri Hana tidak muncul waktu senam pagi tadi.”
Benar. Yoshiki tidak mendapati Hana sejak senam pagi tadi. Itulah mengapa ia menyanyakan di mana Hana pada Yui.
“Haaaah… dia terus main game seingatku. Bahkan ketika aku bangun jam 3 pagi dia masih memainkan gamenya. Kupaksa tidur pun dia malah meraung-raung seperti anak kecil,” Yui mengingat kejadian kemarin malam di mana ia sempat merebut konsol game Hana tapi Hana malah melemparinya dengan bantal dan selimut bagai hewan liar.
“Haaaah astaga…” Yui kembali menghela nafas, “dia pasti sangat menyulitkanmu ya Kuroto-kun?”
“Hn…”
“Letakan saja di sana,” begitu mencapai tepian danau Yui melemparkan matras yang dibawanya begitu saja.
Yoshiki meletakan pendingin yang dibawanya.
“Hei kalian! Bantuin dong!” Yui berteriak emosi pada para siswa yang sedang asyik bermain bola.
Hendak saja Yoshiki meninggalkan Yui sebelum Yu berucap, “terima kasih Kuroto-kun!”
“…hn.”
“Kuroto-kun, menurutmu bagaimana bikini ku? Cocok?” Yui melebarkan senyumnya.
Yoshiki mengamati Yui beberapa detik, “Hn… ya…” sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Yui.
“Kenapa terdengar seperti tidak ikhlas begitu?” Yui sweatdrop.
.
“Kuroto pass!”
Pria berambut jagged yang hanya mengenakan boxer berwarna gelap itu mengoper bola voli ke belakang.
“Nice!” Rui dari belakang terenyum lebar begitu mendapati operan yang didapatkannya begitu pas sudutnya untuk diterjangkan ke tim lawan.
“Rasakan ini!” Ia melompat meraih bola, “SMAAAAASHH!” Dan memukul bola dengan kecepatan tinggi ke sebrang.
“Masuk! Tim Rui satu poin!” wasit berujar.
“Yeaaah!” Rui bersorak.
“Hei Kuroto itu keren sekali ya,” bisik seorang siswi.
“Badannya bagus sekali pula.”
“Hana pasti sangat beruntung bisa mendapatkannya.”
Bisikan-bisikan dan teriakan dukungan terus terdengar di sekitar arena voli.
“Berat?”
“Ah tidak-tidak, ini kan cuman semangka. Aku bisa membawanya sendiri. Lagipula Amagawa-kun yang membawa satu kardus minuman lebih berat.”
Mengabaikan suara sorakan kerumunan yang mengitarinya. Kuroto Yoshiki menoleh tepat ke suatu arah. Istrinya, Kuroto Hana tengah membawa sebuah plastik berisi semangka besar, berjalan bersama Amagawa Nashiro.
“Sarutobi, gantikan aku,” Yoshiki menepuk salah satu temannya secara acak begitu saja. Sementara ia sendiri meninggalkan lapangan.
“HEEEE KUROTO MAU KE MANA!?” Rui berteriak emosi.
Mengabaikan teriakan Rui, Yoshiki terus melangkah mendekati Hana yang tengah asyik bercanda dengan Amagawa Nashiro.
“Hana,” ucapnya dengan nada berat.
“Oh, Yoshiki-kun,” langkah Hana terhenti.
“Air! Air!” Para siswa yang melihat Amagawa membawa sekardus air mulai berteriak ricuh.
“Iya iya tunggu….” Akhirnya meninggalkan Hana, Amagawa Nashiro menuju kerumunan temannya yang kehausan.
Yoshiki meraih tas plastik berisi dua-tiga semangka yang dibawa Hana. Bermaksud membawakannya.
“A-ah, terima kasih,” sedikit memerah, Hana terpaksa melepaskan tas plastik itu.
“Waaaa… main voli?” Hana memulai pembicaraan.
“Hn. Darimana kau mengetahuinya?” Keduanya berjalan menuju kerumunan siswa kehausan.
“Asal menebak, haha. Yoshiki-kun berkeringat,” Hana terkekeh pelan.
“Hanya kau yang diajak oleh keluarga Amagawa untuk berbelanja?” Tanya Yoshiki tiba-tiba.
“Yaah… aku tertangkap oleh Amagawa-kun ketika mau menuju lapangan untuk senam pagi. Lihat aku masih mengenakan pakaian olah raga,” jawab Hana kikuk.
“Hn, kenakan saja itu,” timpal Yoshiki santai. “Kau tidak berniat mengenakan one piece yang dipilihkan Yui kan?”
BYUUUURR!!
Dari arah danau terus terdengar bunyi cipratan air yang memancar ke mana-mana. 5 siswa 3-4 telah menceburkan diri ke dalam danau.
