Kamis, 25 September 2014

Yami no Ai [Chapter 66]

Chap 66

Sampai akhirnya para siswi berteriak histeris dan melaporkan pada seorang guru dan perkelahian mendadak itu terhenti.
Efeknya, kedua siswa tampan itu digiring ke ruang konseling. Atas beberapa saksi akhirnya Sasano di skors selama 1 hari.

Saat keduanya keluar dari ruang konseling Hana terlihat sedang berlari lalu menerjang-- Sasano. Memeluknya dengan erat.
"Sano-kun kau tidak apa? Kau kena hukuman?" Hana menatap Sasano khawatir.
Bisa bayangkan perasaan Yoshiki yg tengah menatap Hana--istrinya--tengah memeluk pria lain, ya walaupun itu 'onii-chan'nya... Itu tetap terasa sesak. Yoshiki memalingkan wajahnya dan pergi dengan memegangi memar di wajahnya.
"tidak apa, skors 1 hari tidak menyusahkan kok." Sasano mengacak rambut Hana.
"selain itu," wajah Sasano berubah serius. "Jangan kau dekati lagi Kuroto itu! Dia menyakitimu kan? Dia melakukan apa saja padamu?"
"eh?" Hana menatap Sasano bingung.
"matamu sembam. Lalu terdengar kabar kau dan Kuroto putus. Apa benar kalian putus?"
Hana menunduk "benar. Tak kusangka kabar itu tersebar dengan cepat, padahal aku hanya memberitahu Yui kemarin"
"Si sialan itu! Aku akan menghajarnya lagi!" Sasano geram.
"Hentikan Sano-kun, membunuhnya pun tak akan mengubah apapun!" sergah Hana.
"hhh" Sano kembali mengelus rambut Hana pelan. "kau masih tetap imouto-ku yang dulu..."

Dikelas Hana tidak bisa henti-hentinya menoleh ke arah Yoshiki. Pipi Yoshiki yang dihiasai bekas lembam di kedua bagian nampak membuat Hana tersiksa. Ia sepenuhnya tau Yoshiki tetap menjaga bekas lembam itu agar tidak menarik pehatian jika lembam itu cepat sembuh.
Mungkin karena hari pertama, jam sekolah diundurkan. Karena hanya berisi pengarahan-pengarahan untuk kedepannya saja.
Hana melihat bangku Yoshiki yg sudah kosong hanya bisa menghela nafas. Ia berjalan menuju kantin, membelu beberapa es batu, menuju ruag PKK mengambil kain-kain bersih bekas praktik menjahit lalu menuju atap.

Saat membuka pintu atap sekolah Hana menatap punggung seseorang dari sana. Punggung orang yang sangat ia kenal--dan ia cintai. Yoshiki Kuroto.
Darimana Hana tau Yoshiki disini? karena Hana sudah hafal tempat favorit Yoshiki adalah atap.
Hana berjalan perlahan mendekat ke arah Yoshiki.
"Kenapa kau kemari?" suara dingin Yoshiki menghentikan gerakan Hana sesaat.
"maaf" guman Hana dan berjalan mendekat.
Yoshiki membalikan tubuhnya menghadap Hana. Bekas lembam di wajahnya sudah hilang. Sebagai gantinya di mulutnya terselip sebuah benda bergulung. Rokok.
Hana yang melihat itu terdiam lagi.
"oh sudah sembuh. Baiklah maaf mengganggu--" Hana berbalik badan. Belum sampai sembilan puluh derajat Hana terdiam dan kembali ke posisi semula. Menatap rokok Yoshiki curiga.
"Bau ini" Hana menarik rokok Yoshiki dan mencium asapnya.
"Ekstasi!" seru Hana.
"Hn"
"Kenapa kau menggunakan benda ini Yoshiki-san!?" teriak Hana geram.
"apa pedulimu?" tanya Yoshiki hambar.
Hana melempar benda itu jauh.
"Kau sudah gila menggunakan ekstasi di lingkungan sekolah?"

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.