Yoshiki harus menahan diri untuk tidak menepuk jidatnya sekarang. Lihatlah ekspresi wajah Hana kali ini. Ia, dengan begitu jelas terlihat tersenyum lebar dengan pandangan matanya yang berbinar menatap siswa-siswa yang tubuhnya tenggelam di dalam danau.
“Jangan, danau itu cukup dalam. Belum lagi lumpur di dalamnya. Kau bisa tenggelam.”
“K-kelihatannya asik…” Hana menatap Yoshiki, mungkin berusaha memohon.
“Kau sudah janji tidak akan mengenakan one piece yang dipilihkan Yui untukmu.” Yoshiki kembali mengingatkan.
“Uggghhh….” Hana menggeram menahan hasratnya, “biarlah aku melompat dengan pakaian!”
“Kau ini anak kecil!?” Tanya Yoshiki tidak percaya dengan keputusan Hana.
“Habisnya…” Hana memanyunkan bibirnya murung.
“Tahanlah dirimu,” Yoshiki menghela nafas panjang.
“Padahal Yoshiki-kun sendiri dengan bebas mengumbar tubuh bagus itu! Bagaimana kalau ada teman-teman sekelas yang jadi suka dengan Yoshiki-kun!” Hana menggerutu emosi.
“Hn?” Yoshiki menaikan setengah alisnya, “sepertinya seseorang baru saja memuji bentuk tubuhku.”
Seketika wajah Hana merona.
Yoshiki terkekeh pelan. Jarang sekali Hana jujur dan blak-blakan seperti ini mengenai dirinya. Hana adalah tipe tsundere yang selalu memutar balikkan fakta karena malu untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
Dalam kasus kali ini, padahal selama ini Hana selalu mengelu-elukan bentuk tubuh dan wajah dari pegulat dan vokali band metal favoritnya. Padahal ia yakin jika bentuk tubuhnya juga dapat disaingkan.
“Nah! Teman-teman ayo dimulai, SUIKAWARI!” Diletakannya plastic berisi semangka di tanah dengan semangat.
“Oooh! Akhirnya!” Semuanya berteriak riang.
Begitula siang hari pertama dihabiskan. Tiga buah semangka dipukul bergantian oleh tiap-tiap orang berbeda. Melalui petunjuk yang ada sang pemukul pengarahkan pemukulnya. Dan setelah semangka terpecah, setiap anak memakan semangka.
.
Malam telah datang tanpa diminta. Memaksa seluruh anggota kelas 3-4 agar mempersiapkan diri untuk makan malam dan kemudian, menuju acara yang sangat dinanti-nanti.
“UJI NYALIIII YOOOOSSSHHHH!!” Teriak Shiro bersemangat.
Udara dingin khas pegunungan berhembus membuat beberapa anggota kelas 3-4 bergidik kedinginan. Dalam suasana gelap dan sepi, segerombol anak berdiri di bawah tangga kuil.
“SEMUA SUDAH BERKUMPUL!?” Suara serak dan terputus-putus khas dari pengeras suara terdengar diantara kerumunan.
“Maki, ini kuil loh, kenapa kamu gunakan pengeras suara?” Yui berkacak pinggang.
“Yah… biar kedengaran…” Maki menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“KUULANGI! SUDAH BERKUMPUL SEMUA BELUM!?” Lagi-lagi Maki menggunakan pengeras suara.
“Serius Maki! Tempat ini sepi dan jumlah kita hanya kurang dari 30 orang! Tanpa kamu gunakan pengeras suara, suaramu tetap terdengar. Atau kamu bisa gunakan Shiro,” omel Yui lagi.
“KENAPA AKU!?” Protes Shiro di telinga Yui. Memaksa Yui menutupi telinganya dengan jari.
“Omong-omong apa tidak apa-apa kita gunakan kuil sebagai tempat uji nyali?” Dengn kedua tangannya yang menyilang di depan dada, Yui mendongkakkan kepalanya menatap gerbang kuil di ujung anak tangga.
“Kata Amagawa-san kuil ini tidak pernah dipakai selain perayaan-perayaan tertentu karena memang hanya beberapa orang saja yang tinggal di sini, kebanyakan suka datang di kuil yang ada di bawah bukit. Pengurusnya pun sudah meninggal dan tidak ada yang meneruskannya lagi.”
“Waah seram sekali. Bagaimana jika hantu sang pengurus yang muncul?” Yui bergidik menatap Maki.
“Justru asik kan kalau yang muncul hantu sungguhan?” Maki tersenyum jahil.
“Ah teman-teman mendekatlah! Acaranya akan dimulai dan aku punya pengumuman penting!” Kali ini Maki mengumumkan tanpa pengeras suara.
Serempak para siswa mendekat bergerombol.
Hana, masih membawa konsol PSP VITA-nya, terlihat asik sendiri namun akhirnya terpaksa ikut bergerombol mendengarkan.
“Baiklah kalian akan dibentuk tim berdua. Setelah itu kalian akan aku berikan sebongkah batu yang sudah kuberi nomor dengan cat putih. Tugas kalian adalah meletakan batu itu di atas kayu persembahan dan mengambil batu yang sebelumnya diletakan kelompok sebelum kalian. Tentu saja nomornya akan urut untuk memudahkan pengecekkan.
“Tapi tidak semudah itu. kuil ini tidak pernah dipakai lagi semenjak pengurusnya meninggal.”
“Ehhh meninggal?”
“Meninggal?”
Suara bisik-bisik kecemasan seketika menggema dalam kerumunan kecil itu.
“Tenang, tenang. Pengurusnya meninggal karena memang sudah umurnya kok. Jangan penakut begitu dong!” Maki memukul-mukulkan pengeras suara pada telapak tangannya dengan kesal.
“Nah,” Maki mengecek jam tangannya, “karena sudah jam Sembilan lewat saatnya kita mulai permainannya. Silahkan ambil nomor pasangan dan batu di sini,” Maki menyodorkan kantung plastik.
“….” Menunggu gilirannya mengambil nomor undian pasangan, pandangan Yoshiki tidak bisa teralihkan pada Hana yang sedari tadi terus terfokus pada konsol gamenya.
Inilah yang paling ia tidak sukai. Berpasangan berdasarkan undian. Ia jadi tidak bisa seenaknya sendiri. Karena Hana adalah pengecualian dalam sihirnya, maka mustahil ia bisa mengatur agar mendapat nomor yang sama dengan Hana supaya ia berpasangan dengan Hana. Ia hanya bisa mengandalkan keberuntungan sekarang.
Akhirnya gilirannya tiba. Setelah mendapat satu dari banyak kertas yang terlipat Yoshiki segera menarik tangannya. Dilihatnya Hana juga sedang membuka nomor undiannya. Apa dirinya harus memohon kepada Tuhan supaya menjadi satu tim dengan Hana? Dengan raut wajah dongkol Yoshiki membuka kertasnya.
Angka 11.
“Rayumi kau dapat berapa?”
“5!”
Yoshiki ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya sekarang.
“Aku juga 5,” seorang pemuda berambut hitam cepak mendekati Hana dengan menunjukkan kertasnya.
“Kalau begitu mohon bantuannya nant Wataru Taiga-kun!” Hana tersenyum lebar.
Seketika aura kelam seperti menyelimuti Yoshiki.
“K-Kuroto-kun, dapat nomor 11?” Namun beberapa detik kemudian Yoshiki teralihkan oleh suara seorang gadis di belakang.
“Hn…”
Itu Riko Juuji. Menatapnya dengan wajah setengah memerah.
“Aku juga nomor 11. Mohon bantuannya,” Juuji sedikit membungkukkan badannya.
“YOSHIKI-KUN~~!”
BRUK
Tanpa ada persiapan Hana bergelayut manja pada punggung Yoshiki.
“Hn, ada apa?” Yoshiki kesal. Bukan kesal pada Hana. Tapi kesal pada undian konyol ini! Kenapa dia tidak bisa satu tim dengan Hana!? Kenapa Hana harus satu tim dengan seorang pria culun!?
“Yoshiki-kun dapat nomor berapa?” Seolah-olah tidak memiliki beban, Hana terus memamerkan senyum lima jarinya.
“11.”
“Oh.” Seketika Hana turun dari gelayutannya, “tidak setim. Aku dapat nomor 5.”
‘Aku tahu itu!’ Teriak Yoshiki dalam hati, kesal.
“Yoshiki-kun dengan siapa? Ng?” Baru saja Hana menyelesaikan pertanyaannya, ia mendapati salah satu teman sekelasnya yang pemalu berdiri di belakang Yoshiki, “Riko-chan! Ah, jangan-jangan?”
“Uhm!” Riko mengangguk malu-malu, “m-maaf Rayumi, aku tidak bermaksud mendekati Kuroto-kun, hanya saja nomor kami sama.”
“Tenang tenang! Aku tahu aku tahu!” Hana tersenyum lebar.
“….” Yoshiki menatap Hana dongkol.
Apa-apaan itu? Hana tidak peduli sama sekali dengannya? Padahal Yoshiki sangat kesal dan iri pada Wataru Taiga karena bisa setim dengan Hana, kekasihnya, tapi kenapa Hana biasa-biasa saja melihat dirinya setim dengan perempuan lain?
Yoshiki benar-benar bad mood.
Sabtu, 23 Februari 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar